Nusantara

Damar Partisipasi Diskusi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kespro, Pekon Sukabanjar Pesisir Barat Jadi Sorotan

Damar Partisipasi Diskusi Dampak Perubahan Iklim terhadap Kespro, Pekon Sukabanjar Pesisir Barat Jadi Sorotan

Diskusi daring Permampu

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Perubahan iklim kini bukan sekadar isu lingkungan. Dampaknya terasa langsung dalam kehidupan sosial, ekonomi, bahkan kesehatan manusia.

Salah satu dampak paling serius adalah terhadap kesehatan seksual dan reproduksi perempuan, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan dan kelompok marginal.

Menyadari urgensi ini, Perkumpulan Damar sebagai salah satu anggota Konsorsium Permampu turut berpartisipasi dalam Diskusi Kritis bertema “Dampak Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Seksual dan Reproduksi (Kespro) Perempuan, khususnya Perempuan Perdesaan dan Perempuan Marjinal”, Jumat, 29 Agustus 2025.

Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Kesehatan Seksual Sedunia (4 September) dan Hari Aborsi Aman Sedunia (28 September) ini, akan berlangsung secara hibrida, dengan lokasi luring di Hotel Santika Palembang untuk perwakilan WCC Palembang dan daring melalui aplikasi Zoom Meeting yang dapat diakses oleh jejaring anggota di delapan provinsi di Sumatera.

Diskusi akan difasilitasi oleh peneliti senior Lokahita–Pusat Penelitian Ekologi dan Geospasial Dian Afriyanie, beserta tim fasilitator yang berpengalaman dalam isu kesehatan seksual dan reproduksi.

Kegiatan ini bertujuan untuk menggugah kesadaran kolektif bahwa perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga persoalan hak asasi manusia, khususnya hak perempuan atas tubuh dan kesehatannya.

Perubahan iklim telah memunculkan tantangan baru bagi perempuan, terutama mereka yang tinggal di wilayah pedesaan dan kelompok marjinal. Kekeringan, banjir, gagal panen, dan bencana alam lainnya tidak hanya mengancam sumber penghidupan, tetapi juga memperburuk kerentanan perempuan terhadap masalah kesehatan reproduksi.

Akses terhadap layanan kesehatan, termasuk pelayanan kehamilan, persalinan, dan kontrasepsi, menjadi terhambat. Situasi krisis seringkali meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender, perkawinan anak, hingga tingginya angka kehamilan yang tidak diinginkan.

Pekon Sukabanjar, Potret Risiko yang Harus Diwaspadai

Hasil kajian di Pekon Sukabanjar, Kecamatan Ngambur, Kabupaten Pesisir Barat, menunjukkan bagaimana perubahan iklim meningkatkan risiko terhadap perempuan dan anak.

Terletak di wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia dan dikelilingi perbukitan, wilayah ini rentan menghadapi banjir, longsor, kekeringan, serta cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani kebun di daerah perbukitan. Ketika hujan deras membuat jalan tanah menuju kebun tak bisa dilalui, pendapatan keluarga menurun drastis.

Perempuan harus menghadapi beban ganda: kehilangan pemasukan rumah tangga, mengelola kebutuhan keluarga saat bencana, dan memenuhi kebutuhan air serta pangan ketika pasokan terganggu.

Kerentanan anak-anak juga meningkat. Banjir dan longsor menghambat sekolah bahkan menyebabkan libur panjang. Risiko penyakit pasca-banjir seperti diare dan ISPA meningkat, dan trauma psikologis akibat bencana menjadi ancaman serius bagi tumbuh kembang mereka.

Dari sisi keterpaparan, banyak pemukiman berada di bantaran sungai kecil dan dataran rendah yang rawan tergenang. Infrastruktur vital seperti sekolah dasar dan jalan desa juga sering terdampak hujan lebat. Keterbatasan sarana kesehatan desa memperbesar risiko bagi ibu hamil dan anak saat darurat.

Semua ini menunjukkan, kombinasi hazard (banjir, longsor, kekeringan), kerentanan sosial-ekonomi, dan keterpaparan geografis menciptakan risiko tinggi bagi perempuan dan anak di Pekon Sukabanjar: hilangnya aset rumah tangga, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, berkurangnya akses pendidikan, meningkatnya beban kerja perempuan, hingga risiko perkawinan anak akibat tekanan ekonomi.

Sebagai organisasi yang konsisten mengadvokasi hak-hak perempuan di Lampung, Perkumpulan Damar menilai isu perubahan iklim perlu didekati dengan perspektif keadilan gender.

Perubahan iklim bukan isu netral gender. Jika perempuan tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, risiko yang mereka hadapi akan semakin besar.

Diskusi kritis yang diinisiasi Konsorsium Permampu ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengidentifikasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.

Selain itu juga untuk menguatkan kapasitas komunitas dan jejaring organisasi dalam advokasi kebijakan responsif gender, sekaligus menggugah kesadaran bahwa melawan krisis iklim adalah bagian dari perjuangan hak perempuan. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda