Kuliah tamu
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Sebagai realisasi nyata untuk mendorong program studi unggul di level internasional, Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) sukses menyelenggarakan kuliah kolaboratif internasional pada mata kuliah Production Orale (Berbicara).
Kuliah yang dilaksanakan pada semester genap ini menghadirkan dosen penutur asli (native speaker) berkebangsaan Prancis dari Naresuan University, Thailand, yaitu Jean-Philippe Babu.
Kuliah kolaboratif internasional ini direncanakan akan berlangsung selama kurang lebih 5 pertemuan hingga menjelang ujian akhir semester (UAS), di mana saat ini perkuliahan telah berjalan sebanyak 3 pertemuan.
Dosen pengampu mata kuliah, Setia Rini,mengungkapkan rasa bahagianya atas antusiasme mahasiswa yang luar biasa.
Kehadiran dosen natif ini menjadi kesempatan emas bagi prodi untuk semakin dikenal dan menunjukkan kualitasnya di tingkat internasional.
Langkah ini juga menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk memiliki potensi yang jauh lebih banyak melalui interaksi global, dengan dukungan sepenuhnya dari pihak fakultas.
Setia mengatakan, Ini adalah peluang besar untuk memperluas jejaring di tingkat internasional agar prodi kita makin dikenal.
Hubungan kerja sama ini bersifat berkelanjutan dan ke depan sudah ada kesepakatan nota kesepahaman.
”Saya juga akan mendapatkan kesempatan mengajar di sana pada semester depan,” ujar Setia.
Tantangan utama dalam pelaksanaan kuliah online adalah ketika jaringan internet atau koneksi Wi-Fi tidak stabil. Namun, tantangan tersebut berhasil diatasi karena perkuliahan jarak jauh ini dirancang secara adaptif.
Kuliah kolaboratif internasional ini tidak hanya memanfaatkan platform Zoom Meeting, melainkan juga mengombinasikannya dengan platform interaktif seperti miro.com.
Melalui platform Miro tersebut, dosen dan mahasiswa tetap dapat berkomunikasi secara real-time. Mahasiswa bisa langsung aktif berkolaborasi dan mengisi materi bersama di papan virtual, sehingga proses belajar tetap berjalan interaktif.
Kehadiran penutur asli memberikan suntikan motivasi sekaligus tantangan besar bagi para mahasiswa angkatan 2024 yang mengikuti kelas tersebut.
Zaki Al Farizi, mahasiswa, mengaku perasaannya campur aduk antara gugup, senang, dan bangga karena mendapat kejutan bisa berinteraksi langsung dengan native speaker.
“Mendengar pelafalan asli, intonasi alami, dan cara mereka berkomunikasi secara langsung memberikan perspektif baru yang tidak bisa didapat hanya dari buku atau rekaman audio. Ini adalah jembatan antara teori dan praktik nyata yang sangat dibutuhkan oleh mahasiswa bahasa,” kata Zaki.
Mahasiswa lainnya, Ira Alfina Putri, menambahkan bahwa kesabaran Jean-Philippe dalam mengoreksi pelafalan membuat suasana kelas yang awalnya tegang menjadi cair.
“Tangan udah keringat duluan takut ditunjuk. Tapi lama-lama suasananya cair kok, apalagi setiap ada yang jawab pasti Jean bilang ‘tres bien’ dan beliau mengajar dengan sangat oke serta detail,” tuturnya.
Sementara itu, Michelle Sasha Sidabalok menggarisbawahi pentingnya dukungan emosional dari dosen pendamping dan teman-teman sekelas dalam mendongkrak kepercayaan dirinya selama sesi tanya jawab berlangsung.
Amra Calista juga menyoroti tantangan terbesar dalam menangkap aksen asli Prancis yang berbicara dengan tempo natural.
“Kesulitan terbesar yang saya rasakan adalah ketika dosen natif berbicara dengan kecepatan dan aksen yang alami. Telinga kita yang masih terbiasa dengan bahasa Prancis ‘kelas’ kadang merasa kesulitan menangkap maksudnya secara langsung, sehingga harus ekstra fokus agar tidak ketinggalan,” ungkap Amra.
Di tengah rasa gugup yang melanda seisi kelas, Timotius Widiyanto tampil sebagai mahasiswa yang paling menonjol dan berani merespons pertanyaan dosen natif secara spontan.
Keberanian Timotius yang diketahui mempelajari bahasa Prancis secara otodidak tersebut menuai kekaguman dan menjadi pemantik motivasi bagi rekan-rekan seangkatannya untuk tidak takut membuat kesalahan dalam mencoba.
Di akhir sesi wawancara, baik dosen maupun mahasiswa sepakat bahwa kemampuan Production Orale merupakan kompetensi utama yang krusial bagi calon pendidik bahasa Prancis agar dapat berkomunikasi di dunia internasional.
Setia berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas internasional ini seoptimal mungkin dan tidak takut untuk mencoba.
Senada dengan dosennya, Ira Alfina Putri menutup dengan pesan motivasi yang kuat bagi rekan-rekan mahasiswa lainnya.
“Jangan tunggu sempurna dulu baru mau ngomong. Kesempurnaan itu lahir dari keberanian untuk memulai. Salah itu manusiawi, diam itu yang rugi. Parlez, parlez, et parlez encore! (Bicaralah, bicaralah, dan bicaralah lagi!)”. [Putu Suati Kartika Dewi]

Tinggalkan Komentar Anda