Opini

Menuju Kebangkitan Umat yang Beradab

Menuju Kebangkitan Umat yang Beradab

Agus Mukhandar

Oleh Agus Mukhandar, Penyuluh Agama Islam dan Dai Dewan Dakwah

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) setiap tanggal 20 Mei semestinya tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi momentum refleksi: ke arah mana bangsa ini sedang bangkit? Pertanyaan ini penting diajukan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, ketika teknologi berkembang pesat, tetapi pada saat yang sama nilai-nilai adab, akhlak, dan kesadaran spiritual justru mengalami tantangan yang serius.

Hari ini manusia hidup di era yang serba terkoneksi. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik. Dunia digital menghadirkan berbagai kemudahan yang belum pernah dibayangkan generasi sebelumnya.

Namun ironisnya, di tengah kemajuan itu, banyak manusia justru kehilangan arah hidup. Waktu habis dalam scrolling tanpa tujuan, budaya membaca melemah, interaksi keluarga semakin renggang, dan ruang-ruang digital dipenuhi pertengkaran, pamer kehidupan, serta hiburan yang melalaikan.

Kita menyaksikan fenomena generasi yang sangat dekat dengan layar, tetapi jauh dari makna. Banyak yang aktif di media sosial, tetapi pasif dalam kehidupan sosial. Sibuk membangun citra diri, tetapi lalai membangun kualitas diri. Teknologi yang semestinya menjadi alat kemajuan justru sering berubah menjadi alat yang memperbudak manusia.

Di sinilah pentingnya membicarakan kembali makna kebangkitan. Sebab kebangkitan tidak cukup dimaknai sebagai kemajuan ekonomi, kemajuan teknologi, atau tingginya popularitas digital semata. Kebangkitan sejati adalah ketika manusia bangkit menjadi pribadi yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih bermanfaat bagi sesama.

Alquran memberikan pelajaran penting bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan manusia itu sendiri:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan umat bukan hanya persoalan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa dan karakter. Sebab bangsa yang maju secara teknologi belum tentu maju secara moral. Bahkan sejarah menunjukkan, banyak peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan ilmu, tetapi karena kerusakan akhlak dan hilangnya adab.

Karena itu, umat Islam tidak boleh hanya mengejar kemajuan material sambil melupakan fondasi spiritual dan moral. Islam mengajarkan keseimbangan antara ilmu dan iman, antara kemajuan dan akhlak, antara kecerdasan dan ketakwaan.

Dalam sejarah Islam, kebangkitan peradaban tidak lahir dari generasi yang malas dan terlena hiburan. Peradaban besar dibangun oleh manusia-manusia yang kuat ruhiyahnya, luas ilmunya, disiplin hidupnya, dan tinggi kepeduliannya terhadap umat. Para ulama dahulu menghabiskan malam dengan belajar dan ibadah.

Mereka menulis, meneliti, berdakwah, dan membangun masyarakat. Dari masjid lahir ilmu pengetahuan. Dari majelis ilmu lahir peradaban.

Hari ini tantangan umat memang berbeda. Jika dahulu penjajahan berbentuk fisik, maka kini penjajahan hadir melalui gaya hidup, hiburan tanpa batas, budaya instan, dan arus informasi yang melemahkan fokus manusia.

Banyak orang akhirnya hidup tanpa tujuan yang jelas. Ukuran keberhasilan bergeser menjadi sekadar viral, terkenal, dan dipuji manusia.

Padahal Nabi Muhammad diutus bukan hanya membawa kemajuan lahiriah, tetapi membangun manusia yang beradab. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Hadis ini menunjukkan bahwa inti kebangkitan Islam sesungguhnya adalah kebangkitan akhlak. Sebab ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Teknologi tanpa iman dapat melahirkan kerusakan. Kebebasan tanpa nilai dapat melahirkan kehancuran.

Karena itu, kebangkitan umat yang beradab harus dimulai dari penguatan keluarga, pendidikan, dan dakwah. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga harus menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan nilai agama sejak dini.

Pendidikan tidak boleh hanya mengejar angka dan prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan integritas. Dakwah pun harus hadir menjawab persoalan zaman, membimbing umat agar mampu menghadapi tantangan digital dengan bijak dan tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.

Generasi muda jangan hanya dipersiapkan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi manusia yang memiliki arah hidup. Mereka harus dibimbing agar menjadikan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan berdakwah, bukan sekadar alat hiburan yang melalaikan.

Kita tentu tidak boleh pesimis terhadap masa depan generasi bangsa. Di tengah derasnya arus negatif, masih banyak anak muda yang mencintai masjid, aktif dalam kegiatan sosial, semangat menuntut ilmu, dan peduli terhadap persoalan umat. Mereka ada, meski sering tidak viral dan tidak banyak mendapat sorotan.

Karena itu tugas para pendidik, dai, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen umat adalah terus menyalakan harapan. Kebangkitan besar selalu dimulai dari kesadaran-kesadaran kecil yang dirawat dengan istikamah.

Akhirnya, peringatan Hari Kebangkitan Nasional hendaknya menjadi momentum untuk meneguhkan kembali arah kebangkitan bangsa dan umat. Jangan sampai kita menjadi generasi yang maju teknologinya tetapi mundur akhlaknya, ramai medianya tetapi kosong jiwanya, serta sibuk membangun dunia tetapi lupa membangun manusia.

Umat ini membutuhkan kebangkitan yang melahirkan manusia-manusia beriman, berilmu, beradab, dan peduli terhadap sesama. Sebab hanya dengan itulah sebuah bangsa akan benar-benar menjadi kuat, bermartabat, dan diridai Allah swt. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda