Pelatihan pembuatan keramik oleh Ruang Keramik Studio dan Kafe Tuan Jana. | Arif Hutasuhut

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Baskoro Wicaksono adalah pemuda asal Kota Metro yang juga lulusan Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia Bandung.
Ia mendapatkan pembelajaran yang banyak dari lingkungan kampusnya dalam hal berkarya membuat keramik yang unik dan apik. Berinisiatif membuat sebuah wadah untuk mayarakat luas yang ingin berkenalan dengan kriya seni keramik. Baskoro mendirikan Galeri Seni yang bernama Ruang Keramik Studio di Jalan Mawar Nomor 16B, Mulyojati, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro.
Baskoro mengatakan, sebenarnya di galerinya masih ada keterbatasan dalam hal ruangan yang belum terlalu besar. Ini mungkin hanya bisa menampung maksimal 6 orang untuk ikut kelas.
Baskoro berupaya agar kerajinan seni keramik lebih dikenal masyarakat Lampung. Dari situ muncullah ide membuat kolaborasi bersama kafe-kafe. Itulah yang dilakukan oleh Ruang Keramik Studio. Tujuannya, agar bisa lebih mendapatkan ruangan yang cukup juga mendapatkan partisipan yang lebih.
“Kami saling mendukung untuk branding dari kedua pihak dalam kegiatan yang positif dari kalaborasi ini,” ujarnya kepada wartalampung.id.
Pottery Class Collaboration yang ia adakan sebelumnya sudah sering dilaksanakan di Kota Metro dan Bandar Lampung. Selama masa pandemi ini, Ruang Keramik Studio membuka kembali Pottery Class Collaboration. Kali ini berkolaborasi spesial bersama dengan Kafe Tuan Jana.
“Semua kalangan diperbolehkan mengikuti kelas ini terkecuali untuk anak-anak minimal berumur 6 tahun,” ujar Baskoro di Kafe Tuan Jana, Minggu lalu, (6/6/2021).
Tuan Jana sangat terbuka untuk suatu kalaborasi yang positif. Apalagi dalam hal berkarya seperti kolaborasi bersama Ruang Keramik Studio mengadakan kelas kalaborasi Pottery Class Collaboration.
“Kami senang melihat kesibukan dalam proses pembuatan keramik yang unik-unik. Prtisipan juga sangat menikmati kelasnya dalam belajar membuat sebuah seni keramik,” kata Farid, pendiri Tuan Jana.
Ruang Keramik Studio ke depannya ingin mencapai kafe-kafe lainnya yang ada di Bandar Lampung untuk lebih sering membuat kolaborasi.
“Partisipan kami selama ini 80 persen berasal dari Bandar Lampung,” ujar Baskoro.
Baskoro menambahkan, ia juga ingin mengajak kawan-kawan lainnya karena masih banyak orang-orang kreatif di Metro seperti seni tekstil, makrame, ukir kayu, dan lilin aroma terapi.
“Saya mau ajak mereka kolaborasi. Jadi selain seni keramik, nanti bakalan ada acara bersama mereka pada bulan Agustus. Tapi ini masih tentatif,” kata Baskoro.
Vera dan Nabila, dua mahasiswi Arsitektur Itera, mewakili dari partisipan lainnya yang mengikuti Pottery Class Callaboration, mengatakan, kegiatan yang mereka ikuti sebagai self healing.
Bagi mereka, di sini menemukan kebahagian tersendiri, merasa sangat terhibur saat mengikuti kelas.
“Ini kelas kedua yang kami ikuti,” ujar Vera diamini Nabila.
Mereka berujar, alasan ikut Pottery Class awalnya diajak kawan. Karena penasaran dengan seni keramik akhirnya ikutan.
“Kesan yang dirasakan sangat asik dan seru banget. Terus pengen ikut lagi sebelum balik ke Bekasi,” ungkap Farhan, peserta lainnya.
Harapan dari partisipan untuk Pottery Class Collaboration agar lebih sering mengadakan acara serupa ini.
“Kalau bisa kasih kami member. Semoga Ruang Keramik Studio bisa lebih mempercepat dalam pemanggangan hasil keramiknya jadi kami bisa cepat lihat hasil keramik yang kami buat,” tutup Nabila. [Arif Hutasuhut]
