Tim mahasiswa yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTIK bersama dosen. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kabar membanggakan datang dari Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer (FTIK) Universitas Teknokrat Indonesia (UTI).
Tim mahasiswa yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTIK bersama dosen pendamping berhasil lolos pendanaan Program Aksara Mahasiswa skema Aksara Sirkular, bagian dari program Mahasiswa Berdampak yang digelar Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tahun 2026. Program ini memperoleh pendanaan sebesar Rp111 juta.
Program bertajuk “Penguatan Ekonomi Sirkular Berbasis Masyarakat melalui Inovasi Smart Composter dan Paving Block Berbahan Plastik untuk Mengatasi Kebiasaan Pembuangan Sampah ke Sungai” ini akan dilaksanakan di Desa Khepong Jaya, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Lampung.
Desa tersebut dipilih karena sungai yang mengalir di wilayahnya masih kerap dipenuhi sampah rumah tangga yang dibuang tanpa pemilahan.
Keberhasilan ini tidak datang tiba-tiba. Sebelum mengusulkan Program Aksara, BEM FTIK bersama himpunan mahasiswa program studi telah lebih dulu menjalankan kegiatan bina desa di Khepong Jaya pada Juli 2026, menyasar kantor desa, sekolah, hingga karang taruna.
Dari interaksi itulah persoalan sampah sungai teridentifikasi sebagai masalah paling mendesak bagi warga.
Persoalan ini sejalan dengan kondisi nasional. Pada 2024, timbulan sampah nasional mencapai 33,86 juta ton dan lebih dari 40 persen di antaranya belum terkelola, dengan sampah rumah tangga sebagai penyumbang terbesar.
Di Khepong Jaya, tingkat pemilahan sampah dari rumah tangga diperkirakan baru sekitar 15–20 persen, sementara kapasitas pengolahan sampah di desa masih nol.
Solusi yang ditawarkan tim UTI adalah membangun unit usaha ekonomi sirkular di BUMDes Khepong Jaya. Tiga alat terintegrasi akan diserahkan dan dioperasikan oleh BUMDes, yakni Composter Organik berbasis Internet of Things (IoT) yang mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos, composter anorganik yang mencacah sampah plastik menjadi serpihan, serta mesin press yang mencetak serpihan plastik tersebut menjadi paving block berbentuk T.
Teknologi yang diterapkan bukan sekadar purwarupa. Composter Organik merupakan hasil riset dosen UTI yang telah memperoleh Paten Sederhana nomor IDS000011362 dan diimplementasikan di CV Sapi Sport sejak November 2024, sedangkan Composter Anorganik telah terdaftar sebagai permohonan paten sederhana. Adapun formula campuran paving block mengacu pada riset “Tekno Plasting” mahasiswa Program Studi Teknik Sipil UTI.
Untuk mendukung tata kelola, tim juga membangun dashboard pemantauan IoT dan aplikasi pencatatan keuangan BUMDes berbasis web.
Ketua tim dosen, Dr.Sc. Dedi Darwis, S.Kom., M.Kom., CDSP., yang juga Dekan FTIK UTI, menyampaikan bahwa program ini dirancang agar sampah tidak lagi dipandang sebagai beban.
“Kami ingin sampah yang selama ini mencemari sungai berubah menjadi sumber pendapatan desa. Teknologinya sudah teruji, dan yang terpenting, BUMDes nantinya mampu mengoperasikannya secara mandiri setelah program selesai,” ujarnya.
Selain BUMDes, program ini menggandeng Karang Taruna Khepong Jaya sebagai penggerak perubahan perilaku warga. Tim mengadaptasi game edukasi 3D “Rakasa” karya mahasiswa UTI menjadi Game Edukasi Kebersihan Sungai dengan latar cerita Desa Khepong Jaya.
Pemain diajak menyelesaikan misi mengatasi pencemaran sungai sekaligus belajar memilah sampah organik dan anorganik. Karang Taruna juga akan membentuk Satgas Lingkungan serta mengelola titik kumpul (drop point) sampah terpilah.
Ketua BEM FTIK UTI, Ni Made Wiki Purwaningsih, yang menjadi ketua tim mahasiswa, mengaku bangga sekaligus tertantang.
“Ini bukti bahwa mahasiswa bisa memberi dampak nyata. Kami tidak hanya datang membawa alat, tetapi juga ingin mengajak pemuda desa menjadi motor gerakan berhenti membuang sampah ke sungai,” tuturnya.
Program ini melibatkan 25 mahasiswa dari enam program studi, yaitu Informatika, Teknik Komputer, Sistem Informasi, Teknologi Informasi, Teknik Sipil, dan Akuntansi. Setiap mahasiswa menjalankan minimal 160 Jam Kerja Efektif Mahasiswa (JKEM) dan berpeluang memperoleh rekognisi hingga 3 SKS.
Mahasiswa didampingi tiga dosen lintas bidang, yakni Dr.Sc. Dedi Darwis (Teknologi Informasi), Arniza Fitri, S.T., M.Sc., Ph.D. (Teknik Sipil), dan Dr. Tri Darma Rosmala Sari, M.S.Ak. (Ekonomi Akuntansi).
Target yang dipasang pun terukur: BUMDes mampu mengolah minimal 150 kg sampah organik menjadi kompos dan 80 kg sampah plastik menjadi bahan baku paving block setiap bulan, dengan penjualan awal produk sirkular minimal Rp3 juta.
Di sisi warga, partisipasi pemilahan sampah ditargetkan naik dari 15–20 persen menjadi minimal 40 persen rumah tangga di wilayah cakupan drop point.
Program ini juga selaras dengan pembangunan TPS 3R yang tengah dilakukan Pemerintah Kabupaten Pesawaran, serta mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan agenda Asta Cita di bidang ekonomi kerakyatan dan ekonomi hijau.
Dengan lolosnya program ini, Universitas Teknokrat Indonesia kembali menegaskan komitmennya menghadirkan riset dan inovasi kampus yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. []

Tinggalkan Komentar Anda