Pesisir Barat

Putri Agustira Ramadhani: Cerita tentang Belajar, Jatuh, Bangkit, dan Terus Melangkah

Putri Agustira Ramadhani: Cerita tentang Belajar, Jatuh, Bangkit, dan Terus Melangkah

Putri Agustira Ramadhani

Wartalampung.id, Krui – “Wah…., ternyata ini sangatlah keren dan menyenangkan,” ujarnya dalam hati.

Kalimat itu muncul pelan ketika Putri Agustira Ramadhani menggenggam trofi lomba tari pertamanya saat duduk di bangku sekolah dasar. Benda itu tidak besar, tetapi cukup membuat dadanya terasa hangat.

Bukan sekadar rasa senang karena menang, melainkan keyakinan kecil bahwa gerakan-gerakan yang selama ini ia latih berulang ternyata memiliki arti. Dari sana, panggung tidak lagi terasa asing baginya.

Putri lahir di Liwa pada 19 Agustus 2010. Dunia tari sebenarnya telah ia kenal sejak taman kanak-kanak. Saat itu, ia menari karena diminta, bukan karena keinginan sendiri.

Penampilan pertamanya di depan umum justru dipenuhi kegugupan. Tubuhnya kaku, gerakannya tidak luwes, dan demam panggung membuat setiap hitungan terasa berat.

“Saat itu tubuhku bahkan kaku dari awal hingga akhir penampilan, ” ujarnya kepada wartalampung.id hari ini.

Kemudian ia melanjutkan ceritanya.

“Bahkan dulu saat salah gerakan pas latihan, aku menangis tersedu-sedu, ” ujarnya mengingat masa kecilnya.

Namun, pengalaman itu tidak berhenti sebagai kenangan, melainkan menjadi langkah awal pembiasaan.

Seiring waktu, panggung mulai terasa lebih akrab. Pada penampilan kedua ia masih gugup, tetapi tidak sepanjang pertunjukan. Di kesempatan berikutnya, rasa cemas itu perlahan hilang.

“Mulai terbiasa,” ujarnya.

Dari situ, tari bukan lagi kewajiban, melainkan ruang yang ia nikmati.

Perjalanan Putri tidak lepas dari peran sang ibu. Sejak kecil, ibunya mendaftarkannya ke sanggar tari setiwang di Lampung Barat dan terus mendampinginya belajar.

Dari sanalah Putri mulai mengenal tari secara lebih serius. Jika ditanya siapa guru paling berkesan, putri menjawab, “Ibu Verlida.”

Pelatih yang mengajarkannya bahwa tari tidak semudah yang terlihat.

“Dari olah tubuh sampai detail kecil, semuanya penting,” ujarnya.

Dari guru itu pula ia belajar bahwa menari tidak selalu harus selembut bayangan orang.

Pada masa awal, tantangan terbesar adalah mengikuti tempo musik.

Ia merasa gerakannya lambat dan sering tertinggal irama. Namun sifat ambisius membuatnya bertahan.

“Aku pengen kelihatan paling keren,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Ia mulai menghafal gerakan per bagian, satu hitungan demi satu hitungan, lalu menyatukannya dengan musik hingga tubuhnya hafal sendiri.

Rutinitas latihan berkembang seiring waktu. Saat SD dan SMP, latihan dilakukan jika ada lomba atau pertunjukan.

Kini, jadwalnya lebih padat. Ia bisa berlatih beberapa kali seminggu, bahkan setiap hari ketika jadwal tari semakin dekat. Untuk menjaga keseimbangan, ia membuat skala prioritas.

“Biasanya PR langsung dikerjain dulu agar latihan tidak berbenturan dengan tanggung jawab sekolah,” ujarnya,

Prestasi datang bertahap. Tahun 2019 ia meraih juara III lomba tari kreasi tingkat kabupaten. Ia merasa bangga, meski terselip keinginan untuk meraih hasil lebih baik.

Setelah itu, ia berhasil meraih juara I tingkat kabupaten saat SD dan kembali juara I pada jenjang SMP. Kemenangan yang paling ia ingat adalah saat kelas enam.

Ia meraih juara I kabupaten ketika ia berhasil melaju ke tingkat provinsi. Prosesnya berat, penuh latihan, tangis, dan dimarahi pelatih.

Namun dari sanalah ia merasa wawasannya tentang tari terbuka lebih luas.

Namun, perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Pada salah satu lomba di jenjang SMP, ia hanya meraih harapan I. Kekalahan itu terasa berat karena menurutnya bukan semata hasil penampilannya.

Dari sana ia belajar menerima kenyataan dan tetap melangkah.

Kesalahan di panggung juga pernah dialami. Saat kelas enam, properti tari yang ia gunakan terjatuh. Ia panik dan langsung mengambilnya.

“Harusnya cari timing dulu,” ujarnya.

Pengalaman itu mengajarkannya ketenangan dan kesadaran situasi.

Selain lomba, panggung pertunjukan menjadi bagian lain dari perjalanannya. Ia tampil di Krui Fair, Krui Pro 2023 dan 2024, Taman Budaya, hingga Bandar Lampung.

Ia bahkan pernah menjadi pelatih tari tradisional di Sanggar Seni Teluk Stabas. Dari situ, ia memahami bahwa tari bukan hanya tentang tampil, tetapi juga berbagi.

Putri lebih menyukai tari kreasi karena memberi ruang ekspresi lebih luas.

“Gerakannya enggak flat, dibandingkan dengan tari tradisional, tari kreasi lebih ekspresif, jadi aku suka,” ujarnya.

Menjelang lomba, ia biasanya latihan penuh dua hari sebelumnya, lalu beristirahat sehari agar kondisi tubuh tetap terjaga. Setiap selesai latihan, gerakannya dievaluasi melalui rekaman video yang direkam oleh pelatih.

Bagi Putri, tari bukan sekadar aktivitas. Ia menjadi sumber kebahagiaan, kepercayaan diri, dan tempat bertumbuh.

“Tari itu keluarga keduaku,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap memandangnya sebagai hobi. Cita-citanya ke depan mengarah ke bidang kesehatan, selaras dengan kegemarannya pada kimia dan biologi.

Menjaga prestasi akademik bukan hal mudah. Dispensasi sering membuatnya tertinggal pelajaran.

Namun ia terbiasa belajar mandiri untuk mengejar ketertinggalan. Ritme itu latihan, sekolah, tampil menjadi bagian dari hidupnya.

Kini, ia menatap target berikutnya, termasuk mengikuti ajang FLS3N dan liga tari. Di sela perjalanannya, ia menyimpan pesan bagi anak-anak yang sedang berjuang menemukan jalannya.

“Jangan biarin ketakutan jadi halangan buat nyoba,” ujarnya.

Ia percaya potensi akan muncul ketika seseorang berani keluar dari zona nyaman. Kepada dirinya di masa kecil pun ia punya pesan yang sama bahwa setiap usaha yang dijalani akan menemukan jalannya sendiri.

Dari ketertarikan dalam hati hingga langkah yang semakin mantap di panggung, perjalanan Putri berjalan perlahan namun pasti. Setiap gerakan yang ia latih tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga keteguhan.

Sebab, bagi dirinya, tari bukan sekadar rangkaian gerak, melainkan cerita tentang belajar, jatuh, bangkit, dan terus melangkah. [Salsa Bila Aini/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda