Bandar Lampung

Azis Maulana Kiai Matematika SMA Tunas Mekar Indonesia, Usung Asa lewat Angka

Azis Maulana Kiai Matematika SMA Tunas Mekar Indonesia, Usung Asa lewat Angka

Azis Maulana

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Tepat perayaan Hari Pahlawan, 10 November 1995, lahir Azis Maulana.

Kelak, ia menjadi seorang guru matematika. Ia tak hanya mengajarkan angka, tetapi juga nilai-nilai kehidupan yang menembus batas ruang kelas.

Bagi para muridnya di SMA Tunas Mekar Indonesia (TMI) Bandar Lampung, ia adalah bukti bahwa ilmu adalah cahaya. Menjadi guru adalah cara untuk menyalakannya bagi orang lain.

Langkah pertama dalam perjalanannya dimulai dari SDN Banjar Sakti, tempat ia mengenal abjad dan angka. Ia melanjutkan perjalanan itu ke MTs Mathlaul Anwar, menggali lebih dalam makna ilmu hingga akhirnya tiba di MAN 1 Way Kanan.

Ia tak berhenti sampai di sana. Semangat belajar membawanya ke Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.

Ia memutuskan untuk menyelami dunia matematika. Bagi banyak orang, matematika mungkin adalah labirin penuh teka-teki. Walakin, bagi Azis, ia adalah seni yang menuntut konsentrasi dan dedikasi.

Hidup Azis bukan sekadar cerita angka dan persamaan. Sebelum menjadi bagian dari TMI, ia mendirikan sebuah bimbingan belajar bahasa Inggris.

Ia menanamkan benih semangat kepada para siswa. Hingga akhirnya, tiga tahun lalu, ia melangkah masuk ke TMI.

Buat Azis, berkhidmat di SMA TMI bukan sekadar bekerja, melainkan untuk menghidupkan prinsip hidupnya.

”Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” kata dia kemarin.

Prinsip itu bukan hanya kata-kata, melainkan fondasi bagi setiap keputusan yang ia ambil.

Namun, puncak dari kisahnya mungkin terletak pada satu peristiwa saat ia terpilih dalam program beasiswa pelatihan guru matematika se-Asia Tenggara yang diselenggarakan oleh SEAMEO.

Perjalanan itu tak dimulai dengan mudah. Dari 60 kandidat yang berasal dari berbagai negara ASEAN, ia melalui seleksi administrasi, wawancara, hingga ujian TOEFL.

Ketekunannya membawanya menjadi bagian dari 30 peserta terpilih. Pelatihan bertema “Lesson Study” itu berlangsung selama 16 hari, dengan jadwal padat dari pukul 07.30 hingga 17.00.

Namun, segala kelelahan itu terbayar ketika ia masuk dalam tujuh besar. Ini sebuah pencapaian yang tak hanya membanggakan dirinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Di tengah rutinitasnya, ia tetap menyimpan kerendahan hati. Ia mengakui, dulu bercita-cita menjadi seorang kiai, sosok yang dihormati dan menjadi penuntun masyarakat.

Meski jalan hidup membawanya menjadi seorang guru, tujuan itu tak pernah berubah: menjadi penerang bagi sesama. Sebut saja ia ”kiai matematika”.

Ketika ditanya tentang rencana ke depan, ia menjawab dengan tenang belum berniat meninggalkan TMI. Baginya, setiap langkah di tempat itu adalah bagian dari panggilannya untuk mendidik dan menginspirasi.

Kisah Azis adalah simfoni harapan dan perjuangan. Dari ruang kelas sederhana hingga panggung internasional, ia membuktikan bahwa dedikasi pada pendidikan dapat membuka pintu ke dunia yang lebih luas.

Ia bukan hanya guru matematika. Ia adalah penjaga mimpi, penyemai ilmu, dan penerang jalan bagi generasi masa depan.

Dan dalam setiap langkahnya, ia terus menjejakkan asa, menyadarkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar angka di papan tulis, melainkan cahaya yang membimbing kita menuju masa depan yang lebih baik.

Salam takzim untukmu, Kiai Matematika. [Meylani Sakhi/Jessica/Echa/Putri/Widya/SMA TMI Bandar Lampung]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda