Bandar Lampung

Dua Siswa MAN 1 Bandar Lampung Rampungkan Novel ”Satu Raga Satu Bunga”

Dua Siswa MAN 1 Bandar Lampung Rampungkan Novel ”Satu Raga Satu Bunga”

Zulfa Aulia Rahmah dan Muhammad Fazlee Mawla

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Butuh satu tahun penuh bagi dua siswa MAN 1 Bandar Lampung, Zulfa Auliya Rahmah dan Muhammad Fazlee Mawla, menuntaskan novel kolaborasi mereka berjudul Satu Raga Satu Bunga.

Karya setebal lebih dari 470 halaman ini lahir dari tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia, namun berkembang menjadi sebuah pengalaman berharga yang penuh perjuangan, diskusi, dan kreativitas.

Awalnya, Fazlee menulis novel ini seorang diri. Namun, ide ceritanya sempat terhenti di tengah jalan.

Kebuntuan itu kemudian membawanya berkolaborasi dengan Zulfa yang membantu menyusun alur dan mengembangkan jalan cerita.

Dengan izin dari guru bahasa Indonesia, keduanya memutuskan menulis bersama.

Proses penulisan pun tak selalu mulus. Mereka kerap berbeda pandangan, Zulfa yang cenderung peka terhadap perasaan, sementara Fazlee lebih logis.

Perbedaan ini kadang memicu perdebatan, misalnya dalam menentukan konflik cerita. Namun, justru dari perbedaan itulah alur novel semakin matang.

Selama satu tahun, mereka membagi tugas penulisan per bab, berdiskusi di kelas, lewat grup chat, dan di luar sekolah, hingga mengerjakan revisi bersama.

Dukungan guru, teman, dan keluarga juga menjadi penyemangat. Bahkan, orang tua ikut membantu mempromosikan karya mereka yang sempat dicetak terbatas sebanyak 12-15 buku dan ada juga yang disimpan di perpustakaan sekolah.

Novel Satu Raga Satu Bunga sendiri mengisahkan pertemuan tokoh Adiwidia Nuraga dan Ayara Roseanna di sebuah kereta, yang kemudian membuka perjalanan hubungan unik mereka.

Dengan genre fiksi romantis bercampur unsur aksi, cerita ini terinspirasi dari pengalaman, bacaan, hingga kisah nyata di sekitar penulis.

Meski sudah rampung, Zulfa dan Fazlee mengaku novel ini masih perlu revisi agar lebih rapi.

Mereka juga bercita-cita menerbitkannya secara luas di masa depan.

“Targetnya nanti ada revisi total, supaya lebih matang. Ke depan kami ingin karya ini benar-benar bisa dibaca lebih banyak orang,” ujar mereka.

Pengalaman ini juga memperkuat minat keduanya dalam dunia kepenulisan.

Zulfa yang sejak SD sudah terbiasa menulis puisi dan cerita bersambung di media sosial, serta Fazlee yang berawal dari menulis karya ilmiah dan esai, kini sama-sama mantap untuk terus berkarya.

Novel setebal sekitar 470 halaman dengan 23 bab itu bukan sekadar tugas sekolah, melainkan bukti bahwa kolaborasi, kegigihan, dan cinta membaca dapat melahirkan karya nyata. [Dandy HR]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda