Ade Utami Ibnu (dua kanan) bersama Mahathir Muhammad (dua kiri). | Dokumentasi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Ketua DPW PKS Lampung yang juga Wakil Ketua Komisi I DPRD Lampung Ade Utami Ibnu, S.E. menjadi salah satu narasumber dalam Leadership Education Program 2026 Universitas Teknokrat Indonesia kemarin di Gelanggang Mahasiswa Dr HM Nasrullah Yusuf.
Dimoderator Dr. Jafar Fakhrurozi, S.Pd., M.Hum., Ade mengemukakan banyak hal. Ade menegaskan, Indonesia Emas 2045 merupakan momentum ketika generasi muda saat ini akan berada pada puncak usia produktif sebagai pemimpin di berbagai bidang.
Karena itu, tantangan utama bukan hanya meraih pekerjaan terbaik, tetapi mempersiapkan diri untuk memimpin perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Hal tersebut memerlukan kepemimpinan adaptif, yaitu kemampuan membaca perubahan, menjaga nilai dan integritas, serta menggerakkan kolaborasi di tengah situasi yang terus berubah.
Perubahan global terjadi secara cepat di bidang teknologi, dunia kerja, sosial, dan ekonomi.
Perkembangan artificial intelligence (AI), big data, dan digitalisasi menuntut kemampuan berpikir kritis, memverifikasi informasi, berkolaborasi, kreatif, serta memiliki learning agility atau kemauan belajar sepanjang hayat. Pemimpin adaptif tidak bersikap reaktif terhadap perubahan, tetapi mampu mengantisipasi tantangan, melihat peluang, dan terus mengembangkan kompetensi yang relevan.
Ade membedakan masalah teknis, yang memiliki solusi dan prosedur yang jelas, dengan tantangan adaptif, yang membutuhkan perubahan pola pikir, perilaku, serta kerja sama untuk menemukan solusi.
Kepemimpinan adaptif diwujudkan melalui lima langkah utama, yaitu melakukan observasi terhadap akar persoalan, berani menghadapi kenyataan, bereksperimen dengan solusi baru, belajar dari evaluasi, serta tetap berpegang pada nilai dan tujuan meskipun strategi dapat berubah.
Untuk menjadi pemimpin visioner, seseorang harus memiliki arah yang jelas, nilai yang kuat, dan orientasi pada dampak nyata bagi masyarakat. Kompetensi yang perlu dikembangkan meliputi learning agility, critical thinking, kolaborasi, komunikasi, dan kemampuan mengeksekusi gagasan menjadi aksi.
Di era digital, generasi muda didorong untuk berkembang dari sekadar consumer menjadi creator, bahkan leader yang memanfaatkan teknologi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. AI diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan akal, etika, dan tanggung jawab.
Keberhasilan kepemimpinan juga ditentukan oleh kemampuan membangun collaborative leadership (4K), yaitu memiliki tujuan bersama, membangun kepercayaan, menjalin komunikasi yang efektif, dan memberikan kontribusi sesuai kompetensi masing-masing.
Di atas semua itu, integritas menjadi fondasi utama karena kompetensi tanpa integritas dapat disalahgunakan, sedangkan integritas tanpa kompetensi tidak akan menghasilkan dampak yang optimal.
Ade mengajak peserta menyusun rencana aksi 30 hari, yaitu mempelajari satu keterampilan baru, membangun proyek kolaboratif, mengurangi kebiasaan digital yang tidak produktif, serta mencari mentor sekaligus membantu orang lain berkembang.
Pesan utama yang ditekankan adalah bahwa masa depan tidak hanya diprediksi, tetapi harus diciptakan, dan kepemimpinan dimulai ketika seseorang berhenti menunggu orang lain bertindak, lalu bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan untuk membawa perubahan?” []

Tinggalkan Komentar Anda