Gufron Azis Fuadi
Setelah ditolak keras oleh penduduk Thaif, Nabi Saw tidak bisa langsung masuk ke Makkah karena ancaman kafir Quraisy. Dalam hal ini Nabi Saw membutuhkan bantuan perlindungan dari, munimal satu tokoh Quraisy yang disegani.
Dan pilihannya jatuh kepada Muth’im bi Adi, tokoh kafir Quraisy dari Bani Naufal. Dengan Muth’im bin Adi, Nabi Saw telah lama berteman baik karena sama sama aktif di perkumpulan Hifdul Fudhul. Suatu aliansi para aktivis kebaikan yang fokus kepada membela orang orang yang mengalami pendzaliman di kota Mekkah.
Kemudian Muth’im memerintahkan anak anaknya untuk bersenjata dan bersama sama mengawal Nabi Saw memasuki pelataran dan thawaf sekeliling Kakbah. Dan pada kesempatan itu Muth’im bin Adi mengumumkan bahwa Muhammad bin Abdullah ada dalam perlindungannya dan tidak seorang pun yang boleh mengganggu keselamatannya.
Sehingga mengundang tanya para tokoh Quraisy, apakah engkau (Muth’im) telah memeluk agamanya Muhammad ataukah hanya melindungi!
“Tidak, aku hanya memberikan perlindungan keamanan saja…” jawab Muth’im.
Kisah ini bukan saja menunjukkan luasnya lingkaran pergaulan nabi Saw yang kemudian menjadi modal sosial guna mendukung peejuangan dakwahnya, tetapi
juga menunjukkan bahwa Nabi Saw memilki kecerdasan sosial yang mumpuni. Sehingga Nabi Saw selalu tepat dalam memilih dan memperlakukan orang lain.
Menurut teori, kecerdasan sosial adalah kemampuan individu atau seseorang untuk memahami, berinteraksi, dan merespons orang lain serta lingkungan sosial nya secara efektif, positif dan bijaksana.
Kecerdasan sosial mencakup kepekaan terhadap perasaan orang lain (empati), kemampuan komunikasi, serta manajemen konflik yang konstruktif.
Selain modal sosial, suksesnya rekrutmen dan pembinaan para sahabat menjadi jundiyah muthi’ah juga sangat dipengaruhi oleh kecerdasan sosial beliau Saw.
Efektivitas rekrutmen dan pembinaan sangat dipengaruhi oleh luasnya modal sosial dan kecerdasan sosial para rekuiter dan pembina.
Dalam kajian ilmu sosial, seseorang disebut memiliki kecerdasan sosial yang tinggi bila memiliki:
(1). Empati Tinggi, yaitu kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain.
“Tidaklah beriman kepadaku seseorang yang bermalam dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan di sampingnya, sedangkan ia mengetahuinya.” (HR. Al-Hakim dan Thabrani)
(2). Pendengar Aktif, yaitu mampu menjadi pendengar aktif, memberikan perhatian penuh dan memahami situasi.
Rasulullah Saw dikenal sebagai pendengar yang baik. Ketika Amr ibn Al-Jamuh (seorang sahabat yang pincang) bersikeras ikut Perang Uhud, Nabi Saw mendengarkan keluhan putranya, lalu mendengarkan dengan penuh perhatian (active listening) pembelaan Amr tanpa memotong dan dengan empati. Baru kemudian membuat keputusan.
(3). Komunikasi Efektif. Pandai berbicara secara efektif dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai tipe kepribadian.
Dalam sebuah hadits, Nabi Saw bersabda: “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (kemampuan pemahaman) mereka.” (HR. Muslim).
(4). Manajemen Konflik.
Mampu menengahi perbedaan dan mencari solusi damai dengan berbagai pihak Sebelum menjadi nabi, beliau Saw sudah mampu menjadi penengah atau problem solver bagi masyarakat Quraisy yang diujung konflik tentang siapa yang paling berhak dalam pemasangan kembali Hajar Aswad saat pemugaran Ka’bah. Saat setelah hijrah ke Madinah, mampu menyatukan berbagai komponen kekuatan melalui “Piagam Madinah”.
(5). Kesadaran Situasi. Hal ini terkait dengan pemahaman terhadap norma sosial yang berlaku dan kepiawaian dalam membaca bahasa tubuh. Ada sebuah kaidah:
العادة محكمة (Al-‘Adatu Muhakkamah)”Adat kebiasaan dapat dijadikan sebagai (dasar) hukum.”
Dalam surat Al Hujurat dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (li-ta’arafu). Saling mengenal ini mencakup memahami dan menghormati latar belakang budaya masing-masing. Dan selanjutnya mampu bersikap secara presisi sesuai dengan lingkungan sosial yang dihadapi.
Dakwah yang sedang kita tapaki adalah dakwah yang berorientasi pada terjadinya perubahan sosial. Bukan sekedar menjadikan seseorang yang saleh secara ritual tetapi tidak memiliki kesalehan sosial. Bukan hanya menjadi rahib yang ahli ibadah tetapi juga menjadi fursanun, penunggang kuda yang pemberani, produktif dan bermanfaat luas.
Dakwah Nabi Saw berhasil melakukan perubahan sosial dari masyarakat jahiliah menjadi masyarakat tauhid dan berkeadilan. Sejahtera hidupnya, mandiri dan berwibawa di antara bangsa bangsa lainnya diantaranya disebabkan oleh modal sosial dan kecerdasan sosial Nabi Saw dan para sahabat.
Karenanya menjadi tugas dan pekerjaan para dai dan aktivis dakwah untuk memperluas modal sosial dan meningkatkan kecerdasan sosial nya agar rekrutmen lebih beragam dan lebih sukses. Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda