Pramesti Maharani
Hari-Hari Bahagia (?)
Salwa Pramesti Maharani
bagiku
bahagia adalah sekaleng
khong guan isi biskuit
bukan benang-benang & jarum
bagiku
bahagia juga sekotak
es krim walls tiga rasa darimu
bukan ikan beku
hari ini
dedaunan basah disapu
hujan mengingatkanku
pada bibirmu di bibirku
sekarang
katakan padaku, bagaimana bisa
aku menjalani hari-hari bahagia
tanpa kau di sampingku?
Bandar Lampung, 1 Oktober 2025
Segelas Susu Sebelum Tidur
Salwa Pramesti Maharani
segelas susu sebelum tidur
manis di lidah bagai janji
yang kuhisap dari bibirmu
“desember datang,
aku pulang” ucapmu lirih
aku sedih
desember datang
kutanya, “pulangkah kau?”
“tidak, sayang….”
ah!
Bandar Lampung, 18 Desember 2025
Kopi Dingin
Salwa Pramesti Maharani
nnnngggggiiiiiikkkkkkk….
nnnnnggggggiiiiiiikkkkkkkk….
uap memekik lewat teko listrik
pemberian ibumu. kau tuang
airnya pada cangkir isi kopi & gula
sebuah telepon menggelitik HP-mu
lalu kau asyik bicara hingga tertidur
kopi itu kau abaikan, ia dingin kau buat
aku pernah jadi kopi yang hangatnya
menghangatkanmu. aku pernah jadi kopi
yang pahit-manisnya membasahi bibirmu
aku pernah jadi kopi
tapi kau abai….
Bandar Lampung, 11 Januari 2026
Ironi Jatuh Cinta 2
Salwa Pramesti Maharani
cinta datang lewat mana saja. bisa saja ia
datang lewat beberapa anak kucing yang
tiba-tiba duduk di pangkuanmu / hangatnya
mentari yang memeluk tubuh dinginmu /
secangkir kopi di malam hari yang membasahi
bibir penuh doa / air wudu yang menyapu
tangis di pipimu. cinta adalah hidup. meski
hidup kadang mati berkali-kali.
Bandar Lampung, 24 Februari 2026
Mataku—Mata Air
Salwa Pramesti Maharani
mataku—mata air
yang mengalir deras
ke kerah bajumu
sedang kau menjelma
kancing yang mengikatku
makin lama
basahnya membanjiri
lekuk tubuhmu
& setiap sudut
kota ini
Bandar Lampung, 7 Maret 2026
Tentang Penulis
Salwa Pramesti Maharani memiliki nama pena Salwa Myharani, lahir pada tahun 2002. la jatuh cinta terhadap bahasa, sastra, dan seni sejak SMA. Ia merupakan lulusan S-1 dan S-2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung.
Ia terlibat dalam berbagai event sastra, komunitas penulis, sekaligus bekerja sebagai tenaga pendidik Bahasa Indonesia.
Tulisannya dimuat di beberapa antologi bersama: Tula (2023), Secarik Suratku untuk Ayah (2023), Rajutan Puisi untuk Ibu (2023), Menjadi Penulis (2023), Kisah dan Asa Lewat Aksara (2023), Sepiring Nasi di Kloset (2024), Klinik (2024), Tanah Pijak Bernama Lampung (2024), Rupa-Rupa Rasa (2025), Kota Kelabu (2025), Satu Langkah (2026), serta karya tulis lainnya. []

Tinggalkan Komentar Anda