Sofianur
Wartalampung.id, Krui – “Brrrr…, brrrr…, brrrr…” suara mixer memecah sunyi pukul dua pagi. Seluruh rumah masih terlelap, hanya lampu dapur yang menyala redup.
Di sana, Sofianur mengocok adonan kue tat, kue tradisional khas Krui yang ia buat untuk ia jual. Aroma mentega dan selai nanas perlahan memenuhi ruangan.
Bagi Sofianur, dapur bukan sekadar tempat memasak, melainkan tempat bertahan. Suaminya telah pergi untuk selamanya, meninggalkan ia bersama empat putrinya. Kesedihan sempat datang, tetapi ia memilih bangkit demi anak-anaknya.
Saat fajar mulai mendekat dan kue-kue telah matang, Sofianur bersiap mengenakan seragam. Ia kemudian berangkat mengajar di SMPN 1 Krui.
Dari dapur ke ruang kelas, ia menjalani dua peran sekaligus seorang ibu dan seorang guru. Di tengah sunyi dini hari, setiap kue yang ia buat menjadi tanda keteguhan hati.
Bagi Sofianur, kerja keras adalah cara menjaga harapan agar masa depan anak-anaknya tetap menyala.
Kue tat adalah kue tradisional khas Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kue ini berbentuk persegi atau bulat pipih dengan lapisan selai nanas di bagian atasnya.
Teksturnya lembut dan sedikit padat karena terbuat dari campuran tepung terigu, telur, mentega, dan gula, kemudian dipanggang di dalam oven hingga berwarna kuning keemasan. Kue tat biasanya disajikan saat acara keluarga, hari raya, dan menjadi hidangan khas ketika bulan Ramadan.
Selain itu, banyak wisatawan yang datang ke Krui membeli kue tat sebagai oleh-oleh khas daerah. Bagi masyarakat setempat, kue tat bukan hanya makanan, tetapi juga bagian dari tradisi dan kebersamaan.
Namun Usaha kue tat itu tidak langsung berhasil. Sofianur mulai berjualan sejak 2013. Saat itu ia hanya menitipkan kue buatannya kepada orang lain, terutama ketika bulan Ramadan.
Namun kue-kue itu sering belum terjual. Ia sempat merasa kecewa, tetapi tidak berhenti mencoba.
Tahun 2016 menjadi titik perubahan. Ia memutuskan berjualan dari rumah dan mulai mempromosikannya melalui Facebook.
Perlahan pesanan berdatangan. Warga sekitar hingga pendatang yang berlibur ke Krui mencari kue tat sebagai oleh-oleh khas daerah.
Menurutnya, penjualan paling ramai terjadi saat Ramadan dan Tahun Baru. Meski begitu, hampir setiap hari selalu ada pembeli yang datang ke rumahnya.
“Setiap hari pasti ada saja yang membeli. Alhamdulillah, selalu ada rezeki,” ujarnya kepada wartalampung.id hari ini.
Dari usaha kue tat itulah Sofianur menghidupi dirinya dan keempat putrinya. Perlahan, jerih payahnya berbuah hasil.
Anak-anaknya tumbuh dan menempuh pendidikan hingga tinggi; ada yang menjadi guru, ada pula yang bekerja sebagai perawat. Baginya, setiap loyang kue yang terjual bukan hanya pemasukan, melainkan jalan agar anak-anaknya memiliki masa depan lebih baik dari yang pernah ia rasakan.
Ia pun berpesan kepada anak muda agar tidak mudah menyerah. Menurutnya, keberhasilan tidak selalu datang dari pekerjaan besar, tetapi dari ketekunan menjalani hal kecil setiap hari. Selama mau berusaha dan sabar, rezeki akan menemukan jalannya sendiri. [Zaqia Azzahra/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda