Gubernur meninjau langsung okasi pengembangan industri bioetanol di Pesawaran dan Lampung Selatan. | Dokumentasi
WARTALAMPUNG.ID, BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung mempercepat pembangunan ekosistem bioetanol terpadu demi mengamankan pasokan energi hijau dalam negeri dan mendukung rencana penerapan campuran bioetanol 10 persen (E10) pada bahan bakar minyak (BBM) nasional.
Langkah strategis ini diproyeksikan mampu mencetak target produksi bioetanol sebesar 240 hingga 250 ribu kiloliter per tahun di wilayah tersebut.
Guna memastikan kesiapan infrastruktur, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendampingi Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu, meninjau langsung lokasi pengembangan industri bioetanol di Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Lampung Selatan, beberapa hari lalu.
Kolaborasi ini melibatkan pemerintah pusat, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), investor swasta, serta mitra internasional.
Fokus utama kerja sama diarahkan untuk mempercepat pembangunan ekosistem industri dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan kawasan produksi terintegrasi hingga pengembangan sorgum sebagai komoditas bahan baku utama.
“Peningkatan kebutuhan bioetanol nasional yang pesat harus diimbangi dengan ketersediaan pasokan dalam negeri agar Indonesia tidak bergantung pada impor,” ujar Gubernur Mirza dalam peninjauan tersebut.
Melalui proyeksi kapasitas produksi berskala besar ini, Provinsi Lampung tidak hanya memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan nasional, tetapi juga bertransformasi menjadi salah satu roda penggerak utama energi hijau di Indonesia.
Selain memperkokoh ketahanan energi nasional, ekosistem terpadu ini ditargetkan membuka lapangan kerja baru secara luas, meningkatkan nilai tambah sektor pertanian lokal, serta memperkuat perekonomian masyarakat sekitar secara nyata. []

Tinggalkan Komentar Anda