Berita Foto Hiburan

“Johnny Got His Gun” Kembali ke Layar dengan Pesan Antiperang dari Dalton Trumbo

“Johnny Got His Gun” Kembali ke Layar dengan Pesan Antiperang dari Dalton Trumbo

Johnny Got His Gun. | Dokumentasi

Johnny Got His Gun. | Dokumentasi

SETELAH lebih dari lima dekade sejak perilisannya, film antimiliterisme Johnny Got His Gun (1971) karya Dalton Trumbo kembali tayang di bioskop-bioskop. Karya ini, yang memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes pada tahun 1971, tetap relevan dengan pesan kuatnya yang mengkritik keras kengerian perang.

Film ini menceritakan kisah Johnny, seorang tentara muda yang hidupnya hancur akibat Perang Dunia I, di mana ia terperangkap dalam tubuh yang hancur total, namun pikirannya masih hidup dan aktif.

Cerita Radikal di Bawah Selimut Rumah Sakit

Film ini, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama yang ditulis oleh Trumbo pada tahun 1939, menyajikan perjalanan emosional dan psikologis seorang tentara bernama Johnny. Setelah terluka parah oleh ledakan, Johnny kehilangan semua indranya–penglihatan, pendengaran, bicara, dan penciuman.

Selain itu, lengan dan kakinya diamputasi. Tubuhnya yang tidak lengkap membuatnya dianggap oleh para dokter sebagai “objek studi medis”, tetapi yang tidak disadari adalah bahwa Johnny masih memiliki pikiran yang aktif di dalam tubuhnya.

Dalam film ini, suara hati Johnny ditampilkan melalui narasi, menggambarkan kecemasan batinnya yang mendalam. Ketika pertama kali sadar, pikirannya langsung teringat kekasihnya, Kareen, yang ia tinggalkan ketika pergi ke medan perang.

Ia terperangkap dalam kegelapan dan mencoba memahami apa yang terjadi pada tubuhnya. Trumbo berhasil menggambarkan isolasi dan penderitaan emosional Johnny dengan cara yang sangat kuat dan menyentuh.

Pesan Menggugah

LeMonde mengutip bahwa film ini “menggambarkan dengan radikal penderitaan seorang tentara yang hancur akibat perang, sebuah peringatan tentang dampak dahsyat konflik bersenjata terhadap kemanusiaan.”

Lebih dari sekadar cerita pribadi seorang tentara, Johnny Got His Gun mengajukan pertanyaan yang lebih besar tentang perang itu sendiri–apakah layak untuk bertarung demi negara, ketika hasilnya adalah kehancuran total baik fisik maupun mental bagi para prajurit yang terlibat.

Film ini juga menyoroti bagaimana institusi medis dan militer mencoba memanfaatkan tubuh Johnny sebagai subjek studi tanpa memikirkan nilai kemanusiaannya. Hal ini mempertegas kritik Trumbo terhadap dehumanisasi yang sering kali terjadi dalam perang dan bagaimana para tentara diperlakukan bukan sebagai manusia, melainkan sebagai alat perang yang dapat dibuang.

Kritik dan Apresiasi

LeMonde menyatakan bahwa “Dalton Trumbo berhasil membawa pesan antimiliterisme dengan bentuk yang radikal dan mengganggu.”

Film ini memang berani dalam penyajiannya, dengan sebagian besar adegan yang hanya menampilkan tubuh Johnny yang terbaring di bawah selimut rumah sakit.

Pendekatan visual yang minimalis ini justru memperkuat emosi yang ingin disampaikan, namun bagi sebagian penonton, gaya naratif yang lambat dan introspektif ini bisa terasa menantang.

Film ini tetap menjadi karya klasik yang terus dikenang karena pesannya yang mendalam meskipun bisa dianggap terlalu berat dan suram bagi beberapa orang. Namun, bagi mereka yang tertarik pada kritik sosial dan pesan antiperang, Johnny Got His Gun adalah film yang relevan untuk ditonton kembali, terutama dalam konteks dunia yang masih dilanda konflik bersenjata. [Maura Asikin]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda