Pesisir Barat

Dengan Baslor Solihin Hidupi Dua Anak, Jadi Ayah dan Ibu Sekaligus

Dengan Baslor Solihin Hidupi Dua Anak, Jadi Ayah dan Ibu Sekaligus

Baslor jualan Solihin. Zaqia Azzahra

Wartalampung.id, Krui – Istri Solihin meninggal dunia pada 2024 karena penyakit saraf yang dideritanya. Almarhumah meninggalkan Solihin bersama kedua putri mereka.

Sejak saat itu, peran Solihin berganti. Ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi kedua anaknya. Solihin kini berumur 43 tahun.

Sepeninggal istrinya pada 2024, ia sempat merasa terpuruk dan putus asa. Namun, kehidupan terus berjalan, ia harus bangkit demi kedua putrinya.

Untuk menghidupi anak-anaknya, Solihin berganti-ganti pekerjaan. Mulai dari menjadi tukang bakso ikan keliling hingga berjualan baslor atau bakso telor.

Baslor adalah makanan khas Bandung yang terbuat dari tepung tapioka dengan campuran daging ayam, lalu dibentuk seperti bakso, dilapisi telur, kemudian digoreng. Solihin mulai berjualan baslor pada tahun 2026.

Keseharian Solihin dimulai pukul 05.00 kala ia ia beribadah. Kemudian ia mengurusi putri bungsunya, lalu menyiapkan bahan-bahan dagangan.

Ia mulai berjualan dari pukul 08.00 hingga matahari terbenam. Suara motornya khas “brum-brum”.

Ia biasanya berkeliling di sekitar daerah Rawas hingga pasar atau mangkal di depan SMAN 1 Pesisir Tengah. Omzet berjualan baslor Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.

“Alhamdulillah, bersyukur saja,” ujarnya sambil tersenyum kepada wartalampung.id hari ini.

Dari uang itulah ia menghidupi kedua putrinya.

Saat pertama kali berjualan baslor, ia tidak merasa gugup karena sudah terbiasa berdagang sejak dahulu. Pada malam hari, ia sering memikirkan masalah ekonomi bagaimana besok dan ke depannya.

Namun ia sadar, melamun hanyalah kegiatan yang tidak bermanfaat. Lebih baik ia mengobrol dan berkumpul bersama kedua putrinya.

Pesannya untuk anak muda, “Yang rajin belajarnya, biar sukses,” ujarnya.

Ia tahu lelahnya tak pernah benar-benar selesai. Namun setiap pagi ia tetap mendorong dagangannya, karena ada dua pasang mata kecil yang menunggu di rumah, percaya bahwa ayahnya selalu pulang membawa harapan.

Bagi orang lain, baslor itu hanya jajanan pinggir jalan, tetapi bagi dirinya itu adalah cara seorang ayah menukar keringat dengan masa depan anak-anaknya.

Mungkin suatu hari nanti, ketika kedua putrinya berdiri dengan seragam profesi mereka, tak banyak orang tahu bahwa di balik keberhasilan itu ada seorang ayah yang diam-diam mengalahkan rasa lelahnya setiap hari. [Zaqia Azzahra/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda