Berita Foto Nusantara

Dua Puluh Menit Menuju Cendana

Dua Puluh Menit Menuju Cendana

Soeharto

Soeharto. | Repro dari Tirto.id

Bekerja sebagai sopir di Rumah Sakit Pusat Pertamina sejak 1996, Sabarto Tarigan tak pernah menduga akan ketiban sampur, tugas yang tak pernah dibayangkan dan tak bisa ditolak.

Dia mesti mengemudikan mobil jenazah yang membawa jasad mantan Presiden Soeharto.

“Saya waswas kalau ada apa-apa dengan mobil ini di tengah jalan,” kata pria 37 tahun itu saat ditemui Tempo di RSPP kemarin petang.

Saat jarum jam menunjukkan pukul 14.46 WIB, mobil bernomor polisi B-154-VA itu berangkat menuju Jalan Cendana, kediaman keluarga Soeharto.

Keluar melalui pintu kiri rumah sakit, mobil Sabarto didahului oleh 5 motor voorrijder dan satu jip polisi militer.

Melaju dengan kecepatan 50-60 kilometer per jam, mobil jenazah itu diikuti sederet mobil pengiring, termasuk mobil yang ditumpangi mantan Menteri Sekretaris Negara Moerdiono.

Dari rumah sakit di Jalan Kyai Maja, mobil Sabarto menyusuri Jalan Sisingamangaraja, Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, Bundaran Hotel Indonesia, Jalan Imam Bonjol, Taman Suropati, Jalan Teuku Umar, dan berakhir di Jalan Cendana. Perjalanan itu memakan waktu 20 menit.

Sepanjang perjalanan, banyak warga yang melambaikan tangan.

Bahkan ada yang melempar bunga di Al-Ahzar,” kata Sabarto.

Dia bercerita, mendapat sambutan seperti itu, Siti Hutami Endang Andiningsih alias Mamiek Soeharto, yang duduk di samping kemudi, menangkupkan tangan.

“Mungkin menghaturkan terima kasih kepada masyarakat,” katanya.

Lewat kaca spion dalam, Sabarto sesekali melihat ke belakang. Di dalam mobil, Mbak Tutut (Siti Hardijanti Rukmana) dan Titiek Soeharto (Siti Hediarti) terlihat mendampingi jasad Soeharto.

Selain itu, ada 4 perawat pria dari Unit Emergency RSPP. Tutut dan Titek memegang buku kecil dan membaca doa. Tapi Subarto tak tahu buku apa itu.

“Mungkin itu surat Yasin,” kata penganut Protestan itu.

Tak ada isak tangis dan air mata.

Pukul 15.06 WIB, mobil Sabarto sampai di Cendana. Setelah semua urusan beres, mobil pun balik kandang. Kali ini Sabarto jalan sendirian.

Tak ada lagi voorrijder yang membukakan jalan, juga iring-iringan mobil di belakang. Ia cuma butuh waktu 15 menit sampai RSPP.

“Tanpa pengawalan, kan, saya bisa mengatur kecepatan sendiri,” katanya.

Tugas khusus Sabarto selesai sudah. Ia tak lagi waswas karena memang tak terjadi apa-apa dengan mobil selama menuju Cendana.

“Saya tak menyangka akan mengantar jenazah Pak Harto,” ujarnya.

[Tulisan ini diketik dari feature buatan dua wartawan Koran Tempo pada Tempo edisi 28 Januari 2008, sehari setelah Soeharto wafat. Diketik untuk pembelajaran jurnalisme]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda