Komoditas telur. | Dokumentasi

Oleh Febiyana Qomariyah (Statistisi Madya BPS Provinsi Lampung)
Berbelanja ke pasar tradisional di Sabtu pagi merupakan aktivitas rutin mingguan yang biasa saya lakukan. Maklum, ibu rumah tangga yang juga merangkap sebagai pekerja seperti saya, tidak ada hari lain yang bisa dipakai untuk berbelanja kebutuhan dapur selain di akhir pekan.
Menyetok kebutuhan dapur menjadi pilihan yang harus saya ambil untuk menjamin ketersediaan bahan makanan di rumah selama satu minggu ke depan. Berbagai kebutuhan dapur mulai dari ikan segar, ayam segar, minyak goreng, sayur, buah, berbagai bumbu dapur dan tak lupa telur ayam ras saya usahakan agar bisa dipenuhi sebagai bahan makanan keluarga selama satu minggu.
Komoditi telur ayam ras kerap menjadi perhatian saya dan menjadi salah satu lauk favorit untuk disajikan di meja makan. Praktis, simpel untuk diolah dan sudah pasti disukai oleh seluruh anggota keluarga menjadikan telur ayam ras sebagai komoditi yang tidak pernah tertinggal untuk dibeli tiap akhir pekan.
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2020 Provinsi Lampung mencatat persentase rata-rata pengeluaran per kapita sebulan kelompok telur dan susu menempati urutan keenam dari dua puluh kelompok pengeluaran di tahun 2020 (3,01 persen). Rata-rata konsumsi telur ayam ras masyarakat Lampung tahun 2020 sebanyak 9,41 butir/kapita/bulan.
Sepanjang Maret 2021, Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) mencatat harga telur ayam ras di Lampung selalu turun dan mencapai titik terendah per tanggal 30 Maret 2021 dengan harga Rp21.000 per kg. Turunnya harga telur ayam ras periode Maret 2021 juga sejalan dengan data inflasi yang telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung.
Merujuk data BPS Lampung, terjadi deflasi 0,20 persen di Lampung pada Maret 2021 dan komoditi telur ayam ras memberikan andil -0,026 persen terhadap deflasi tersebut.
Sayangnya, harga telur ayam ras di Lampung per tanggal 1 April 2021 mulai mengalami kenaikan menjadi Rp21.700 per kg. Kenaikan ini terus terjadi hingga pertengahan April 2021 dan mencapai titik tertinggi pada tanggal 16 April 2021 dengan harga Rp24.700 per kg. Mengutip data PIHPS, harga telur ayam ras mulai pertengahan hingga akhir April 2021 kembali turun menjadi Rp23.250 per kg per tanggal 30 April 2021.
BPS Lampung kembali mencatat terjadi deflasi 0,17 persen pada April 2021. Telur ayam ras memberikan memberikan andil 0,013 persen terhadap deflasi April 2021. Artinya, walaupun Lampung terjadi deflasi, telur ayam ras justru memberikan andil positif pada deflasi Lampung.
Hal ini mengindikasikan bahwa sebenarnya terjadi kenaikan harga telur ayam ras selama April 2021, namun karena sumbangan kenaikan harganya tidak sebesar komoditi lain yang mengalami penurunan harga, maka kenaikan harga telur ayam ras tidak memberikan dampak siginfikan terhadap perubahan harga secara umum di Lampung.
Perubahan harga telur ayam ras yang sangat cepat pada Maret-April 2021 ini merupakan hal yang wajar. Karena telur ayam ras termasuk dalam salah satu kelompok yang lazim disebut volatile goods. Penghitungan inflasi yang dilakukan oleh BPS RI, dapat di-disagregasi menjadi inflasi inti, inflasi administrated price, dan inflasi volatile goods.
Inflasi inti adalah komponen inflasi yang pergerakannya cenderung tetap (persisten). Inflasi administered prices adalah inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya diatur pemerintah.
Inflasi volatile goods adalah inflasi barang/jasa yang perkembangan harganya sangat bergejolak. Inflasi volatile goods didominasi bahan makanan, sehingga sering disebut juga sebagai volatile foods. Saat terjadi gejolak harga, kelompok volatile foods ini sering menjadi penyumbang utama inflasi baik di level nasional maupun di level propinsi.
Komoditi lain yang juga termasuk dalam volatile foods adalah aneka cabai, aneka bawang, sayur, daging ayam ras, beras dan aneka produk pangan lainnya.
Perubahan harga yang terjadi pada volatile foods dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional. Namun, gejolak harga pangan pada volatile food juga dipengaruhi oleh panjang pendeknya rantai distribusi perdagangan barang dari produsen hingga konsumen akhir. Seberapa efisien rantai distribusi telur ayam ras di Lampung?
BPS Lampung setiap tahun melakukan Survei Pola Distribusi (POLDIS) untuk melihat rantai distribusi perdagangan komoditas pangan seperti telur ayam ras. Survei POLDIS terkini yang melihat rantai distribusi perdagangan telur ayam ras dilakukan tahun 2019 dengan menganalisis kegiatan yang terjadi selama tahun 2018.
Secara umum, rantai utama distribusi perdagangan telur ayam ras di Lampung menurut Survei POLDIS yaitu, produsen-agen-pedagang eceran-konsumen. Pasokan telur ayam ras di Lampung tidak hanya diperoleh dari dalam provinsi, namun juga dari provinsi lain yaitu Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta.
Pembelian telur ayam ras dari Sulawesi Selatan sebanyak 9,09 persen dan pembelian dari DKI Jakarta sebanyak 1,12 persen. Lampung juga memasok telur ayam ras ke provinsi lain, seperti Jawa Tengah. Penjualan telur ayam ras ke Jawa Tengah sebanyak 0,05 persen. Karena telur ayam ras di Lampung juga dibeli dari provinsi lain, maka alternatif rantai distribusi terpanjang menjadi luar provinsi-distributor-agen-pedagang grosir-pedagang eceran- konsumen.
Rata-rata kenaikan harga telur ayam ras dari produsen ke konsumen di Lampung pada tahun 2018 sebesar 23,45 persen. Rantai distribusi perdagangan telur ayam ras di Lampung tidak terlalu panjang. Artinya pendistribusian telur ayam ras dari produsen ke ke konsumen sudah cukup efektif. Rata-rata kenaikan harga dari produsen ke konsumen pun masih tergolong kecil.
Ketentuan Permendag Nomor 7 Tahun 2020 tentang harga acuan pembelian di tingkat petani dan penjualan di konsumen untuk telur ayam ras adalah Rp19.000 sampai dengan Rp20.000 per kg untuk harga pembelian di petani, dan Rp24.000 per kg untuk harga penjualan di konsumen. Merujuk data PIHPS tersebut dapat dikatakan bahwa harga penjualan telur ayam ras masih tergolong wajar.
Kenaikan harga telur ayam ras hingga pertengahan April lalu disebabkan oleh tingginya permintaan komoditi ini baik di dalam Lampung ataupun di luar Lampung seperti Jawa Tengah. Kenaikan permintaan kemungkinan terjadi pada industri makanan ringan yang memproduksi makanan khas pengantar berbuka puasa selama Ramadan.
Namun, kekhawatiran akan naiknya harga telur ayam ras tetap menjadi perhatian bagi saya. Mengingat sebentar lagi kita akan menghadapi momen Idul Fitri. Biasanya terjadi gejolak harga pada beberapa komoditi yang termasuk volatile goods pada momen menjelang Lebaran. Sebagai ibu rumah tangga, saya tetap berharap agar pemerintah dapat mengendalikan harga konsumen telur ayam ras dan harga pangan lain untuk tetap stabil menjelang hari raya Idul Fitri yang akan datang. []
