Bandar Lampung

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Unila Magang Biro Adpim Pemprov Lampung

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis Unila Magang Biro Adpim Pemprov Lampung

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. | Dokumentasi

WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Lima mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis (PS PBP) FKIP Universitas Lampung angkatan 2025, yakni Shella Damasyanda, Raden Denish Vianka Putra, Hudzaifah Ubaidillah Irfani, Azkia Zahwanisa, dan Raina Assyfa Adha Nurhadi, membuktikan bahwa ilmu kebahasaan tak melulu berhenti di ruang kelas.

Lewat program magang di Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Pemprov Lampung, mereka merasakan langsung bagaimana kemampuan berbahasa, menyusun informasi, dan berkomunikasi menjadi modal penting di dunia birokrasi pemerintahan.

Selama magang, kelima mahasiswa ditempatkan di beberapa divisi berbeda, mulai dari dokumentasi pimpinan, tata usaha pimpinan, administrasi surat, protokol, hingga administrasi biro.

Penempatan yang beragam ini membuat mereka mendapat gambaran kerja yang lebih luas.

“Kami ditempatkan di bagian yang berbeda-beda sesuai kebutuhan biro. Justru dari situ kami mendapat pengalaman yang lebih beragam karena setiap divisi memiliki tugas, tantangan, dan cara kerja yang berbeda, tetapi tetap saling berkaitan,” ujar Hudzaifah, yang bertugas mengelola administrasi persuratan dan pengarsipan.

Raina Assyfa Adha Nurhadi, yang bertugas membantu administrasi dan tata usaha pimpinan, mengaku sempat menyangka ilmu Bahasa Prancis yang dipelajarinya di kampus tidak akan banyak terpakai. Nyatanya, kemampuan memahami dokumen dan memilih diksi yang tepat justru menjadi keterampilan yang paling sering digunakan.

“Walaupun tidak menggunakan bahasa Perancis secara langsung, kemampuan memahami dokumen, menyusun informasi, memilih diksi, dan berkomunikasi dengan baik ternyata sangat kepakai. Kami jadi sadar kalau belajar bahasa sebenarnya bukan cuma soal menguasai bahasa asing, tapi juga soal bagaimana menyampaikan informasi dengan tepat kepada orang lain,” katanya.

Raden Denish Vianka Putra, yang membantu persiapan dan pelaksanaan agenda resmi pimpinan, turut membagikan pengalamannya beradaptasi dengan ritme dunia kerja yang jauh berbeda dari suasana akademik.

“Di kampus kami belajar untuk memahami teori, sedangkan di dunia kerja kami belajar mengambil tanggung jawab. Ritmenya lebih cepat, lebih dinamis, dan menuntut kami untuk cepat beradaptasi. Dari situ kami paham kalau nilai yang baik saja belum cukup, cara kita bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan masalah juga sama pentingnya,” tuturnya.

Pengalaman paling berkesan datang dari keterlibatan mereka dalam sejumlah agenda besar Gubernur Lampung, termasuk kegiatan yang turut dihadiri Wakil Menteri Kebudayaan dan Wakil Menteri Pertahanan. Azkia Zahwanisa, yang bertugas di bagian dokumentasi pimpinan, menyebut momen tersebut membuka cara pandangnya tentang bagaimana pemerintahan bekerja di balik layar.

“Yang paling berkesan adalah ketika kami benar-benar merasakan ritme dunia kerja, bukan lagi sebagai mahasiswa yang belajar dari teori, tetapi ikut menjadi bagian dari prosesnya. Tantangan terbesarnya adalah beradaptasi dengan ritme kerja yang cepat, tapi justru itu yang membuat kami berkembang, baik secara kemampuan maupun karakter,” ungkapnya.

Sementara itu, Shella Damasyanda menilai pengalaman magang ini mengubah cara pandangnya soal masa depan karier. Baginya, program magang di Biro Administrasi Pimpinan bukan sekadar syarat akademik, melainkan bekal nyata untuk melangkah ke jenjang berikutnya.

“Magang ini mengubah cara pandang kami tentang dunia kerja. Berada di lingkungan Biro Administrasi Pimpinan memberi pengalaman yang mungkin tidak semua mahasiswa dapatkan. Ke depannya, kami ingin terus mengembangkan kemampuan dan karakter yang sudah mulai terbentuk selama magang. Bagi kami, ini bukan akhir dari program magang, melainkan langkah awal untuk terus berkembang dan mempersiapkan diri menghadapi jenjang karier dengan versi terbaik dari diri kami,” katanya.

Kelima mahasiswa sepakat, pengalaman ini membuktikan bahwa lulusan Pendidikan Bahasa memiliki ruang kontribusi yang jauh lebih luas dari yang selama ini dibayangkan—bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga di jantung pelayanan publik dan komunikasi pemerintahan.

“Jangan terlalu cepat memberi batas pada diri sendiri hanya karena nama jurusan. Di dunia kerja sekarang, kita tidak bisa lagi berpaku pada jurusan saja. Yang lebih dilihat adalah kemampuan kita dalam berkomunikasi, berpikir kritis, beradaptasi, bekerja sama, dan terus belajar,” pungkas Raina. [Najwa Kamila Faradisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda