Tamara Karent. | Adian Saputra/Wartalampung.id
Wartalampung.id, Sidomulyo – Sampai dengan Desember 2026 nanti, perhatian Tamara Karent fokus ke seratusan murid sekolah dasar di Kecamatan Sidomulyo. Ada 15 SD yang mesti Tamara perhatikan. Jika ditotal siswanya, ia fokus ke 157 siswa.
Siswa yang mesti ia perhatikan pun bukan siswa biasa. Seratusan siswa itu adalah anak-anak yang sedang diprogram untuk jauh dari diksi malanutrisi dan malagizi. Anak-anak yang Tamara perhatikan bukan mereka yang menyandang predikat gizi buruk atau diksi stigma lain dalam konteks gizi.
Namun, ia sedang menjalankan peran sebagai fasilitator yang mendampingi anak-anak itu agar mendapat asupan gizi yang baik. Selain seratusan siswa tersebut, masih ada dua ribuan siswa lain yang mesti ia perhatikan.
Adalah Japfa for Kids yang diiniasi korporasi JAPFA yang mengamanatkan Tamara menjadi fasilitator. Di Sidomulyo, Tamara tidak bekerja sendiri. Ia masih punya seorang kompatriot sesama fasilitator: Debora Intan.
Kedua orang inilah yang sejak semingguan terakhir banyak berinteraksi dengan siswa di 15 SD di Sidomulyo. Kerja mereka nanti rampung jelang khatimah 2026.
JAPFA berkehendak, anak-anak yang mendapat perhatian korporasi bisa meningkat secara gizi dan pertumbuhannya. Hitungannya juga jelas, bukan sekadar asumsi. Ada proses penilaian dari asupan gizi yang masuk sampai dengan berat serta tinggi badan.
Tapi siapa sangka, Tamara bukan sekadar fasilitator.
Alumnus S1 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM angkatan 2018 ini juga punya basis modeling yang kuat. Gadis cantik ini memang berdarah Jawa tulen. Logat dan dialek Jawanya juga kental.
Pengalaman sejauh ini di tanah Lampung memberikannya pengalaman yang berharga.
Kepada wartalampung.id hari ini, ia bercerita banyak hal. Tamara bilang, prestasi di bidang modelingnya memang lumayan banyak.
Ia pernah menjadi model makeup, model catwalk, model photoshoot, model campaign brand parfum, dan brand ambassador skincare.
Sejauh ini, pengalaman paling berkesan di dunia model itu ketika bisa menjadi model di kota lain, tidak hanya di Yogyakarta.
Ia senang karena selama ini bisa berkeliling ke Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Semua lantaran basis aktivitasnya sebagai model.
Tamara berujar, keterampilan modelingnya memang didukung orangtua sejak ia masih berumur delapan tahun.
Di tahun itulah dara manis ini mulai masuk sekolah modeling. Tahun 2020, Tamara berkarier mulai dari menjadi model makeup, photoshoot, dan catwalk.
”Saya bersyukur bisa terus berlanjut sampai sekarang,” kata dia hari ini di SDN 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan.
Meskipun model, pengalaman dalam dunia humanioranya juga lumayan apik.
Pengalaman di dunia sosial yang paling berkesan, kata dia, yakni ketika penelitian di pelosok Sumatera Selatan.
”Saya bisa langsung adaptif dengan keadaan dan semakin ingin eksplorasi dunia sosial ke daerah pelosok lainnya,” kata dia.
Tamara bercerita, tahun 2025, dirinya memiliki komitmen untuk lintas karier di dunia sosial yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Tahun lalu, 2025, ia mulai mencari pekerjaan di dunia sosial. Pada April 2026, ada lowongan menjadi fasilitator JAPFA for Kids.
Ternyata, kualifikasinya sesuai dengan pendidikan Tamara.
Selain itu juga, program JAPFA for Kids menyasar salah satu kelompok rentan yaitu anak dengan kondisi malanutrisi.
”Saya antusias menjadi fasilitator di program ini. Awalnya merasa tidak mungkin terpilih karena yang daftar itu banyak. Tapi alhamdulillah bisa berlanjut proses rekrutmen sampai bisa menjadi fasilitator JAPFA for Kids.”
Tinggal di tanah Lampung, Tamara merasa senang. Sebab, sedari awal, ia memang punya keinginan untuk eksplorasi ke wilayah luar Jawa dan mengembangkan karier di dunia sosial.
”Tahun ini kesempatan terbaik saya.”
Ia bilang, pengalaman selama ini sungguh terkesan. Ia senang karena kepala sekolah, guru penanggung jawab, dan orangtua antusias dalam program ini.
Mereka, kata Tamara, mulai membiasakan anak-anak mengonsumsi telur satu satu butir setiap hari. Selain itu, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Kata Tamara, tugasnya sebagai fasilitator JAPFA for Kids adalah berkoordinasi apa saja yang harus dilakukan guru penanggung jawab; bekerja sama dengan berbagai pihak seperti internal perusahaan, puskesmas, sekolah, orang tua; mengingatkan guru penanggung jawab dalam urusan administrasi; serta berkeliling ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat untuk melihat/monitoring keadaan sekolah.
”Ke depan saya berharap bisa bekerja di dunia CSR atau community development karena saya ingin menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.” [@adiansaputra27]
Biodata
Nama : Tamara Karent
Kelahiran : Sleman, 20 September 2000
Pengalaman kerja : Fasilitator JAPFA, model profesional, dan peneliti sosial dokumen proper
Kampus : S1 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan Fisipol UGM angkatan 2018

Tinggalkan Komentar Anda