Opini

Berlari Tanpa Harus Terengah-engah: Catatan Gen Z yang Bertumbuh di Lampung

Berlari Tanpa Harus Terengah-engah: Catatan Gen Z yang Bertumbuh di Lampung

Wanda Ardillasari

​Wanda Ardillasari (Mahasiswi Pendidikan Matematika STKIP PGRI Bandar Lampung)

​Nama saya Wanda Ardillasari, seorang mahasiswi semester akhir jurusan Pendidikan Matematika di STKIP PGRI Bandar Lampung. Sejak kecil, hari-hari saya selalu akrab dengan ruang berekspresi, panggung seni, dan dinamika organisasi. tempat di mana saya banyak belajar tentang keselarasan hidup, kedisiplinan, dan mental pejuang.

Namun, seperti kebanyakan Gen Z yang sedang berada di gerbang kelulusan, belakangan ini lini masa media sosial saya terasa begitu riuh dan mengintimidasi. Di sela-sela waktu menyelesaikan skripsi, algoritma digital kerap menyuguhkan potret kehidupan anak muda di kota metropolitan seperti Jakarta dengan ritme kerja mereka yang serbacepat (hustle culture).

Seketika muncul pertanyaan reflektif: Apakah bertumbuh di Lampung berarti kita tertinggal? Apakah kesuksesan hanya milik mereka yang menembus hiruk-pikuk ibu kota?

​Dilema antara mengejar ambisi metropolitan atau bertahan di daerah berkembang sesungguhnya bukan hal baru bagi saya. Jauh sebelum kesibukan semester akhir ini, saya pernah berada di persimpangan jalan yang cukup berat ketika dinyatakan lolos seleksi sebagai pramugari.

Sebuah profesi yang menawarkan mobilitas tinggi, kehidupan dinamis, dan gengsi besar di kota besar. Namun, setelah merenung, hati saya memilih untuk menetap, memprioritaskan pendidikan tinggi, dan melanjutkan studi di Lampung.

​Keputusan itu membawa saya pada pemahaman baru tentang arti “bertumbuh”. Menjadi anak muda di Lampung memberikan perspektif yang unik.

Kota ini memang sedang bersolek dengan hadirnya tempat-tempat modern dan geliat komunitas kreatif, tetapi Lampung tetap mempertahankan esensinya: sebuah tempat dengan ritme hidup yang cenderung lebih santai, hangat, dan membumi.

​Di sini, saya membuktikan bahwa mengejar prestasi tidak harus dilakukan dengan terengah-engah hingga kehilangan jati diri. Lewat keluwesan seni yang saya asah sejak kecil hingga riuhnya arena kompetisi yang membentuk mentalitas saya, panggung pembuktian itu nyatanya bisa kita ciptakan sendiri di tanah tapis ini.

Keberhasilan menyeimbangkan dunia seni, organisasi, dan akademik. bahkan hingga membawa tim mengungguli universitas besar menjadi bukti bahwa kualitas kita tidak ditentukan oleh di mana kita tinggal, melainkan sejauh mana kita mau berdedikasi.

​Menolak untuk ikut-ikutan arus FOMO (fear of missing out) ala kota besar bukan berarti kita kehilangan arah. Menikmati sore yang tenang di Bandar Lampung setelah lelah beraktivitas adalah kemewahan tersendiri yang belum tentu bisa dinikmati oleh mereka yang terjebak macetnya ibu kota.

​Kita, generasi muda di Lampung, berada di posisi yang istimewa. Kita memiliki energi untuk berlari mengejar mimpi setinggi-tingginya, tetapi kita juga punya ruang untuk berhenti sejenak, bernapas, dan memijak bumi tanpa harus kehilangan ketenangan jiwa.

Lampung adalah tempat terbaik bagi saya, dan kita semua, untuk bertumbuh dengan kecepatan dan waktu kita sendiri. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda