PKKMB Universitas Teknokrat Indonesia. | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Universitas Teknokrat Indonesia, perguruan tinggi swasta terbaik di Lampung dan salah satu kampus terbaik di Indonesia versi nasional dan internasional, kembali menghadirkan pembekalan karakter kebangsaan dalam rangkaian Program Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026.
Bekerja sama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Lampung, Teknokrat menggelar kuliah umum bertema “Sosialisasi Antinarkoba, Antikorupsi, Antiterorisme dan Bijak Bermedia Sosial serta Membangun Budaya Antikorupsi: Dari Kesadaran, Integritas, hingga Tindakan Nyata”, yang diikuti ribuan mahasiswa baru di kampus Sang Juara.
Kegiatan ini merupakan komitmen Universitas Teknokrat Indonesia sebagai kampus terbaik dalam membangun generasi berintegritas, sehat, dan berkarakter, sejalan dengan visi Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., menyampaikan apresiasi atas kolaborasi strategis dengan Polda Lampung. Ia menegaskan bahwa sebagai kampus terbaik, Teknokrat tidak hanya unggul di bidang akademik dan teknologi, tetapi juga dalam pembinaan karakter.
“Sebagai kampus terbaik dan ASEAN’s Best Private University, Universitas Teknokrat Indonesia berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat integritasnya. Kuliah umum bersama Polda Lampung ini penting untuk membekali mahasiswa baru agar berani menolak narkoba, berani menolak korupsi, mencegah kekerasan, dan bijak dalam bermedia sosial. Inilah fondasi menjadi Sang Juara yang berkarakter,” ujar Dr. Mahathir.
Kuliah umum menghadirkan dua narasumber utama dari Polda Lampung. Materi antikorupsi disampaikan oleh Iptu Reza Prasetia, S.H., M.H., PS. Panit 1 Unit 3 Subdit Tipidkor Ditreskrimsus Polda Lampung.
Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa budaya antikorupsi harus dimulai dari diri sendiri, dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, dan dijaga bersama. Ia menguraikan bentuk-bentuk perilaku berisiko seperti suap, gratifikasi, konflik kepentingan, manipulasi data, hingga titip-menitip yang harus diwaspadai di lingkungan pendidikan.
Sementara materi antinarkoba disampaikan oleh Rizky Pujiantho, S.H., M.H., Kasubbag Minopsnal Ditresnarkoba Polda Lampung.
Ia memaparkan data yang menjadi perhatian serius: penyalahgunaan narkoba di Provinsi Lampung mencapai 89.046 orang, peringkat 3 se-Sumatera dan peringkat 8 se-Indonesia. Sepanjang tahun 2026, Polda Lampung dan jajaran telah mengungkap 1.083 kasus dengan 1.560 tersangka.
Barang bukti yang disita meliputi ganja 84,5 kg, sabu 479,8 kg, ekstasi 20.150 butir, T. Sintetis, happy water, hingga ribuan butir psikotropika dengan nilai ekonomis mencapai Rp 204,3 miliar dan menyelamatkan 732.232 jiwa.
Ia juga menjelaskan modus operandi sindikat yang semakin beragam, mulai dari disimpan dalam dashboard mobil, bawah bak mobil modifikasi, bagasi bus, tabung gas elpiji, mesin genset, toples sambal, hingga dikirim melalui truk kargo, towing, ambulans, dan jasa ekspedisi. Termasuk pengungkapan jaringan sindikat internasional Fredy Pratama dengan 408 kasus dan 884 tersangka.
Dalam sesi terpadu Ditreskrimum Polda Lampung, narasumber menekankan tiga tantangan utama yang harus dicegah di kampus:
1. Kekerasan: Cegah intimidasi, perundungan (bullying), kekerasan fisik, psikologis, seksual, dan digital.
2. Korupsi: Tolak suap, gratifikasi, dan penyalahgunaan kewenangan.
3. Narkotika: Bangun lingkungan tidak permisif dan dorong edukasi serta bantuan rehabilitasi.
Mahasiswa dibekali keterampilan praktis cara berkata “Tidak” dengan tegas, mengalihkan diri dari situasi berisiko, dan meminta bantuan melalui kanal resmi. Termasuk edukasi untuk tidak menerima titipan paket yang tidak jelas isinya yang menjadi modus baru peredaran narkoba.
“Prinsip utamanya adalah pencegahan lebih baik daripada penanganan. Setiap warga kampus memiliki peran. Berani menolak, berani peduli, dan berani bertindak,” tegas narasumber Polda Lampung.
Antusiasme ribuan mahasiswa baru Universitas Teknokrat Indonesia terlihat tinggi selama sesi diskusi, terutama saat pembahasan studi kasus bullying di grup kelas dan modus “titip barang” yang menyeret mahasiswa menjadi kurir narkoba tanpa sadar.
Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr. H.M. Nasrullah Yusuf, S.E., M.B.A., melalui Wakil Rektor menegaskan bahwa kuliah umum ini adalah bagian dari peran kampus terbaik dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs):
SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera – Melalui edukasi anti narkoba dan pencegahan penyalahgunaan zat adiktif untuk menyelamatkan generasi muda. Data 89 ribu penyalahguna di Lampung menjadi alarm untuk penguatan pencegahan berbasis kampus.
SDG 4: Pendidikan Berkualitas – Membangun pendidikan karakter yang mengintegrasikan literasi integritas, anti-kekerasan, dan etika digital.
SDG 16: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh – Memperkuat budaya anti korupsi, transparansi, akuntabilitas, dan kerja sama dengan aparat penegak hukum untuk menciptakan kampus yang aman, berintegritas, dan bebas dari kejahatan luar biasa.
Melalui kolaborasi dengan Polda Lampung, Universitas Teknokrat Indonesia sebagai kampus terbaik di Sumatera dengan dosen-dosen terbaik di bidangnya terus berkomitmen menjadi pelopor kampus berintegritas yang melahirkan lulusan berkarakter Sang Juara, siap membangun Indonesia Emas 2045.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia, Dr. H. Mahathir Muhammad, S.E., M.M., memberikan apresiasi atas acara ini.
Mahathir juga mengajak lulusan SMA kuliah di Teknokrat dengan mengakses spmb.teknokrat.ac.id. []

Tinggalkan Komentar Anda