Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila. | Mirliana
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di lingkungan kampus, Unit Penunjang Akademik (UPA) Bahasa Universitas Lampung (Unila) menggelar program Pelatihan Bahasa Asing. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (25/9/2026) di UPA Bahasa Unila ini diikuti oleh para mahasiswa dari berbagai angkatan dan fakultas di Unila.
Salah satu peserta yang berkesempatan mengikuti program ini adalah Azzahra Nabila, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis angkatan 2025. Nabila membagikan pengalamannya dalam memilih bahasa Jerman dari tiga opsi bahasa yang ditawarkan oleh UPA Bahasa, yaitu Jerman, Jepang, dan Prancis.
“Alasan saya memilih bahasa Jerman karena sangat tertarik dengan bahasa-bahasa Eropa. Selain sehari-hari belajar bahasa Prancis, bahasa Jerman menjadi tantangan untuk menguasai bahasa yang belum pernah saya pelajari sebelumnya,” ujar Nabila.
Pelatihan yang dirancang selama tujuh hari dengan total durasi minimal 11 kali pertemuan (2 jam per sesi) ini membekali peserta dengan materi dasar bahasa sehari-hari. Mulai dari ragam sapaan, perkenalan diri (introduction), hingga materi konjugasi kata kerja.
Dari proses pembelajaran tersebut, Nabila menemukan berbagai keunikan serta kemiripan antara bahasa Prancis dan bahasa Jerman.
“Sangat seru bisa belajar bersama lintas fakultas dan angkatan. Ternyata konjugasi dan pelafalan bahasa Jerman lebih mudah dipahami, bahkan ada beberapa kosakata yang mirip dengan bahasa Prancis,” jelasnya.
Nabila mengaku sangat bersyukur bisa menjadi salah satu peserta terpilih, mengingat kuota pendaftaran yang disediakan UPA Bahasa cukup terbatas untuk tiap program studi.
Meski kini mendapatkan wawasan dan keterampilan baru dalam bahasa Jerman, mahasiswi angkatan 2025 ini menegaskan komitmennya untuk tetap memprioritaskan akademiknya di Prodi Pendidikan Bahasa Prancis.
“Pelatihan ini sangat bermanfaat. Ke depan, saya akan tetap fokus pada akademik Pendidikan Bahasa Prancis sambil mengasah kemampuan non-akademik dan mempertahankan ilmu bahasa Jerman yang sudah didapat,” tutup Nabila. [Mirliana Amira]

Tinggalkan Komentar Anda