Hiburan

Kisah Okta Daki Puncak Gunung Ratai: Hargai Proses di Ketinggian 1.682 MDPL

Kisah Okta Daki Puncak Gunung Ratai: Hargai Proses di Ketinggian 1.682 MDPL

Titi Okta Ain Nadhira

Wartalampung.id, Gunung Ratai – Bagi Titi Okta Ain Nadhira, pendakian adalah ruang untuk belajar tentang ketahanan diri, kekompakan, dan esensi dari menghargai sebuah proses perjalanan.

Gadis yang akrab disapa Okta ini baru saja membagikan kisah berkesannya saat sukses muncak di Gunung Ratai, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung, Minggu (23/8/2026) lalu.

Gunung yang menjulang setinggi 1.682 meter di atas permukaan laut (MDPL) tersebut menjadi saksi bisu perjuangan Okta bersama rekan-rekannya.

Okta menceritakan bahwa perjalanan menuju titik tertinggi Gunung Ratai bukanlah perkara mudah.

Jalur pendakian yang menanjak ditambah medan khas pegunungan Lampung yang menantang, sempat menguras energi dan fisiknya.

Rasa lelah yang mendera bahkan memaksa Okta untuk beberapa kali berhenti dan beristirahat di jalur pendakian.

Okta bilang, medannya cukup menantang dan rasa lelah membuat ia beberapa kali harus beristirahat.

Namun, rasa capek tersebut langsung terbayarkan ketika akhirnya bisa sampai di puncak dan melihat pemandangan dari ketinggian.

Bagi Okta, momen berdiri di puncak Gunung Ratai memberikan kepuasan yang luar biasa.

Gulungan awan dan hamparan alam Pesawaran yang hijau seolah menghapus semua peluh yang terkuras selama berjam-jam perjalanan.

Lebih dari sekadar menikmati keindahan panorama dari ketinggian, Okta mengaku mendapatkan banyak pelajaran hidup yang tidak ia temukan dalam aktivitas sehari-hari.

Berada di alam bebas mendidiknya untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh.

Kesan Okta selama muncak sangat menyenangkan dan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Saya merasa lebih menghargai proses, belajar untuk tetap bertahan ketika lelah, dan menikmati perjalanan bersama teman-teman,” tuturnya.

Okta juga menekankan pentingnya faktor kebersamaan selama pendakian. Menurutnya, puncak hanyalah bonus dari sebuah perjalanan.

Nilai tertinggi dari sebuah petualangan muncak justru terletak pada bagaimana cara menjaga kekompakan tim dan mengukir memori bersama.

“Bagi saya, mendaki bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang menikmati setiap proses perjalanan, menjaga kekompakan, dan menciptakan kenangan baru,” tambah Okta.

Pengalaman perdana yang manis di Gunung Ratai ini tampaknya menjadi pemantik api petualangan di dalam diri Okta.

Menutup kisahnya, Okta berharap perjalanan ini menjadi awal dari petualangan-petualangan besar selanjutnya di masa depan.

Ia mengaku sudah tidak sabar untuk kembali mengepak kerumul (tas gunung) dan menaklukkan atap-atap hijau lainnya di Lampung maupun di luar daerah.

“Semoga ke depannya saya bisa mencoba mendaki gunung-gunung lainnya,” pungkas Okta optimis. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda