Arya Dharma Putra
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Arya Dharma Putra, mahasiswa Program Studi S1 Informatika Universitas Teknokrat Indonesia, Kampus Terbaik di Lampung, meraih juara II di kelas 67 kg dan juara III di kelas 71 kg pada ajang Fighter of Road to PON Bela Diri Lampung, 13-14 Februari 2026.
Arya Dharma Putra adalah seorang atlet boxing yang memiliki dedikasi tinggi terhadap disiplin dan adaptabilitas.
Kepada wartalampung.id hari ini, ia mengatakan, pencapaian ini, ditambah dengan keberhasilan lolos seleksi PON, merupakan manifestasi dari kemampuan dirinya dalam menyusun strategi dan manajemen waktu yang presisi antara dunia akademik dan olahraga prestasi.
Bagi Arya, kuliah di S1 Informatika Teknokrat mengajarkan cara berpikir strategis, sementara boxing menempa kedisiplinan dan ketangguhan mental.
Arya bilang, kehadirannya adalah untuk membuktikan bahwa mahasiswa Teknik mampu mencetak prestasi tertinggi di kancah olahraga nasional tanpa meninggalkan kewajiban akademik.
Sementara itu, Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr HM Nasrulllah Yusuf SE MBA menyampaikan olahraga beladiri (seperti pencak silat, taekwondo, karate, judo, dll.) memiliki peran signifikan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang ditetapkan PBB.
Berbagai studi, kata Nasrullah, termasuk dari UNESCO, menyoroti beladiri sebagai alat efektif untuk pengembangan pemuda dan pemberdayaan masyarakat.
Berikut adalah SDGs yang didukung langsung oleh olahraga beladiri:
- SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being)
o Peran: Beladiri meningkatkan kesehatan fisik (kekuatan, fleksibilitas) dan mental (disiplin, ketenangan) serta memerangi gaya hidup sedenter (kurang gerak) dan penyakit tidak menular.
o Konteks: Program bela diri di komunitas membantu mengurangi kecemasan dan depresi, serta meningkatkan rasa percaya diri.
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas (Quality Education)
o Peran: Beladiri, khususnya dalam konteks pendidikan jasmani, mengajarkan nilai-nilai kehidupan (life skills) seperti disiplin diri, respek (hormat), sportivitas, dan tanggung jawab.
o Konteks: UNESCO menggunakan beladiri sebagai metode pendidikan untuk mengajarkan budaya non-kekerasan dan menghormati keberagaman.
- SDG 5: Kesetaraan Gender (Gender Equality)
o Peran: Program beladiri yang dikelola dengan baik memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki, memberdayakan perempuan melalui keterampilan pertahanan diri, dan menantang stereotip gender.
- SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities)
o Peran: Beladiri seringkali inklusif dan dapat diakses oleh populasi yang kurang beruntung, penyandang disabilitas, atau pengungsi (misalnya, Yayasan Kemanusiaan Taekwondo).
- SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat (Peace, Justice, and Strong Institutions)
o Peran: Beladiri mengajarkan pengendalian diri, resolusi konflik tanpa kekerasan, dan saling menghormati.
o Konteks: Dalam konteks lokal Indonesia, pencak silat melestarikan budaya asli, memperkuat identitas, dan mendidik karakter, yang mendukung stabilitas sosial.
- SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals)
o Peran: Organisasi beladiri bekerja sama dengan lembaga internasional (seperti UNESCO ICM) dan komunitas lokal untuk mempromosikan nilai-nilai SDG melalui inisiatif “Sport for Development”.
The International Platform on Sport and Development +7
Secara keseluruhan, beladiri bukan hanya tentang pertarungan, tetapi sebagai media edukasi dan pembangunan manusia yang berkelanjutan.
Rektor berharap, prestasi atlet di masa mendatang lebih baik daripada yang dicapai sekarang. []

Tinggalkan Komentar Anda