Nasrullah Yusuf dan Kim Soo-il. | Dokumentasi UTI
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Duta Besar (Purn.) Profesor Emeritus Kim Soo-il membagikan rahasia besar untuk menjadi pemimpin masa kini dalam acara Leadership Education Program 2026 yang digelar oleh Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) hari ini, Kamis (6/8/2026).
Mantan diplomat top ini menegaskan bahwa investasi ilmu dan kedisiplinan ekstrem adalah kunci utama untuk menduduki posisi strategis di era global.
Dalam pemaparannya yang memukau, Profesor Kim mengutip filsafat futuris terkenal, Alvin Toffler, mengenai kekuatan sebuah pengetahuan (knowledge).
Menurutnya, kita saat ini hidup di era di mana ilmu pengetahuan bersikap sangat demokratis dan tidak pernah mendiskriminasi latar belakang seseorang.
“Knowledge itu tidak tanya ayahnya siapa, tidak tanya keluarganya siapa. Kepada siapa saja, ilmu itu ramah untuk menjadi sahabat,” ujar Kim.
Ia menambahkan bahwa ilmu pengetahuan memiliki kekuatan magis untuk dikonversi menjadi kekuasaan (power) dan posisi (position).
Kim membuktikan sendiri teori ini; lewat rekam jejaknya sebagai profesor internasional, ia langsung dipanggil oleh Presiden untuk mengemban tugas negara sebagai Duta Besar tanpa pernah meminta jabatan tersebut.
Aturan 3 Jam
Untuk menuju kepemimpinan masa kini, Profesor Kim membagikan kiat konkret dan menantang para mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia untuk menerapkan “Aturan 3 Jam”.
Mahasiswa diwajibkan menghabiskan minimal 3 jam sehari secara konsisten untuk mendalami bidang keahlian (major) atau fakultas mereka, sekaligus harus adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Secara umum, terdapat empat unsur utama yang harus dipersiapkan sejak dini oleh calon pemimpin:
- Unggul Pengetahuan: Memiliki fondasi wawasan yang luas dan mendalam.
- Kemampuan Teknis: Cakap dan terampil dalam bidang yang ditekuni.
- Kepribadian Kuat (Strong Personality): Memiliki karakter kokoh dan integritas.
- Mimpi dan Tekad Tinggi: Menetapkan tujuan besar agar memiliki daya tahan dan tidak mudah menyerah di tengah jalan.
Jejak Internasional
Kehadiran Profesor Kim sebagai narasumber utama memberikan suntikan inspirasi luar biasa bagi seluruh civitas akademika Universitas Teknokrat Indonesia.
Ia bukan sosok sembarangan, melainkan tokoh global dengan portofolio lintas negara yang sangat disegani, di antaranya:
- Ketua Dewan Lembaga Pemeriksa Halal Korea di bawah BPJPH Kementerian Agama Republik Indonesia.
- Dosen Tamu di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya / Studi Global, Universitas Indonesia.
- Mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Korea untuk Timor-Leste.
- Konsul Jenderal Kehormatan Republik Indonesia di Busan yang dijabatnya selama dua dekade.
- Chief of the Athletes’ Village pada ajang olahraga internasional 2002 Busan Asian Para Games.
- Penerima Bintang Kehormatan (Order of Merit) dari Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Timor-Leste atas dedikasi seumur hidupnya di dunia diplomasi.
Kim lahir di Busan, Korea Selatan, 20 Januari 1953. Ia mempelajari bahasa Indonesia sejak tahun 1970 dan menjadi profesor emeritus di Busan University.
Ia bertugas sebagai Konsul Kehormatan RI di Busan. Ia juga aktif mempromosikan kerja sama budaya dan pendidikan.
Kim pernah menjabat sebagai Duta Besar Korea Selatan untuk Timor Leste. Kini, Kim adalah Penasihat Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung.
Melalui program ini, Universitas Teknokrat Indonesia terus membuktikan komitmennya sebagai Cyber University yang aktif mencetak generasi penerus berdaya saing internasional dengan menghadirkan pakar-pakar kelas dunia. []

Tinggalkan Komentar Anda