Warsito. | Mirliana
Wartalampung.id, Bandar Lampung — Kebudayaan Indonesia di kawasan Eropa sejauh ini masih didominasi oleh seni Jawa dan Bali.
Melihat potensi besar yang belum tergarap, Kemenko PMK mendorong mahasiswa Universitas Lampung (Unila) untuk memanfaatkan penguasaan bahasa Prancis sebagai sarana mendiplomasikan budaya Lampung ke kancah internasional.
Pesan tersebut disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kemenko PMK, Warsito, dalam diskusi virtual bersama mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Unila, dalam gelaran Francetival 2026 hari ketiga, Rabu (23/9/2026).
Diskusi ini selaras dengan misi Asta Cita kedelapan pemerintah terkait penguatan kebudayaan dan interaksi sosial.
Membagikan pengalamannya saat bertugas sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Paris, Warsito menceritakan bagaimana seni Gamelan berhasil masuk dan diajarkan sebagai mata kuliah di kampus Prancis.
“Saat itu ada upaya menerjemahkan istilah gamelan ke bahasa Prancis, tetapi saya tegaskan bahwa nama ‘Gamelan’ tidak boleh diubah. Gamelan memiliki keunikan frekuensi dan harmoni instrumen yang tidak bisa digantikan oleh satu alat musik barat. Dari situlah mereka paham nilai filosofisnya,” cerita Warsito.
Keberhasilan diplomasi budaya tersebut ingin direplikasi untuk kekayaan seni dan musik Lampung.
Menurut Warsito, mahasiswa Bahasa Prancis Unila memiliki posisi yang sangat strategis karena memegang kunci komunikasi dan pemahaman budaya Eropa.
“Ini kesempatan emas bagi mahasiswa Unila. Mulai dari angkatan 2026 ini, persiapkan kompetensi seni budaya Lampung sekaligus kemahiran berbahasa Prancis. Peluang untuk membawa pertunjukan budaya ke Eropa sangat terbuka, termasuk melalui dukungan perusahaan-perusahaan Prancis,” pungkasnya. [Mirliana Amira]

Tinggalkan Komentar Anda