Oleh Artie Arditha Rachman (Dosen Program Studi Akuntansi Bisnis Digital, Politeknik Negeri Lampung)
Ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) mulai mampu membantu menyusun laporan, menganalisis data, mendeteksi anomali transaksi, hingga merangkum informasi keuangan, pertanyaan tentang masa depan profesi akuntan menjadi semakin relevan. Apakah AI akan menggantikan akuntan, atau justru mendorong profesi ini naik kelas?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar wacana. World Economic Forum (WEF) dalam Future of Jobs Report 2025 memproyeksikan bahwa selama 2025–2030, penciptaan dan pergeseran pekerjaan akibat transformasi struktural pasar kerja akan mencapai sekitar 22 persen dari pekerjaan saat ini. Transformasi tersebut diperkirakan menciptakan 170 juta pekerjaan baru, tetapi sekaligus menggeser 92 juta pekerjaan, sehingga secara neto terdapat tambahan 78 juta pekerjaan.
Yang menarik bagi dunia akuntansi, WEF memasukkan accountants and auditors dalam kelompok pekerjaan yang diproyeksikan mengalami penurunan terbesar secara absolut. Sementara itu, accounting, bookkeeping and payroll clerks bahkan termasuk dalam kelompok pekerjaan yang diproyeksikan mengalami penurunan paling cepat.
Namun, angka tersebut tidak semestinya dibaca sebagai ramalan bahwa profesi akuntan akan hilang. Justru yang berubah adalah isi pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan. WEF memperkirakan 39 persen keterampilan yang dimiliki pekerja saat ini akan berubah atau menjadi usang pada periode 2025–2030. Pada saat yang sama, AI and big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi menjadi kelompok keterampilan yang tumbuh paling cepat kebutuhannya.
Fenomena ini menjadi tantangan serius bagi perguruan tinggi. Selama ini pendidikan akuntansi relatif kuat membekali mahasiswa dengan pencatatan transaksi, penyusunan laporan keuangan, perpajakan, audit, dan standar akuntansi. Kompetensi tersebut tetap penting.
Namun, pekerjaan yang bersifat rutin dan berulang semakin mudah diotomatisasi. Akuntan masa depan dituntut tidak hanya mampu menghasilkan angka, tetapi juga mampu menjelaskan makna angka, membaca pola data, menilai risiko, memahami model bisnis, dan memberikan rekomendasi bagi pengambilan keputusan.
Bagi lulusan perguruan tinggi, tantangannya juga semakin kompleks. BPS melalui Sakernas Februari 2026 mencatat angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, dengan 147,67 juta orang bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,68 persen, atau sekitar 7,24 juta orang masih menganggur. Meskipun TPT turun 0,08 poin persentase dibanding Februari 2025, besarnya angkatan kerja menunjukkan bahwa persaingan di pasar kerja tetap membutuhkan perhatian serius.
Karena itu, gelar sarjana saja semakin tidak cukup. Lulusan akuntansi perlu mengombinasikan kompetensi akuntansi dengan teknologi digital, analitik data, AI, komunikasi, berpikir kritis, dan pemahaman bisnis. Tantangannya bukan sekadar menjadi pengguna AI, tetapi menjadi profesional yang mampu menggunakan AI secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Tanggung jawab ini tidak boleh dibebankan kepada lulusan semata. Perguruan tinggi harus memperbarui kurikulum dan metode pembelajaran dengan mengintegrasikan analitik data, sistem informasi, otomatisasi, cloud accounting, keamanan data, dan AI. Pada saat yang sama, kemampuan berpikir kritis, etika, komunikasi, dan pengambilan keputusan harus semakin diperkuat.
Industri juga harus menjadi bagian dari solusi. Perusahaan perlu lebih aktif bekerja sama dengan perguruan tinggi melalui magang, case-based learning, proyek nyata, kuliah praktisi, dan program upskilling. Hal ini sejalan dengan temuan WEF bahwa 77 persen pemberi kerja berencana melakukan reskilling dan upskilling tenaga kerja agar mampu bekerja lebih baik bersama AI.
Organisasi profesi dan pemerintah pun memiliki peran penting dalam memperbarui standar kompetensi, pendidikan profesi, sertifikasi, serta menyediakan ekosistem reskilling dan upskilling. Dengan demikian, transformasi teknologi tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi menjadi agenda bersama.
Pada akhirnya, masa depan profesi akuntan tidak ditentukan oleh seberapa canggih AI, tetapi oleh seberapa cepat manusia beradaptasi terhadapnya. AI mungkin dapat menghitung lebih cepat, mengolah data lebih banyak, dan mengotomatisasi pekerjaan rutin, tetapi integritas, penilaian profesional, pemahaman bisnis, dan keberanian mengambil keputusan tetap membutuhkan manusia.
Karena itu, pilihan kita bukan antara akuntan atau AI, melainkan antara akuntan yang tertinggal dan akuntan yang mampu memanfaatkan AI untuk menciptakan nilai yang lebih besar. Jika perguruan tinggi menyiapkan kompetensi, industri membuka ruang pembelajaran, organisasi profesi menjaga standar dan etika, pemerintah menciptakan ekosistem yang adaptif, dan para akuntan terus belajar, maka AI bukanlah akhir dari profesi akuntan, melainkan momentum strategis untuk membawa akuntan naik kelas. []

Tinggalkan Komentar Anda