Eka Arinda
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Eka Arinda, mahasiswa Pendidikan Ekonomi Universitas Lampung (Unila), berhasil mengharumkan nama kampus setelah meraih medali emas pada ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-38 melalui tim PKM-VGK dengan inovasi berjudul Gambling Activity Tracing Engine (GATE) System.
Kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan di Universitas Hasanuddin, Makassar, berlangsung pada 23–28 November 2025.
Ketertarikan Eka pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan riset sudah muncul sejak masih menjadi mahasiswa baru.
Ia mengaku sering mendengar cerita dari kakak tingkat tentang pengalaman mereka mengikuti PKM dan bagaimana program tersebut membuka banyak kesempatan bagi mahasiswa untuk berinovasi.
“Kayaknya seru deh kalau bisa ikut juga,” ujarnya hari ini kepada wartalampung.id
Menurut dia, ide yang berawal dari obrolan ringan itu bisa diolah menjadi sebuah solusi bahkan inovasi yang bermanfaat bagi banyak orang.
Tidak hanya itu, Eka ingin menambah pengalaman belajar di luar teori kelas melalui proses riset, diskusi, dan kegiatan lapangan yang ditawarkan oleh PKM.
Eka memulai perjalanan PKM pada tahun 2023, bersama dua rekannya sesama mahasiswa Pendidikan Ekonomi: Aulia Rafly Lubis dan Muhammad Ghinau Tofadillah.
Pada tahun itu, mereka menyusun proposal pertama yang berfokus pada isu antikorupsi dengan nama program HiCo, meski pada saat itu belum berhasil lolos pendanaan.
Tidak menyerah, pada tahun 2024 mereka kembali mengajukan proposal dengan ide yang sama, namun kali ini memperkuat tim dengan menghadirkan dua anggota dari disiplin ilmu lain, yaitu Belia Nabila Putri dari bidang hukum dan Zaka Kurnia Rahman dari bidang teknologi.
Penambahan anggota lintas keilmuan ini membuat penelitian mereka semakin kaya dan kokoh dari segi konsep.
Seleksi PKM di Universitas Lampung ditempuh melalui beberapa tahap. Mulai dari penyusunan proposal, seleksi tingkat fakultas, hingga naik ke tingkat universitas.
Setelah dinyatakan lolos, tim memperoleh akun untuk mengunggah proposal ke Simbelmawa untuk dinilai di tingkat nasional.
Setelah berhasil lolos pendanaan, barulah program dijalankan sesuai dengan proposal dan RAB yang disetujui, selama kurang lebih 3–4 bulan.
Setelahnya, tim wajib mengikuti PKP-2, yaitu presentasi laporan kemajuan yang dilakukan secara daring. Tahap ini menjadi salah satu penentu kelolosan menuju Pimnas.
Setelah dinyatakan lolos, tim mulai memasuki persiapan intensif untuk berkompetisi di Pimnas ke-38 di Makassar.
Menurut Eka, tantangan terbesar dalam proses ini adalah menyatukan jadwal seluruh anggota tim yang berasal dari fakultas berbeda.
“Karena kami berasal dari fakultas yang berbeda-beda, ritme perkuliahan dan kesibukan kami juga nggak sama” tuturnya
Meskipun demikian, Eka bersyukur karena timnya tetap dapat menyelesaikan seluruh proses hingga tahap akhir.
“Kami belajar untuk saling mengerti, berbagi peran, dan akhirnya bisa kompak sampai tahap akhir” katanya. [Nathania Shakira]

Tinggalkan Komentar Anda