Pengabdian dosen Unila
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Tim Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Pemanfaatan Digital Storytelling Berbasis Kearifan Lokal dan Pelatihan Nilai Sosial untuk Revitalisasi Anticyberbullying Generasi Alpha” di SD Negeri 4 Metro Timur, Kamis (13/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Universitas Lampung dan ditujukan kepada siswa kelas IV SD Negeri 4 Metro Timur, Lampung.
Program pengabdian dirancang sebagai upaya edukatif untuk meningkatkan pemahaman peserta didik mengenai bahaya perundungan, khususnya cyberbullying, serta membangun kesadaran untuk menciptakan interaksi sosial dan digital yang lebih aman, santun, dan bertanggung jawab.
Tim pengabdian diketuai oleh Jody Setya Hermawan dan anggota Yoga Fernando Rizqi, Destiani, Frida Destini, dan Ulfa Nurfitria Ardilla.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala SD Negeri 4 Metro Timur, Yasirrudin.
Dalam sambutannya, kepala sekolah menerima baik pelaksanaan program pengabdian tersebut sebagai salah satu bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah untuk memberikan edukasi kepada peserta didik mengenai persoalan sosial yang semakin berkembang seiring dengan penggunaan teknologi digital.
Pelaksanaan kegiatan terdiri atas beberapa rangkaian, yaitu pembukaan, sosialisasi mengenai perundungan dan cyberbullying, serta pengenalan media digital yang dikembangkan oleh tim pengabdian.
Kegiatan lainnya adalah diskusi interaktif bersama peserta didik, serta pemberian tes untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap materi yang telah diberikan.
Salah satu bagian utama kegiatan adalah pemanfaatan website anticyberbullying yang dikembangkan oleh tim pengabdian.
Melalui media tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk perilaku perundungan yang dapat terjadi, baik di lingkungan sekolah, maupun ruang digital.
Materi dikemas melalui pendekatan digital storytelling dengan mengintegrasikan kearifan lokal dan nilai-nilai sosial agar lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari peserta didik.
Pendekatan berbasis cerita dipilih karena karakteristik Generasi Alpha sangat dekat dengan perangkat digital dan konten visual.
Cerita dan situasi yang disajikan melalui media digital diharapkan tidak hanya membantu siswa mengenali bentuk-bentuk cyberbullying, tetapi juga mendorong mereka memahami dampak perilaku tersebut terhadap orang lain.
Selain memberikan pemahaman mengenai bentuk dan bahaya cyberbullying, tim pengabdian juga menekankan pentingnya penguatan nilai sosial dalam kehidupan peserta didik, seperti saling menghargai, empati, kepedulian, tanggung jawab, kesantunan, dan kemampuan menjaga perasaan orang lain.
Turut serta dalam pengabdian ini, mahasiswa PGSD Rahma Dwi Lestari, Ester Dameria Simanungkalit, Aisyah Dewi Shinta, dan Rahma Cahyaning Tias belajar secara langsung praktik bagaimana menumbuhkan sikap preventif siswa untuk menghindari cyberbullying.
Dalam sesi diskusi, siswa diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan merespons berbagai situasi yang berkaitan dengan perundungan.
Kegiatan tersebut bertujuan agar peserta didik tidak hanya menerima informasi secara satu arah, tetapi juga mampu melakukan refleksi terhadap perilaku yang mereka temui, baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun ketika menggunakan media digital.
Pelaksanaan program ini penting karena cyberbullying dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti memberikan komentar yang menyakitkan, mengejek melalui pesan digital, menyebarkan informasi yang mempermalukan orang lain, atau pun mengucilkan seseorang dalam interaksi daring.
Jodi, ketua tim, mengatakan, pendidikan mengenai keamanan dan etika berinteraksi di ruang digital perlu diberikan sejak dini.
Anak-anak, kata dia, tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi.
”Mereka juga harus memahami tanggung jawab sosial dan moral dalam berkomunikasi melalui teknologi tersebut,” pungkas Jodi. [Desti]

Tinggalkan Komentar Anda