Bandar Lampung

Bahas Medsos Teman atau Tekanan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Sasha Sidabalok: Jangan Terjebak FOMO

Bahas Medsos Teman atau Tekanan, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Sasha Sidabalok: Jangan Terjebak FOMO

Michelle Sasha Sidabalok

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Fenomena takut ketinggalan tren atau fear of missing out (FOMO) kini makin sering bikin anak muda merasa cemas dan tertekan secara mental.

Kebiasaan membandingkan diri di media sosial menjadi salah satu pemicu utamanya.

Menanggapi hal tersebut, Michelle Sasha Sidabalok, mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila angkatan 2024 sekaligus juara 3 Duta GenRe Lampung 2025, membagikan pandangannya dalam live Instagram “Seraya Berbincang” bertajuk “Media Sosial: Teman atau Tekanan?”, Minggu (12/7/2026) sore.

Diwawancarai oleh Nurma Safira (Duta GenRe Unila 2026), Sasha menyoroti bagaimana media sosial sering kali salah diartikan oleh anak muda masa kini.

Sasha bilang, saat ini banyak anak muda yang mengukur pencapaian dan harga diri mereka cuma dari apa yang melintas di layar HP.

”FOMO itu bukan sekadar takut ketinggalan tren, tapi kecemasan karena merasa hidup orang lain jauh lebih maju dari kita,” tegas Sasha.

Sasha menjelaskan, kesalahan terbanyak anak muda adalah lupa bahwa media sosial hanyalah panggung kurasi—tempat orang-orang hanya memajang momen terbaik dan paling keren dari hidup mereka.

Kata Sasha, jangan pernah membandingkan behind-the-scenes hidup kita yang penuh proses dan capeknya perjuangan dengan highlight reel orang lain yang cuma dipajang bagian indahnya saja.

”Itu perbandingan yang enggak adil,” lanjutnya.

Agar medsos tidak jadi sumber beban mental, Sasha menyarankan anak muda untuk mengambil kendali penuh atas akun mereka.

Menurutnya, tidak perlu ragu untuk bersih-bersih linimasa.

“Jangan ragu buat mute atau unfollow akun-akun yang bikin cemas atau minder.”

Ia menambahkan, media sosial itu cuma alat.

”Kalau kita pakai dengan rasional untuk bangun koneksi dan belajar hal baru, dia bakal jadi teman. Tapi kalau dibiarkan ngatur emosi dan jalan hidup kita, dia bakal berubah jadi tekanan,” tutupnya. [Putu Suati Kartika Dewi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda