Zoom meeting BIPA. | Tangkapan layar Dandy HR
Wartalampung.id, Maluku Utara – Dalam kegiatan Bimtek program BIPA berbasis SKKNI Pengajar BIPA secara zoom meeting. Agus Soehardjono Wakil Ketua APPBIPA Pusat, menyoroti pentingnya kemampuan manajerial, komunikasi, dan diplomasi bagi pengajar BIPA yang bekerja di berbagai konteks internasional.
Agus menjelaskan, pengajar BIPA tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai duta budaya dan fasilitator komunikasi lintas bangsa.
Menurut Agus, prinsip manajerial bagi pengajar BIPA mencakup kemampuan menjalin hubungan kerja yang harmonis dengan lembaga penyelenggara, rekan pengajar, pemelajar asing, dan mitra eksternal seperti universitas luar negeri.
Hubungan tersebut harus dibangun berdasarkan prinsip kemitraan, komunikasi terbuka, dan penghormatan terhadap nilai budaya masing-masing pihak.
Ia menegaskan, pengajar BIPA berada di lingkungan kerja yang multikultural, sehingga kemampuan diplomasi dan penyelesaian konflik menjadi kunci profesionalitas.
“Setiap pengajar BIPA harus mampu menyeimbangkan antara kepentingan lembaga, pemelajar, dan mitra luar negeri dengan cara musyawarah dan komunikasi yang etis,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Agus juga mencontohkan bagaimana perbedaan budaya dapat memicu kesalahpahaman di kelas.
Misalnya, pemelajar asing dari Tiongkok yang dianggap terlalu langsung dalam bertanya oleh pengajar Indonesia.
Dalam situasi seperti itu, pengajar perlu menerapkan prinsip komunikasi antarbudaya, dengan menjelaskan norma kesopanan dalam konteks Indonesia tanpa menyinggung perasaan pemelajar.
Selain itu, Agus menekankan pentingnya penerapan fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi manajerial dalam setiap program BIPA.
“Pengajar harus terlibat aktif dalam penyusunan materi, evaluasi hasil belajar, serta pelaporan kegiatan secara profesional dan transparan,” jelasnya.
Agus juga menyoroti pentingnya membangun kolaborasi antarpengajar agar tercipta lingkungan kerja yang sehat dan produktif.
Kolaborasi tersebut mencakup berbagi praktik baik dalam penyusunan materi dan metode pengajaran, sekaligus menghindari persaingan tidak sehat di antara rekan sejawat.
Agus berharap dengan penguasaan prinsip manajerial dan diplomasi yang kuat, pengajar BIPA diharapkan mampu menjadi representasi profesionalisme Indonesia di kancah internasional, menciptakan citra positif, serta memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai bahasa global. [Dandy HR]

Tinggalkan Komentar Anda