Isam penjual siomai (kiri). | Dokumentasi
Wartalampung.id, Krui – Pukul 08.35 pagi, suasana rumah terasa sunyi. Udara seperti ikut menahan perasaan orang tua yang berusaha ikhlas melepas kepergian anak harapan terakhir keluarga.
Ia adalah Isam, 22 tahun, berasal dari Majalengka, Jawa Barat. Demi membantu ekonomi keluarga, Isam memilih merantau jauh ke Krui, Lampung, untuk mencari rezeki.
Ia hanya mengenakan baju hitam sederhana dan celana panjang. Tidak ada koper mahal, hanya satu tas berisi pakaian seperlunya.
Itulah yang ia bawa dari Majalengka menuju Lampung. Ia berangkat bersama enam temannya menggunakan mobil.
Mereka melewati jalan panjang dan menyeberangi lautan dengan harapan yang sama: bekerja dan membantu keluarga.
Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di Krui. Tempat baru, bahasa sedikit berbeda, dan tidak ada keluarga yang dikenal.
Isam dan teman-temannya tinggal di rumah sederhana dekat pantai. Rumah itu menjadi tempat mereka beristirahat di pulau orang.
Isam bekerja sebagai penjual siomai. Ia berjualan keliling atau mangkal di depan SMAN 1 Pesisir Tengah.
Pada hari pertama, ia merasa gugup. Namun ia sadar, rasa itu harus dihadapi demi keluarganya di kampung.
Setiap hari Isam bangun saat subuh. Ia tidur di atas karpet merah di kamar kecilnya.
Udara pagi terasa dingin. Ia segera berwudu dan beribadah, memohon agar rezekinya lancar.
Setelah itu, ia menyiapkan dagangan dengan teliti. Sekitar pukul 08.30 pagi ia mulai berjualan.
Suara motor tuanya terdengar, “brum-brum”, menandakan hari kerja dimulai. Ia berjualan hingga sore. Sepulangnya, ia biasanya langsung tidur atau bermain gim.
“Kalau masalah dipikirkan terus, nanti stres,” katanya kepada wartalampung.id beberapa hari lalu.
Suatu hari ia mengalami kejadian yang tidak terlupakan. Saat mengisi bensin motor, ia lupa mematikan kompor di dekat gerobaknya.
Api sempat menyambar dan membakar bagian motor. Ia panik, tetapi warga sekitar segera membantu memadamkan api. Sejak saat itu ia lebih berhati-hati.
Penghasilannya tidak menentu. Kadang cukup, kadang pas-pasan, tetapi tetap bisa membantu keluarga di rumah.
“Sekitar enam ratus ribu… itu juga kalau dagangan habis,” ujarnya.
Menurutnya, bulan Agustus biasanya paling ramai karena banyak kegiatan. Sementara Januari sampai menjelang puasa cenderung sepi.
Meski begitu, ia tetap berjualan setiap hari dan tidak menyerah.
Pesannya sederhana, “Belajarlah yang sungguh-sungguh supaya bisa sukses.”
Di kota orang, Isam mungkin hanya penjual siomai biasa. Namun bagi keluarganya, ia adalah harapan yang terus berjalan setiap pagi, berjuang tanpa banyak mengeluh. [Zaqia Azzahra/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda