Nusantara

Rudy Daftar Calon Rektor Unila: Ini Alasan Utamanya

Rudy Daftar Calon Rektor Unila: Ini Alasan Utamanya

Rudy

Wartalampung.id, Bandar Lampung— Guru besar hukum tata negara Universitas Lampung (Unila) Rudy resmi mendaftarkan diri sebagai calon rektor, Jumat, 28/8/2026.

Setelah menyerahkan dokumen persyaratan, berkas pendaftarannya dinyatakan lengkap dan selanjutnya memasuki tahapan proses administrasi serta verifikasi.

Dua pengacara terkenal, Farhat Abbas dan Elza Syarief, turut mendampingi Rudy.

“Alhamdulillah, dokumen kami sudah lengkap dan nanti akan melalui proses selanjutnya. Dalam proses administrasi ini mungkin masih ada satu yang belum, yaitu pemeriksaan kesehatan jasmani dan rohani,” ujar Rudy.

Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung itu menyampaikan sejumlah gagasan yang akan menjadi prioritas apabila dipercaya memimpin Unila.

Salah satunya adalah meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan dosen.

Menurutnya, institusi yang ingin memberikan dampak besar tidak akan dapat berkembang tanpa dukungan dan kinerja dosen yang kuat.

“Institusi yang berdampak tidak akan bisa tercapai tanpa adanya kinerja dari dosen. Karena itu, dosen harus diberikan insentif-insentif riset dan kenyamanan dalam melakukan pekerjaannya,” kata alumnus Kobe University, Jepang, itu.

Ia juga menyoroti pentingnya menciptakan lingkungan akademik yang kondusif sehingga dosen dapat lebih fokus menjalankan tugas utama, termasuk kegiatan pendidikan dan penelitian.

“Dosen harus nyaman. Dengan begitu saya kira akan tercipta iklim yang baik, terutama dalam konteks riset dan kegiatan akademik lainnya,” ujarnya.

Prioritas berikutnya adalah memperkuat internasionalisasi Unila. Rudy menilai kerja sama internasional harus diperluas, termasuk dengan mendatangkan peneliti maupun profesor asing untuk berkolaborasi dengan akademisi Unila.

Ia mencontohkan pengalaman di universitas lain yang telah mengembangkan program visiting professor, sehingga peneliti asing dapat berada di kampus dalam jangka waktu tertentu dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan akademik.

“Di sana ada banyak visiting profesor yang berada di universitas. Kemudian dilakukan kolaborasi riset, penulisan buku maupun artikel bersama, serta penelitian-penelitian yang berdampak,” jelasnya.

Menurutnya, Unila sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan kerja sama internasional, termasuk di bidang pertanian, teknik, kedokteran, energi, dan bidang lainnya.

Potensi tersebut, kata dia, harus dioptimalkan agar Unila semakin dikenal tidak hanya secara nasional, tetapi juga di tingkat internasional.

Rudy juga menekankan pentingnya membangun komunikasi yang lebih kuat dengan pemerintah pusat, khususnya dalam memperoleh dukungan hibah untuk pembangunan infrastruktur maupun pengembangan riset.

Menurutnya, sejumlah kebutuhan fasilitas akademik dan penelitian dapat didorong melalui kerja sama dengan kementerian serta pemanfaatan berbagai skema hibah pemerintah.

“Kita bisa melakukan komunikasi dengan kementerian, meminta hibah dan dukungan lainnya, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan proyek strategis nasional, ketahanan pangan dan berbagai program prioritas pemerintah,” katanya.

Ia menilai Unila memiliki potensi besar untuk menjadi pusat riset yang mendukung program ketahanan pangan, khususnya di Provinsi Lampung.

Selain itu, pengembangan Unila juga dinilai perlu mengangkat kekayaan budaya Lampung sebagai salah satu keunggulan akademik.

Menurut dia, Unila dapat mengembangkan pusat studi dan pusat riset budaya Lampung yang mampu menarik peneliti maupun akademisi dari luar negeri.

“Unila punya potensi itu. Bagaimana kita bisa mengoptimalkannya sehingga budaya Lampung juga menjadi salah satu keunggulan Unila,” ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai program tersebut akan disusun berdasarkan pengalaman kepemimpinannya serta pengalaman dalam membangun jejaring internasional.

Terkait kontestasi pemilihan Rektor Unila yang diikuti empat calon, Rudy menegaskan dirinya optimistis menjalani seluruh tahapan dengan baik.

Menurutnya, latar belakang fakultas bukan menjadi persoalan utama dalam kontestasi tersebut. Hal terpenting adalah gagasan, kompetensi, integritas, dan kemampuan masing-masing calon untuk membawa Unila menjadi lebih baik.

“Kita menjalani proses ini dengan baik. Ini adalah kontestasi pemilihan rektor. Para senator terdiri dari berbagai fakultas, sehingga kita akan fokus pada bagaimana gagasan dan kompetensi kita diuji dan dikompetisikan,” katanya.

Ia berharap proses tersebut dapat menghasilkan pemimpin terbaik bagi Unila.

Rudy menjelaskan, keputusannya maju sebagai calon rektor didorong oleh pengabdiannya yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade di lingkungan perguruan tinggi.

“Saya sudah mengabdi lebih dari 23 tahun. NIP saya tahun 2003. Saya juga sudah sampai pada jenjang yang cukup tinggi dan pernah memimpin sebagai wakil rektor,” ungkapnya.

Berbekal pengalaman tersebut, ia merasa sudah saatnya mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk memimpin Unila secara langsung.

“Sudah waktunya untuk totalitas dalam membangun Unila. Karena ketika menjadi nomor dua, tentu ada keterbatasan-keterbatasan,” ujarnya.

Rudy berharap seluruh proses pemilihan rektor berlangsung secara sehat, demokratis, dan mengedepankan integritas.

Ia juga berharap tidak terjadi serangan pribadi maupun praktik yang dapat mencederai proses pemilihan.

“Kami berharap semua calon menghargai dan menepati pakta integritas yang sudah kami tanda tangani,” tegasnya. [Sugiono]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda