Wartalampung.id, Karya Penggawa – Saat langit masih berbalut kelabu, di antara sunyi dan cahaya malam yang kian redup, suara azan seolah sedang membujuk pendengar untuk meninggalkan kenyamanan tidur demi meraih keutamaan ibadah waktu fajar.
Di rumah sederhana di Desa Penengahan Laay, Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat. Misdalena, seorang ibu rumah tangga yang berumur 37 tahun, perlahan kembali sadar, seolah waktu sedang memanggil kembali.
Sejak membangun rumah tangga, hidupnya berjalan dalam ritme yang sama: bangun salat subuh, menanak nasi, menyiapkan makanan, membersihkan rumah, lalu menata tenaga sebelum hari benar-benar kembali bernapas.
Senin, 29 Desember 2025, sekitar jam tujuh atau delapan pagi, langkah kakinya mulai menyusuri jalan menuju tempat ia menjemput rezeki di luar garis utama kehidupan.
Ia berjalan kaki. Jarak tempat ia bekerja tak jauh, sekitar lima menit saja. Namun, beban yang ia bawa setiap hari jauh lebih berat dari jarak itu.
Di sebuah bagunan sederhana, di Desa Penengahan Laay terdapat aneka butiran getah damar yang telah tertata rapi di dalam karung, Misdalena perlahan membukanya dengan kesiapan penuh.
Ia kemudian mulai mengambil alat kerjanya: tampah bambu, ayakan kayu, dan ember. Ia lalu duduk berjam-jam.
Tangannya dengan lihai memilah di atas tampah bambu, memisahkan butiran getah damar satu per satu. Yang putih dan bersih ia pisahkan dan diletakkan di ember yang berbeda.
Yang yang hitam dan bercampur kayu, ia bersihkan. Dipisahkannya kayu yang menempel dari butiran damar itu.
Ia mengambil ayakan kayu lalu dengan lihai ia menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah untuk mendapatkan butiran getah yang bersih.
“Damar yang bagus adalah yang putih bersih tanpa kayu, warnanya jernih dan mengilap. Jika hitam dan kotor, kualitasnya rendah,” ujar Misdalena kepada wartalampung.id.
Ia bukan perempuan dengan mimpi besar. Pendidikan terakhirnya hanya sampai ke SMP. Hidup memintanya seolah untuk berjuang lebih keras.
Lima tahun lalu keadaan memaksanya melangkah keluar dari ruang domestik. Ia memilih untuk menjadi pemilih damar atau dalam bahasa setempat akrab dengan pemileh damagh.
Bukan karena cita-cita, bukan pula karena pilihan, melainkan terdesak keadaan. Ia menjalankannya dengan ikhlas.
Damar yang telah dipilih akan dipindahkan ke gudang lalu dijual. Dalam sehari beratnya tidak menentu.
”Kadang 70 kg, kadang kurang. Sesuai dengan damarnya. Jika bagus, hasilnya akan banyak,“ kata dia.
Misdalena memilih bekerja sebagai pemilih damar karena anak-anaknya yang masih sekolah.
“Kalau berhenti milih damar, bagaimana dengan kebutuhan anak-anak.”
Dua hari cukup baginya untuk bisa bekerja mandiri saat pertama kali belajar. Tidak ada kesalahan yang berarti di awal, semua dijalaninya dengan ikhlas.
Jam terus bergerak, matahari mulai meninggi dan pinggang Misdalena mulai sakit. Terlalu lama duduk membuat rasa sakit itu datang tiba- tiba, namun ia tetap bertahan demi anak-anaknya.
Pernah suatu hari tubuhnya benar-benar menyerah, ia sangat kelelahan hingga jatuh sakit dan harus beristirahat selama tiga hari.
“Sudah minum obat dan berobat, tetapi sakit pinggang itu masih sering datang,“ kata dia.
Penghasilan dari memilih damar tidak menentu.
”Kadang Rp70 ribu, kadang kurang dalam sehari, bergantung pada jumlah damarnya,” katanya.
Uang itu dipakai untuk membeli beras, sayur, dan kebutuhan anak. Di antara kebutuhan itu, beras paling berat. Sebab, mahal dan harus selalu dibeli.
Meskipun hidup pas-pasan, Misdalena tidak pernah berutang. Ada hari-hari Misdalena tanpa penghasilan sama sekali, saat libur memilih. Namun ia tidak pernah mengeluh.
Tetap disyukuri apa yang ada,” kata dia.
Baginya, damar adalah pemasukan harian. Tidak ada aturan adat khusus atau pantangan dalam pekerjaannya. Ia juga tidak pernah terpikir bahwa pekerjaan ini akan hilang.
“Damar ini ada terus,” ujarnya.
Misdalena menyimpan harapan sederhana, punya pekerjaan yang lebih layak dan penghasilan yang lebih besar.
Ia ingin berhenti memilih damar.
Namun hingga kini, belum ada pekerjaan lain yang pasti. Jika suatu hari ada pekerjaan yang lebih baik dan berpenghasilan lebih besar, ia tidak ragu meninggalkan damar.
Untuk sementara, ia bertahan demi keluarga.
Untuk generasi muda di kampungnya, ia berpesan.
”Rajinlah belajar dan kejar cita-cita supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada saya,” katanya.
Itu cerita Misdalena. Di balik tumpukan damar yang ia pilah setiap hari, ada harapan keluarganya tetap bisa makan. [Novi Yana/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda