Lampung Selatan

Fasilitator Cantik untuk Lingkungan Resik dan Gizi yang Asyik

Fasilitator Cantik untuk Lingkungan Resik dan Gizi yang Asyik

Tamara Karent. | Adian Saputra/Wartalampung.id

Wartalampung.id, Sidomulyo – Anak-anak SDN 2 Banjarsuri, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan, tertawa melihat Tamara Karent masuk ke lingkungan sekolah mereka.

Mereka tertawa bahagia karena Tamara memboncengkan dua siswa dari sekolah lain: SDN 1 Banjarsuri.

Sebetulnya tugas mengantar anak ke sekolah tentu si empunya rumah tangga. Namun hari itu Tamara ketiban sampur: tugas yang tak bisa ia tinggalkan.

Namun, ia menjalaninya dengan riang. Kedua siswa yang ia bawa ke sekolah tetangga ini adalah bagian dari penerima manfaat program Japfa for Kids.

Hari itu diadakan medical check up bagi penerima manfaat. Ada 157 anak se-Kecamatan Sidomulyo yang menerima manfaat program peningkatan gizi dan nutrisi dari Japfa. Tamara dan seorang teman, Deborah Intan, didapuk menjadi fasilitator.

Keduanya yang saban hari sampai dengan Desember 2026 memonitoring anak-anak dan sekolah yang menerima manfaat program ini. Di Sidomulyo, ada 15 sekolah dengan dua ribuan siswa yang menerima manfaat.

Namun, dari jumlah itu, 157 anak memang yang benar-benar diperhatikan dengan ketat karena terbilang masih membutuhkan tambahan gizi dan nutrisi.

Kepada wartalampung.id, Jumat, 31 Juli 2026, Tamara mengatakan, pemeriksaan kesehatan menyeluruh diadakan secara periodik. Tujuannya, mengetahui tumbuh kembang anak dan seberapa berpengaruh tambahan asupan gizi yang diterima anak-anak.

Tamara bilang, setiap anak dari 157 siswa ini menerima tujuh butir telur setiap pekan. Orangtua kemudian mengolah telur ini sebagai bekal mereka untuk seminggu penuh.

Ada yang direbus saja, didadar, dijadikan telur ceplok, maupun dicampur ke lauk pauk lain. Tinggi dan berat badan anak-anak juga dimonitoring oleh petugas gizi di puskesmas setempat.

Tamara dan Deborah menjadi andalan Japfa untuk memantau seberapa signifikan dampak program ini.

Yang jelas, anak-anak senang jika Tamara dan Deborah hadir di sekolah mereka. Khususnya lagi jika hari itu bertepatan dengan Hari Sehat Japfa seminggu sekali. Ada senam bersama, pemeriksaan kesehatan, edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), dan lainnya.

Saking dekatnya orangtua, siswa, dan juga guru kepada Tamara dan Deborah, sampai urusan mengantar anak pun diserahkan kepada keduanya. Tamara bilang, ia dan Deborah asyik-asyik saja. Ia merasa itu sudah jadi bagian dari tanggung jawabnya sebagai fasilitator.

Head of Social Investment Japfa, Retno Artsanti, mengatakan, peran dua fasilitator untuk kesuksesan program ini memang urgen. Ia senang karena Tamara dan Deborah cepat beradaptasi. Tamara yang Yogya dan Deborah yang Sunda cepat menyatu dengan lingkungan.

Artsanti juga senang karena sejauh ini progres Japfa for Kids sangat baik. Penerimaan siswa, sekolah, dan orangtua juga sesuai dengan ekspektasinya.

Memang ada dua siswa yang ditarik orangtua untuk tak lagi menjadi penerima manfaat. Walhasil, dari awalnya 159 siswa, kini menjadi 157 siswa.

Artsanti juga lega karena Tamara dan Deborah bisa menjadi koagulan untuk semua kepentingan di sekolah. Mereka diterima oleh semua kalangan.

Bahkan, tak melulu soal gizi. Perihal kebersihan sekolah pun kini semakin resik.

Setiap kali monitoring, Tamara dan Deborah tak luput memperhatikan kebersihan sekolah. Termasuk kecukupan fasilitas cuci tangan, sabun, dan lainnya.

Artsanti makin bahagia karena kesadaran PHBS juga makin bagus. Kuku tangan anak-anak setiap pekan diperiksa guru.

Yang sudah panjang dan kotor, diminta untuk memotong sendiri di rumah. Ini sengaja dilakukan supaya tanggung jawab siswa dan orangtua tetap terjaga.

ST Khumaidah, Social Investment Supervisor Japfa, mengakui, peran dua fasilitator itu memang sangat membantu. Kuncinya, kata dia, Tamara dan Deborah, cepat beradaptasi dan keduanya cepat diterima warga sekolah.

Wabilkhusus Tamara, tersebab memiliki paras yang cantik dan memang model selama di Yogyakarta, menjadi daya tarik tersendiri.

Anak-anak, kata dia, senang tiap kali sekolah mereka didatangi Tamara. Banyak hal yang siswa dapatkan. Fasilitator tak sekadar melakukan monitoring, tetapi menjadi sahabat anak-anak, rekan bertukar pikiran para guru, juga mitra yang baik buat petugas kesehatan dari puskesmas.

Kepada wartalampung.id, Jumat, 31 Juli 2026, di SDN 1 Budidaya, Deborah bilang, ia senang menjadi fasilitator di sini. Ia yang awalnya kaget mendengar intonasi kebanyakan warga di sini yang terang dan kencang, kini sudah semakin terbiasa.

Ia juga mengapresiasi kiprah orangtua yang anaknya ingin semakin baik tumbuh kembangnya. Deborah juga suka melihat keriangan anak-anak saat bersamanya. Kala senam, saat edukasi cuci tangan, juga saat makan siang bersama.

Deborah juga menaruh perhatian penting kepada 157 anak yang sedang dipantau terus sampai Desember 2026.

Jika Desember 2026 selesai program, terus apa?

Artsanti bilang, meskipun program Japfa for Kids ini ”resmi” berakhir di ujung tahun, pihaknya tetap komitmen memperhatikan gizi anak-anak.

Sidomulyo, kata Artsanti, tetap punya tempat di Japfa. Apalagi di kecamatan ini ada unit Japfa yang lama ada dan aktif berkiprah untuk masyarakat.

Deborah juga berharap ada perubahan signifikan kepada 157 siswa yang sedang menjalani program. Deborah makin senang karena anak-anak itu sudah semakin semangat makan, menikmati asupan protein, dan berat serta tinggi badannya menunjukkan proporsionalitas yang oke punya.

Dan lambaian tangan serta senyuman anak-anak melepas Tamara dan Deborah usai monitoring menegaskan program ini dicintai masyarakat.

Artsanti bilang, fasilitator cantik ini bikin lingkungan makin resik dan peningkatan gizi makin asyik. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda