Endang Ikhtiarti
Oleh: Endang Ikhtiarti (Dosen Prodi S1 Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila)
Bagi masyarakat Prancis, aktivitas bersantap bukan sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan sebuah akar tradisi, representasi keanggunan, dan simbol kemewahan hidup. Gastronomi telah menjadi seni hidup (art de vivre) yang melekat dalam setiap momen penting. Mulai dari perayaan keberhasilan anggota keluarga, pencapaian perusahaan, hingga momentum profesional, selalu dirayakan melalui jamuan makan dan minum.
Sebagai salah satu produsen keju dan anggur terbesar di Eropa, Prancis memiliki keunikan kuliner yang membedakannya dari negara lain. Kedua hidangan ini hampir selalu hadir dalam setiap menu. Kehadiran keju dan anggur yang ikonik inilah yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan dunia untuk berkunjung dan mencicipinya, sekaligus menjadi motor penggerak roda perekonomian Prancis.
Akar Sejarah dan Budaya
Tradisi mengonsumsi keju dan anggur merupakan warisan turun-temurun sejak zaman Renaissance. Bahkan, budaya ini telah dimulai jauh sebelumnya, tepatnya sejak masa kekuasaan Kekaisaran Romawi yang pertama kali memperkenalkan keju di wilayah Prancis.
Saat ini, lebih dari 95% masyarakat dewasa di Prancis mengonsumsi keju setiap hari. Begitu pula dengan anggur (vin), seperti produksi kota Bordeaux yang mendunia lewat varietas anggur merah ternama seperti Merlot dan Cabernet Sauvignon.
Sejarah mencatat bahwa restoran pertama di Prancis lahir pada masa Revolusi Prancis. Memasuki awal abad ke-20, keberadaan restoran mulai mendapatkan perhatian besar dari masyarakat. Kedekatan bangsa Prancis dengan makanan tercermin dalam pepatah terkenal: “bukanlah hidup jika tidak makan dengan baik”, serta “makan tanpa keju bagaikan hari tanpa roti” (un repas sans fromage est comme un jour sans pain).
Ritual dan Seni Jamuan Makan
Bagi masyarakat Prancis, kuliner adalah bentuk penyempurnaan hidup yang memiliki kode, metode, dan aturan tersendiri. Jamuan makan resmi dengan tata cara makan (table manner) dianggap sebagai sebuah ritual sekaligus karya seni yang diatur menurut ritme tertentu.
Dalam urutan penyajian, keju (fromage) umumnya dihidangkan sebelum hidangan penutup (dessert) untuk mengeluarkan seluruh potensi cita rasanya. Hidangan ini disajikan pada suhu ruang di atas piring, ditemani oleh roti, buah kering, dan anggur segar.
Berdasarkan bahan dasarnya, keju Prancis dibagi menjadi tiga kategori utama:
- Susu Sapi (Vache): Contohnya keju Brie yang bertekstur sangat lembut, serta keju Camembert yang terkenal dengan aromanya yang tajam.
- Susu Domba (Brebis): Contohnya keju biru Roquefort.
- Susu Kambing (Chèvre): Berbagai variasi keju kambing khas Prancis.
- Catatan Tambahan: Prancis juga terkenal dengan keju bertekstur keras seperti Comté.
Harmoni Rasa Keju dan Anggur
Perpaduan antara keju dan anggur adalah simbol tradisi yang saling melengkapi. Kandungan protein dan lemak pada keju berfungsi melembutkan kandungan tanin yang pekat pada anggur. Sebaliknya, tingkat keasaman dan aroma dari anggur akan mempertegas kompleksitas rasa keju.
Untuk mengimbangi rasa keju yang kuat, masyarakat Prancis sering memilih anggur full-bodied yang memiliki kadar alkohol tinggi, tanin pekat, serta rasa kuat yang bertahan lama di lidah (aftertaste). Jenis anggur dari kawasan Bordeaux dan Languedoc menjadi pilihan utama. Selain itu, varietas Cabernet Sauvignon juga sangat digemari dan bernilai tinggi karena karakteristik kekentalan dan kadar taninnya yang tinggi. []

Tinggalkan Komentar Anda