Hiburan

Jatuh Bangun di Catwalk: Zaki Al Farizi, Mahasiswa Bahasa Prancis Unila Unjuk Aksi Lampung International Fashion Movement

Jatuh Bangun di Catwalk: Zaki Al Farizi, Mahasiswa Bahasa Prancis Unila Unjuk Aksi Lampung International Fashion Movement

Zaki Al Farizi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Di balik gemerlap panggung Lampung International Fashion Movement (LIFMove), ajang peragaan busana internasional yang mengangkat wastra Lampung, tidak semua model tampil dengan rasa percaya diri penuh sejak awal.

Hal itu diakui secara jujur oleh Zaki Al Farizi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), yang turut ambil bagian dalam gelaran tersebut.

LIFMove sendiri digelar pada 22–23 Juli 2026 di Hotel Radisson Lampung. Ajang ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Lampung, Pemerintah Provinsi Lampung, dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, serta bermitra dengan pergelaran mode global seperti New York Indonesia Fashion Week.

Selain menampilkan wastra khas Lampung, ajang ini juga melibatkan pelaku UMKM dan merangkul penyandang disabilitas sebagai bagian dari semangat inklusivitas dalam industri mode.

Bagi Zaki, kesempatan tampil di panggung sebesar LIFMove bukan tanpa pergulatan batin. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam dunia modeling bukan datang dari teknik berjalan di atas panggung, melainkan dari pergulatan batin ketika membandingkan diri dengan model lain.

“Ada fase hampir menyerah, itu terjadi ketika aku melihat teman-teman yang menurutku ‘lebih’ — entah dari segi wajah, bentuk tubuh, atau hal lain. Di dunia modeling kan orang-orangnya beragam, ukuran dan wajah berbeda-beda. Ketika aku merasa jadi sosok yang berbeda dari kebanyakan, di situlah rasa down itu muncul,” ungkap Zaki.

Ia mengaku, sejak awal terjun ke dunia modeling, rasa kurang percaya diri itu tidak serta-merta hilang begitu saja, bahkan hingga saat ini.

Namun alih-alih larut dalam rasa minder, Zaki memilih untuk memandang hal tersebut sebagai proses yang terus berjalan, bukan sesuatu yang harus segera “diselesaikan”.

“Buatku, itu bukan soal sudah selesai membalikkan keadaan, tapi lebih ke proses yang terus berjalan. Aku memilih untuk terus belajar daripada berhenti di rasa minder itu,” katanya.

Menariknya, Zaki menilai lingkungan menjadi faktor paling menentukan seseorang bertahan atau mundur di industri ini. Menurutnya, rasa nyaman maupun tidak nyaman terhadap lingkungan sangat memengaruhi kepercayaan diri seorang model.

Ia juga membeberkan sisi modeling yang jarang terlihat oleh penonton, yakni proses belajar berekspresi sesuai karakter busana yang dibawakan, serta pentingnya menjaga blocking atau titik pergerakan saat tampil dalam sebuah parade busana — hal yang menjadi krusial mengingat LIFMove menghadirkan format parade dengan banyak model tampil bersama.

“Kita harus benar-benar ingat blocking kita, ke mana arah kita, di mana titik-titik berhenti, dan bagaimana pola paradenya. Semua itu butuh kekompakan dengan sesama model, karena kalau ada satu yang meleset, itu bisa terlihat di keseluruhan tampilan parade,” jelasnya.

Soal standar kecantikan di industri modeling, Zaki menyampaikan pandangan yang cukup positif. Menurutnya, industri modeling saat ini sudah bergeser dari tuntutan fisik yang seragam menuju penghargaan terhadap keunikan tiap individu — nilai yang sejalan dengan semangat inklusivitas yang diusung LIFMove melalui pelibatan penyandang disabilitas sebagai model.

“Industri modeling saat ini sudah tidak lagi terlalu mementingkan fisik yang seragam. Justru yang dicari itu keunikan masing-masing individu. Menurutku arah standarnya sudah cukup sehat,” ujarnya.

Di tengah kesibukannya sebagai model, Zaki tetap menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Ia mengaku, apabila jadwal modeling berbenturan dengan agenda akademik seperti ujian, ia akan memilih kuliah terlebih dahulu.

“Kalau memang di hari yang sama ada UAS dan jadwal modeling, aku akan lebih memilih kuliah terlebih dahulu, baru kemudian meminta izin atau menyesuaikan jadwal modeling. Intinya semua soal komunikasi,” tuturnya.

Mengenai masa depan, Zaki belum berani memastikan apakah dunia modeling akan menjadi jalan hidupnya kelak. Namun untuk saat ini, ia memilih untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh.

“Untuk sekarang, aku masih ingin menekuni dunia industri kreatif seperti ini. Kalau memang itu jalannya, ya aku jalani. Untuk sekarang, yang penting dijalani dulu,” ucapnya.

Di akhir wawancara, Zaki menitipkan pesan bagi mahasiswa PBP lain yang merasa passion mereka tidak sejalan dengan jurusan yang diambil.

“Gali saja apa yang kalian suka, apa yang kalian mau, apa yang kalian minati, karena kita nggak pernah tahu di mana rezeki kita berada. Tapi jangan pernah lupakan kewajiban kita sebagai mahasiswa,” tutupnya. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda