Nusantara

Saat Bahasa Prancis Bertemu Keroncong, Timotius Widiyanto Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Buktikan Talenta Tak Kenal Batas

Saat Bahasa Prancis Bertemu Keroncong, Timotius Widiyanto Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila Buktikan Talenta Tak Kenal Batas

Timotius Widiyanto

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila), Timotius Widiyanto, berhasil meraih Juara 3 Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) 2026 Cabang Lomba Lagu Keroncong.

Prestasi ini menarik perhatian karena datang dari mahasiswa yang sehari-hari menekuni bahasa dan sastra Prancis, namun justru berprestasi lewat musik keroncong, salah satu warisan budaya musik tradisional Indonesia.

Kepada wartalampung.id, Timotius mengungkapkan bahwa secara historis maupun teknis, keroncong dan Prancis memang tidak memiliki keterkaitan langsung. Namun ia melihat titik temu keduanya justru pada proses penerjemahan dan pemahaman makna lagu.

“Sejauh ini, tidak ada hubungan langsung antara keroncong dan Prancis, kecuali dari sisi penerjemahan dan pemahaman terhadap konteks lagu, yang justru memberi dampak kultural tersendiri,” ujar Timotius.

Ia menjelaskan, sebagai mahasiswa bahasa asing, dirinya terbiasa memaknai suatu karya bukan hanya dari bunyi atau nada, tetapi dari konteks di baliknya. Pendekatan itu pula yang ia terapkan saat membawakan lagu keroncong, meski ia mengaku belum banyak mempelajari teknik vokal keroncong secara mendalam.

“Saya belum banyak belajar teknik menyanyi keroncong, tetapi saya bisa menerjemahkannya berdasarkan konteks dan pemahaman tentang apa yang sebenarnya ingin disampaikan lagu tersebut,” katanya hari ini.

Bagi Timotius, mempelajari bahasa asing pada dasarnya adalah juga mempelajari budaya. Prinsip itulah yang membuatnya semakin yakin bahwa musik tradisional seperti keroncong layak dibanggakan, bukan sekadar dipandang sebagai musik bernuansa tenang semata.

Ia menilai keroncong memiliki kekuatan dialektis yang justru menjadi alternatif di tengah dominasi musik-musik berformat seragam seperti breakbeat maupun lagu-lagu pop mainstream.

“Musik-musik dengan format seragam itu umumnya hanya berbicara tentang tiga hal: euforia pesta, romansa bahagia, dan kesedihan. Keroncong berbeda, ia punya ruang untuk lebih dari itu,” ungkapnya.

Justru karena nuansanya yang tenang, menurut Timotius, keroncong membuka ruang kreativitas yang luas. Ia menyebut, unsur musik lain seperti nuansa romantis dapat dipadukan ke dalam format keroncong tanpa menghilangkan karakter aslinya.

“Dengan suasana yang tenang, kita bisa memadukan pengaruh musik lain, misalnya nuansa romantis, untuk dinyanyikan dalam format keroncong. Dari situlah kreativitas itu lahir,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Timotius menitipkan pesan sederhana namun menghentak bagi mahasiswa lain yang ragu mengembangkan bakatnya di bidang seni maupun bahasa.

“Kalian tinggal melakukannya saja. Karena talenta itu, ya kalian sendiri,” tutupnya singkat. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda