Opini

Komparasi Performa Tim Asia-Afrika Piala Dunia 2026, Paradoks Gelimang Uang dan Sarat Keterbatasan

Komparasi Performa Tim Asia-Afrika Piala Dunia 2026, Paradoks Gelimang Uang dan Sarat Keterbatasan

Abizar

Abizar, Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Lampung

Piala Dunia FIFA 2026 kembali menyajikan ironi yang sulit diabaikan. Asia tampil sebagai kawasan dengan kekuatan ekonomi sepak bola yang terus meningkat. Liga-liga di Arab Saudi, Qatar, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun stadion modern, akademi elite, hingga merekrut pemain dan pelatih kelas dunia. Prestasi?

Arab Saudi telah mengubah peta ekonomi sepak bola Asia. Liga Pro Arab Saudi menghabiskan sekitar US$957 juta hanya pada bursa transfer musim panas 2023—setara lebih dari Rp15 triliun—dan menjadi liga dengan belanja pemain terbesar kedua di dunia setelah Liga Primer Inggris.

Melalui Public Investment Fund (PIF), pemerintah Saudi juga mengambil alih 75 persen kepemilikan empat klub raksasa—Al Hilal, Al Nassr, Al Ahli, dan Al Ittihad—sebagai bagian dari strategi Vision 2030 untuk menjadikan Saudi Pro League sebagai salah satu kompetisi paling bernilai di dunia.

Qatar sukses menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 dan terus mengembangkan akademi sepak bola modern. Jepang dan Korea Selatan mempertahankan sistem pembinaan yang mapan, sementara berbagai negara Asia berlomba membangun infrastruktur olahraga berstandar internasional.

Sebaliknya, Afrika menawarkan kisah berbeda. Di tengah masalah tata kelola, keterbatasan fasilitas, hingga dukungan finansial yang jauh dari ideal, prestasi Benua Afrika Keberhasilan bukanlah sebuah kebetulan.

Ia merupakan hasil dari proyek jangka panjang yang dimulai lebih dari satu dekade lalu melalui pembangunan akademi nasional, dengan sumber daya ekonomi yang lebih terbatas—lebih banyak mengandalkan investasi pada manusia. Budaya sepak bola yang kuat, kompetisi sejak usia dini, mental kompetitif, dan pengalaman pemain di liga-liga Eropa menjadi modal yang sulit dibeli dengan uang.

Prestasi Afrika yang membuat Piala Dunia 2026 semakin menarik bukan hanya keberhasilan Maroko. Hampir seluruh wakil Afrika tampil mengejutkan dan menunjukkan peningkatan kualitas yang konsisten.

Maroko kembali membuktikan dirinya bukan sekadar “keajaiban Qatar 2022”. Setelah menyingkirkan Belanda melalui adu penalti pada babak 32 besar dan mengalahkan Kanada dengan skor meyakinkan 3–0 di babak 16 besar, Maroko kembali melangkah ke perempat final dan sekali lagi menjadi harapan satu benua.

Kejutan berikutnya datang dari Mesir. Tim berjuluk Pharaohs tersebut menunjukkan mental juara ketika menyingkirkan Australia melalui drama adu penalti pada babak 32 besar.

Meski akhirnya harus mengakui keunggulan Argentina pada babak 16 besar, Mesir memperlihatkan bahwa sepak bola Afrika kini memiliki kedalaman kualitas, tidak lagi hanya bergantung pada satu atau dua negara.

Negara kecil Afrika yang paling mencuri perhatian adalah Tanjung Verde (Cape Verde). Negara kepulauan berpenduduk kurang dari satu juta jiwa itu hampir menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia, memaksa Argentina bekerja keras hingga menit-menit akhir sebelum menyerah tipis 2–3 di babak 32 besar.

Penampilan Cape Verde membuktikan bahwa ukuran negara dan besarnya anggaran bukan lagi penentu utama daya saing sepak bola modern. Sistem pembinaan, disiplin taktik, dan semangat kolektif mampu menjadikan negara kecil sebagai ancaman bagi juara dunia.

Pantai Gading juga menunjukkan kualitasnya dengan lolos ke fase gugur sebelum dihentikan Norwegia, Ghana dan Senegal tetap mampu memberikan perlawanan sengit kepada lawan-lawan kuat.

Bahkan Republik Demokratik Kongo berhasil mencapai babak 32 besar dan baru terhenti setelah memberikan perlawanan ketat kepada Inggris. Artinya, Afrika tidak lagi bergantung pada satu kekuatan dominan, tetapi mulai memiliki banyak negara dengan standar kompetitif yang relatif merata.

Bandingkan dengan Asia. Benua yang dalam dua dekade terakhir menjadi pusat pertumbuhan ekonomi sepak bola justru gagal mengonversi kekuatan finansial menjadi prestasi.

Jepang memang kembali menjadi wakil terbaik Asia, tetapi langkah Samurai Biru hanya bertahan hingga babak 32 besar setelah kalah tipis 1–2 dari Brasil. Australia, yang bernaung di Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), juga tersingkir di babak 16 besar oleh Mesir melalui adu penalti. Sementara itu, negara-negara Asia lainnya seperti Arab Saudi, Qatar, Irak, Iran, Uzbekistan, Yordania, dan Korea Selatan gagal melangkah lebih jauh.

Ironinya semakin terlihat jika dibandingkan dengan kekuatan ekonomi sepak bola Asia. Arab Saudi menghabiskan miliaran dolar untuk membangun liga paling ambisius di dunia. Qatar memiliki infrastruktur terbaik pasca-Piala Dunia 2022.

Jepang dan Korea Selatan dikenal memiliki kompetisi profesional yang mapan. Bahkan berbagai negara Asia berlomba melakukan naturalisasi pemain dan mendatangkan pelatih kelas dunia. Namun, semua investasi tersebut belum mampu menghasilkan prestasi yang melampaui Afrika di panggung Piala Dunia.

Uang memang dapat membangun stadion, membeli pemain, bahkan menghadirkan liga yang megah. Akan tetapi, uang tidak secara otomatis membangun budaya sepak bola.

Afrika menunjukkan bahwa investasi terbesar bukan selalu pada beton dan baja, melainkan pada manusia, sistem pembinaan usia dini, kompetisi yang kompetitif, dan karakter pemain. Di situlah letak paradoks Piala Dunia 2026: ketika Asia memimpin dalam nilai ekonomi sepak bola, Afrika justru memimpin dalam efektivitas mengubah potensi menjadi prestasi. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda