Berita Foto

Kenapa Pengucapan Bahasa Prancis Susah bagi Orang Indonesia? Ini Penjelasannya

Kenapa Pengucapan Bahasa Prancis Susah bagi Orang Indonesia? Ini Penjelasannya

Suasana perkuliahan Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Oleh Riza Harani Bangun, Dosen Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

Bukan soal kurang latihan, ada alasan ilmiah yang jarang dibahas di balik sulitnya pelafalan bahasa Prancis untuk penutur Indonesia.

Siapa yang tidak pernah kesulitan mengucapkan kata grenouille (katak) atau feuille (daun) dalam bahasa Prancis? Hampir semua mahasiswa yang belajar bahasa Prancis di Indonesia pernah merasakan hal yang sama: mulut terasa kaku, suara yang keluar aneh, dan rasa frustrasi yang tidak habis-habis.

Ternyata, kesulitan itu bukan karena kurang rajin latihan atau tidak berbakat bahasa. Ada penjelasan ilmiah yang konkret di baliknya, yang berkaitan langsung dengan perbedaan sistem bunyi antara bahasa Indonesia dan bahasa Prancis.

Dua Sistem Bunyi yang Sangat Berbeda

Setiap bahasa punya “inventaris bunyi” tersendiri. kumpulan bunyi yang digunakan untuk membedakan makna. Bahasa Indonesia memiliki sistem yang relatif sederhana dan konsisten: apa yang ditulis kurang lebih sama dengan yang diucapkan.

Bahasa Prancis punya sekitar 37 fonem dengan sistem ejaan yang sangat tidak konsisten. Banyak huruf yang ditulis tapi tidak dibunyikan. Kata Paris dibaca /pari/, huruf S di akhir diam. Kata beaucoup (banyak) dibaca /boku/, huruf P di akhir juga diam. Bagi penutur Indonesia yang terbiasa membunyikan semua huruf, ini langsung membingungkan.

Bunyi yang Tidak Ada di Bahasa Indonesia

Salah satu tantangan terbesar adalah bunyi vokal seperti /y/ dalam kata tu (kamu) atau /ø/ dalam kata peu (sedikit). Bunyi-bunyi ini tidak ada dalam bahasa Indonesia sama sekali. Cara menghasilkannya pun terasa paradoksal: posisi lidah seperti mengucapkan /i/, tapi bibir harus dibulatkan seperti saat mengucapkan /u/.

Hasilnya, otak pelajar Indonesia secara otomatis “memilih” bunyi terdekat yang sudah dikenal, biasanya /i/ atau /u/, sehingga pengucapannya tetap terdengar salah meskipun sudah berusaha. Tantangan lain datang dari vokal nasal seperti /ɑ̃/ dalam dans (di dalam) atau /ɛ̃/ dalam vin (anggur).

Dalam bahasa Indonesia, bunyi sengau selalu muncul karena ada konsonan /m/, /n/, atau /ng/ yang menyertainya. Dalam bahasa Prancis, bunyi sengau itu langsung melekat pada vokalnya dan konsonan N setelahnya justru tidak dibunyikan. Pelajar Indonesia hampir selalu menambahkan bunyi /n/ di akhir, karena itulah yang terasa “logis” bagi telinga mereka.

Huruf R yang Diucapkan dari Tenggorokan

Bunyi yang mungkin paling terkenal sekaligus paling sulit adalah huruf R dalam bahasa Prancis. Dalam bahasa Indonesia, huruf R diucapkan dengan ujung lidah yang bergetar di belakang gigi bunyi yang kita sebut /r/ apikal (ujung lidah). Dalam bahasa Prancis, huruf R diucapkan jauh di belakang tenggorokan, di bagian yang disebut uvula.

Cara paling mudah menggambarkannya: bayangkan sensasi saat berkumur. Getaran di bagian belakang tenggorokan itulah yang mendekati bunyi R bahasa Prancis. Tidak heran banyak pelajar Indonesia yang menganggap bunyi ini terdengar seperti “suara orang sedang sakit” saat pertama kali mendengarnya.

Ini Bukan Soal Bakat, Tapi Soal Peta Bunyi

Para ahli linguistik menjelaskan fenomena ini dengan konsep yang disebut “transfer negatif”, ketika sistem bahasa ibu justru menghambat pembelajaran bahasa baru. Ketika otak mendengar bunyi asing yang tidak ada padanannya dalam bahasa ibu, ia akan secara otomatis memetakannya ke bunyi terdekat yang sudah dikenal.

Ahli fonetik Patricia Kuhl menyebutnya efek perceptual magnet — bunyi asing yang mirip dengan fonem bahasa ibu akan “ditarik” dan dipersepsikan sebagai fonem bahasa ibu tersebut. Ini bukan kelemahan, melainkan cara kerja otak yang efisien. Hanya saja, efisiensi ini jadi hambatan saat belajar bahasa asing.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Memahami akar masalahnya adalah langkah pertama. Bagi pengajar, ini berarti pembelajaran pengucapan perlu lebih dari sekadar “tirukan saya”, pelajar perlu diajari apa yang terjadi di dalam mulut secara anatomi, dan dilatih kemampuan mendengar sebelum kemampuan berbicara.

Bagi pelajar, mendengarkan audio bahasa Prancis sebanyak mungkin, lewat film, lagu, atau podcast bukan sekadar hiburan, melainkan latihan otak yang nyata. Paparan bunyi yang masif terbukti membantu otak membentuk “peta bunyi” baru yang lebih akurat.

Yang paling penting: kesulitan itu wajar dan ada alasannya. Bahasa Indonesia dan bahasa Prancis adalah dua sistem bunyi yang berada di titik sangat berjauhan. Jarak itu nyata, tapi bukan berarti tidak bisa dijembatani. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda