Juwendra Asdiansyah
Oleh Juwendra Asdiansyah
“Jarang yang mau membaca (tulisan saya) karena banyak orang begitu membaca istilah filsafat langsung ambil posisi minggir sebelum berjalan. Semoga di usia senja ini saya masih bisa menyumbangkan pikiran-pikiran jernih untuk negeri ini..” – Prof Dr Sudjarwo MS
Dalam sekira 30 tahun persentuhan dengan dunia tulis menulis dan jurnalisme, tak banyak saya menemukan dosen-akademisi di Lampung yang benar-benar cakap menulis. Alih-alih cakap, tak jarang saya mendapati dosen dengan kualitas tulisan yang buruk, bahkan dalam kaliber guru besar sekalipun. Saya pernah mengeditori sebuah buku yang sebagian besar penulisnya profesor, sekira separuh tulisan di antaranya jauh dari bagus.
Ini buruk, karena menurut keyakinan saya, seorang dosen mestinya tidak boleh tidak bisa menulis. Seorang dosen harus bisa menulis dengan baik, karena jika tidak, kalau tulisan sendiri saja amburadul, dengan legitimasi moral apa dia berhak mencoret-coret, mengacak-acak skripsi/tesis mahasiswanya?
Dalam suasana krisis ini, beruntunglah Lampung punya Sudjarwo. Seorang guru besar, cendekiawan, begawan yang bukan hanya sangat produktif menulis namun juga mampu menulis dengan sangat bagus.
Saya menilai cakap-tidaknya seorang menulis dari dua pendekatan: materi dan delivery (penyampaian). Materi diurai lagi ke dalam dua hal: wawasan-pengetahuan dan pemikiran-gagasan. Delivery meliputi keterampilan berbahasa dan teknik penulisan. Prof Djarwo punya kesemuanya dengan level di atas rata-rata.
Soal produktivitas, jika sedang on fire, hitungan saya, dalam sepekan bisa 3-5 tulisan lahir dari laptopnya. Dan hebatnya, semuanya bagus. Bagusnya lengkap. Bagus dalam materi, bagus dalam penulisan.
Satu pembeda yang khas, Prof Djarwo menggunakan filsafat sebagai “pisau” dalam hampir semua tulisannya—sebuah pilihan cara menulis yang semakin menempatkan karya-karyanya dalam maqom yang sangat tidak rata-rata air.
Dengan filsafat, dia membantu kita memahami bedanya pengetahuan (knowledge) dan ilmu pengetahuan (science). Kita pun menjadi mengerti apa yang pernah dikatakannya: ada perbedaan yang jelas antara ilmuwan dengan cendekiawan.
Melalui filsafat, Pak Djarwo terbebas dari perilaku umumnya akademisi yang sekadar bercerita dan memberi tahu. Dia adalah beyond, menjadi kecuali: menerangkan apa yang terjadi, bagaimana itu terjadi, menjelaskan mengapa terjadi, lalu memberi konteks sekaligus menavigasi: apa yang seharusnya dan bagaimana sebaiknya.
Ketika banyak orang bagai tak tahu arah, bingung dengan lakon yang sedang berlangsung, tulisan Prof Djarwo hadir sebagai jawaban yang mencerahkan. Pada titik ini dia layaknya bintang di langit yang memandu para nelayan ke mana harus berlayar, memberi petunjuk ke mana jalan pulang.
Prof Djarwo menulis dengan gaya yang asyik. Bahasanya memang tidak pasaran, diksinya tidak receh, tapi tetap bisa dipahami pembacanya tanpa harus menjadi profesor seperti dia. Itu makanya, meskipun kaya dan padat dengan filosofi, karya-karya mantan dekan FKIP Universitas Lampung ini masih bisa dikunyah dan ditelan.
Sebagai begawan, Pak Djarwo tak lantas berleha-leha di langit. Tulisan-tulisannya tetap membumi, senantiasa aktual, relevan dengan isu-isu mutakhir.
Layaknya mahaguru, tulisan-tulisan Pak Djarwo sarat kebijaksanaan. Namun, dia menasihati tanpa menjadi sok pintar. Dia menunjukkan batas tanpa harus mendaku sebagai sang pemegang kompas.
Tulisan-tulisannya menyajikan banyak hikmah dan pelajaran. Inspiratif, mencerdaskan, dan terkadang mengharukan. Dalam, namun menyenangkan dan menenangkan.
Membaca tulisannya, seringkali membuat kita tepekur, introspeksi dan berkontemplasi. Setiap kalimatnya seperti ajakan untuk berpikir sekaligus bercermin. Hampir setiap paragraf terasa sebagai sebuah momen renungan.
Berselancar dalam ranah filsafat yang bergaya, tulisan Pak Djarwo tidak lantas berlumur gula-gula yang serbamanis dan bikin malek. Tulisannya justru acap mengandung kritik yang kental. Namun sebagai mantan aktivis mahasiswa, dia tahu cara mengkritik dengan keras tanpa harus marah-marah. Kritiknya tajam, meski tanpa cacian, apalagi umbar kebencian.
***
Dari karya-karya yang deras mengalir, Prof Djarwo mungkin tidak dengan sengaja memprovokasi apalagi menyindir para koleganya, kaum akademik, agar berbondong-bondong menjadi penulis sepertinya. Tapi darinya kita menjadi bertambah yakin bahwa seorang akademisi memang perlu untuk menulis.
Bahwa intelektualitas itu bukan hal gaib yang konon ada tapi tiada terlihat. Bukan pula laksana kentut yang sekadar bau namun tak tampak wujudnya.
Dari Pak Djarwo kita memahami bahwa pintar itu bukan tentang berderet-geret gelar, melainkan kemampuan dan kemauan mengembangkan nalar. Sang pintar adalah penerang untuk yang samar, suluh bagi yang gelap. Menjadi pintar adalah keinginan untuk bermanfaat, wasilah bagi hadirnya maslahat.
Dengan produktivitas yang menyala-nyala, Pak Djarwo memperlihatkan, cendekiawan itu bukan sebatas sebutan. Bukan label murahan sekadar kartu pass untuk masuk ke lingkar kekuasaan.
Pakar itu bukan predikat gagah-gagahan untuk dipamerkan namun loyo di hadapan kemunkaran. Ilmuwan itu bukan yang di muka mahasiswa jaim tapi di luar kampus malah jadi bumper tirani yang bodoh dan zalim.
Dari Prof Djarwo kita mengerti, bagi dosen-akademisi, menyatakan kebenaran, kejujuran, dan keadilan adalah sebuah tanggung jawab, sebuah keberpihakan, sekaligus misi nan suci. Kaum intelektual ini adalah agen-agen dan tulang punggung kebenaran. Karenanya, bukan kekuasaan, pengabdian utama mereka adalah kepada ilmu pengetahuan, moralitas, dan komitmen atas kemaslahatan orang banyak.
Dengan itu, mereka (mestinya) menjadi tempat orang mengadu, meminta fatwa, bertanya: mencari jawab tentang benar dan salah. Seorang akademisi akan senantiasa bersikap hitam-putih, tidak abu-abu, tidak remang-remang. Benar katakan benar, salah katakan salah.
Seorang akademisi mestinya tidak hanya galak di mimbar, cuma kencang menyalak di ruang seminar, tapi diam seribu bahasa melihat realitas yang berlangsung barbar.
Prof Djarwo adalah contoh hidup: cendekiawan yang serius menjaga pikiran, merawat akal sehat, memeluk hati nurani.
***
Seperti kutipan dalam pembuka tulisan ini, mungkin benar tulisan-tulisan Pak Djarwo tidak dibaca atau dilihat orang sebanyak konten-konten flash sekali lewat di media sosial—yang alih-alih mengandung filsafat, sekadar mengakomodasi formula dasar 5W+1H pun tak sanggup. Tapi kesetiaan guru besar Universitas Malahayati ini menjaga mutu, membuat tulisan-tulisannya tak pernah kehilangan bobot di mata para pembacanya.
Tulisannya memang tak mengejar viral, tapi tak pernah gagal pula menghadirkan cahaya. Cahaya yang berpendar, menyebar, dan kemudian menerangi dengan cara dan medium rupa-rupa.
Bagi sebagian atau kebanyakan orang, tulisan-tulisan Pak Djarwo mungkin dirasa berat. Tapi biar saja. Dia toh tak sedang pamer atau bersombong dengan tulisan-tulisannya.
Dia mungkin sekadar ingin memberi tahu publik bahwa tulisan bermutu itu (masih) ada, penulis bermutu itu (masih) ada. Yang dilakukannya adalah sebuah ikhtiar serius: jangan sampai banjir tulisan jelek yang mengepung dan membuat becek khazanah intelektualitas dan ruang-ruang informasi publik secara perlahan memaksa khalayak, khususnya generasi baru, menjadi terbiasa dengan tulisan-tulisan tidak bermutu.
Khusus bagi saya, sederet karya masterpiece Pak Djarwo adalah rem sekaligus pengingat. Menekuri tulisan-tulisannya, penulis punakawan seperti saya diingatkan untuk tetap menginjak tanah, jangan coba-coba menantang langit, tak pantas membusung dada hanya karena misalnya satu dua tulisan mendapat pujian di media sosial.
Membaca tulisan-tulisannya yang indah, saya berlipat keyakinan bahwa menulis itu kerja yang membanggakan, elegan, lagi menawan. Di sana pikiran diuji sekaligus dicurahkan. Di sana pengetahuan, gagasan dan keterampilan berbahasa sekaligus dipertemukan.
***
Sedari awal, tulisan ini nyaris melulu berisi pujian. Tak jadi soal. Sebagai eks aktivis dan jurnalis, saya terbiasa dan sering mengkritik. Di sini poinnya: memuji adalah cara saya menjaga keseimbangan.
Sebagaimana kritik yang tak melulu jadi obat, pujian pun tak lantas menjelma racun. Sepanjang jujur, objektif dan proporsional, pujian entengkan saja mengalir, jangan dibuat sulit. Tua-tua kita dulu mengajarkan, sepanjang untuk menyenangkan orang lain dan tidak ada pihak yang dirugikan, jangankan benar, pujian dengan sedikit kebohongan pun tidak lantas menjadi haram.
Lagipula, hari ini, 20 Mei 2026, Prof Djarwo sedang berulang tahun. Semua pujian dalam tulisan ini anggaplah kado yang pantas untuk hari jadi ke-73 sang mahaguru.
“Kepada mahasiswa saya sering mengatakan, saya siap untuk dilupakan,” ujar Prof Djarwo kepada saya dalam perbincangan untuk kanal Youtube Gunsan Talk, beberapa hari lalu.
Bagi saya, pernyataan itu lebih terdengar sebagai retorika yang manis, sekadar ekspresi sikap rendah hati seorang begawan, ketimbang kerelaan sepenuh hati untuk satu keniscayaan. Nyatanya, dengan terus menulis nyaris sebanyak dia bernapas, sesungguhnya Prof Djarwo dengan sadar tengah menentang perkataannya sendiri.
Dia adalah persis seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Selamat ulang tahun wahai begawan. Selamat bertambah usia wahai suluh peradaban. Selamat merayakan banyak cinta wahai penjaga kemanusiaan.
Kota Baru, 20 Mei 2026
Juwendra Asdiansyah – Penulis, editor, public speaker, pelukis, tinggal di Bandar Lampung

Tinggalkan Komentar Anda