Opini

Dinullah Rayes Pergi, dan Kita Makin Asing dari Sastra

Dinullah Rayes Pergi, dan Kita Makin Asing dari Sastra

Dinullah Rayes

Oleh Udo Z Karzi

“SELAMAT jalan Pak Din… hal yang tak sempat-sempat kulakuan, meminta puisi-puisi Pak Din untuk dimuatan di bungasetara.com dengan dilengkapi analisisnya,” tulis penyair Doddi Ahmad Fauzi di Facebook, 1 Mei 2026.

Kalimat itu pendek. Sangat pendek malah. Tapi, justru di situ terasa sedihnya. Ada sesuatu yang tertinggal. Ada pekerjaan kecil yang terus ditunda sampai akhirnya waktu keburu habis.

Begitulah seringnya nasib para sastrawan kita. Ketika masih hidup, mereka berjalan tenang di pinggir perhatian. Ketika wafat, barulah orang tergopoh-gopoh mengenang.

Hari itu kabar duka datang: H. Dinullah Rayes, penyair senior dari Nusa Tenggara Barat, wafat bakda Jumatan, 1 Mei 2026. Koperasi Insan Sastra Indonesia (KISI) menyampaikan belasungkawa. Ternyata beliau sesama anggota KISI.

Dan anehnya, setiap kali mendengar seorang penyair wafat, saya bukan hanya teringat orangnya, tetapi juga teringat sebuah zaman.

Kabar tentang Dinullah Rayes membuat saya mendadak terlempar ke masa sekolah tahun 1980-an di Liwa. Masa ketika guru bahasa Indonesia masih mengenalkan sastrawan dengan penuh semangat, seolah sastra memang penting bagi kehidupan.

Saya masih ingat Ibu Maryunani dan Ibu Yeti Puspenda di SMPN Liwa (kini: SMPN 1 Liwa). Mereka memperkenalkan kami pada nama-nama sastrawan Indonesia melalui sebuah buku sederhana: Sari Sastra Indonesia.

Isinya tidak rumit. Hanya nama pengarang, judul karya, sedikit sinopsis, beberapa kutipan. Tetapi bagi anak-anak kampung seperti kami, buku itu seperti jendela yang membuka dunia lain.

Dari sanalah saya mengenal Chairil Anwar, Hamka, NH Dini, Motinggo Busye, sampai Dinullah Rayes.

Ya, Dinullah Rayes.

Nama yang waktu itu terdengar jauh, asing, tetapi justru menarik. Penyair dari Sumbawa. Dari Nusa Tenggara Barat. Dari luar pusat keramaian sastra Indonesia.

Buat kami yang hidup jauh dari Jakarta, ada kegembiraan kecil mengetahui bahwa sastra Indonesia ternyata tidak hanya lahir dari ibu kota. Ada penyair dari pulau lain. Ada suara dari daerah yang bahkan belum tentu masuk berita nasional.

Dan karena rasa penasaran itu, saya mulai rajin berburu buku di perpustakaan sekolah. Membaca apa saja yang tersedia. Kadang buku lama dengan halaman mulai kecokelatan. Kadang majalah sastra yang sudah hampir copot jilidnya. Kadang koran bekas bungkus yang masih menyisakan puisi di salah satu sudut halaman.

Begitulah generasi kami mengenal sastra: dengan rasa lapar.

Mungkin karena akses terbatas, setiap karya terasa penting. Setiap nama pengarang terasa berharga. Kami membaca bukan karena tugas sekolah semata, tetapi karena penasaran.

Hari ini situasinya terbalik.

Akses bacaan begitu mudah. Semua ada di internet. Orang bisa membaca puisi dari seluruh dunia hanya lewat telepon genggam. Tetapi ironisnya, justru makin sedikit yang mengenal sastrawan.

Anak-anak sekarang mungkin lebih hafal nama seleb TikTok daripada nama penyair Indonesia. Lebih tahu drama media sosial daripada cerita pendek. Lebih akrab dengan konten daripada sastra.

Tidak semuanya memang. Masih ada anak muda yang membaca puisi, masih ada komunitas sastra yang hidup, masih ada guru yang tekun memperkenalkan karya sastra kepada murid-muridnya. Tetapi jumlahnya terasa terlalu kecil di tengah banjir hiburan digital yang datang tanpa henti.

Maka, wafatnya Dinullah Rayes terasa seperti simbol dari sesuatu yang lebih besar: kita makin asing dari sastra.

Padahal, orang seperti Dinullah Rayes bukanlah figur sembarangan. Ia bagian dari generasi yang membangun sastra Indonesia dari daerah, dari pinggir, dari tempat-tempat yang jauh dari pusat kekuasaan budaya.

Lahir di Kalabeso, Sumbawa, pada 1937—ada juga catatan yang menyebut 1939—Dinullah Rayes pernah menjadi guru SD pada 1956—1965. Setelah itu ia berkecimpung dalam dunia kebudayaan di Kabupaten Sumbawa. Ia pernah menjadi Kepala Bidang Kebudayaan, Ketua Dewan Kesenian Sumbawa, dan Ketua Lembaga Adat Tana Samawa.

Tetapi jabatan tentu bukan yang paling penting. Yang membuat namanya bertahan adalah ketekunannya menulis.

Sejak 1956 ia aktif menulis puisi, cerpen, esai, drama, dan artikel kebudayaan. Karyanya dimuat di berbagai media nasional: Abadi, Pelita, Panji Masyarakat, Sinar Harapan, Republika, Bali Post, hingga Dewan Sastra Malaysia.

Bayangkan menjadi sastrawan daerah pada masa itu.

Belum ada internet. Belum ada surel. Mengirim karya berarti mengetik rapi, memasukkannya ke amplop, membeli perangko, lalu menunggu berhari-hari atau berminggu-minggu dengan harapan dimuat media nasional.

Tetapi Dinullah Rayes melakukannya selama puluhan tahun.

Ia menulis bukan demi viral. Bukan demi pengikut media sosial. Bukan demi centang biru. Ia menulis karena percaya kata-kata penting bagi kehidupan manusia.

Hari ini, ketika semua orang bisa menulis status setiap menit, justru semakin sedikit yang benar-benar menulis dengan kesungguhan batin seperti generasi Dinullah Rayes.

Karya-karyanya tersebar di berbagai antologi penting: Anak Kecil Bunga Rumputan dan Capung Ramping (1975), Hari Ulang Tahun (1980), Kristal-Kristal (1982), hingga antologi legendaris Dari Negeri Poci. Ia juga hadir dalam berbagai antologi bersama penyair Indonesia dan ASEAN.

Semua itu menunjukkan satu hal: Dinullah Rayes tidak bekerja sendirian. Ia bagian dari jaringan panjang sastrawan Indonesia yang diam-diam membangun kebudayaan dari bawah.

Tanpa gaduh. Tanpa sensasi.

Puisinya yang berjudul Jakarta berbicara tentang keterasingan manusia di tengah kota besar. Tentang sepi yang justru tumbuh di tengah keramaian. Dan lucunya, puisi seperti itu terasa makin relevan sekarang.

Hari ini kita hidup di tengah keramaian digital yang luar biasa. Semua orang bicara. Semua orang mengunggah sesuatu. Semua orang tampak terkoneksi. Tetapi entah mengapa manusia tetap terasa sepi.

Barangkali karena kita terlalu sibuk menggulir layar sampai lupa merenung.

Sastra sebenarnya menawarkan jeda. Ia mengajak orang pelan-pelan memahami hidup, memahami orang lain, memahami dirinya sendiri. Tetapi budaya kita sekarang bergerak terlalu cepat untuk itu.

Orang ingin semuanya ringkas. Cepat. Instan. Bahkan puisi pun kadang dipaksa menjadi sekadar kutipan estetik untuk ditempel di Instagram.

Karena itu, kehilangan sosok seperti Dinullah Rayes bukan hanya kehilangan seorang penyair tua dari Sumbawa. Ini juga pengingat bahwa hubungan kita dengan sastra makin renggang.

Dulu kami mengenal sastrawan dari perpustakaan sekolah. Sekarang orang lebih mengenal algoritma.

Dulu kami berburu buku. Sekarang orang berburu konten.

Dulu nama penyair bisa tinggal lama di kepala murid sekolah. Sekarang perhatian orang bahkan sulit bertahan satu menit.

Selamat jalan, Pak Din.

Mungkin generasi baru tak banyak lagi mengenal nama Anda. Tetapi bagi kami yang pernah tumbuh bersama buku-buku sastra lusuh di perpustakaan sekolah, nama itu pernah menjadi bagian penting dari perjalanan mencintai sastra Indonesia.

Dan hari ini, ketika Anda pergi, kami diam-diam sadar: jangan-jangan yang benar-benar sedang hilang bukan hanya seorang penyair, melainkan juga tradisi membaca sastra itu sendiri. []

__________
Udo Z Karzi, pembaca sastra yang sesekali jadi tukang tulis, tinggal di Bandar Lampung.

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda