Pesisir Barat

Nyumbat Nyiur di Pekon Walur

Nyumbat Nyiur di Pekon Walur

Wartalampung.id, Krui – Pagi di Pekon (Desa) Walur, Kecamatan Krui Selatan, Kabupaten Pesisir Barat, selalu dimulai dengan bau asin laut yang bercampur tanah basah.

Matahari sudah sepenuhnya terbit ketika suara kelapa dikupas “krasak… krasak…” menggunakan alat sumbat, seperti irama pembuka kehidupan.

Di halaman rumah yang sederhana, tumpukan kelapa (nyiur) menjulang setinggi dada orang dewasa.

Di sanalah roda ekonomi kecil berputar, jauh dari hiruk-pikuk kota, tetapi tak pernah benar-benar berhenti.

Di balik tumpukan kelapa itu berdiri Novasa (51), seorang pengepul kelapa yang telah menekuni pekerjaannya selama 14 tahun.

Berdiri sambil menghitung kelapa satu per satu. Tangannya kasar, gerakannya hati-hati.

Ia tahu, setiap butir kelapa adalah hasil kerja petani yang menunggu kepastian setiap pagi. Ia menunggu hasil panen warga yang datang dari kebun-kebun kelapa di sepanjang Kabupaten Pesisir Karat.

“Awalnya hanya coba-coba karena di Desa Walur ini pohon kelapa melimpah,” kata dia kepada wartalampung.id, Ahad lalu, 28/12/2025.

Dari keyakinan sederhana itu, usaha ini perlahan tumbuh. Dengan modal awal Rp5 juta yang ia peroleh melalui pinjaman bank dan koperasi, Novasa mulai membangun usahanya pada 2011.

Tahun-tahun berlalu, tumpukan kelapa datang silih berganti. Halaman itu berubah menjadi ruang hidup bagi banyak orang.

Kelapa-kelapa yang telah dikupas kemudian didistribusikan sesuai dengan pesanan sebagian menuju pasar-pasar sekitar. Sebagian lain menempuh perjalanan lebih jauh hingga Baturaja, Sumatera Selatan.

Harga jualnya berbeda-beda, bergantung pada ukuran dan bentuk. Kelapa besar dihargai Rp6.500 per butir, sementara yang kecil dijual Rp5.000 di tempat itu.

Kelapa tak hanya ditimbang, tetapi juga dikelompokkan: grade A untuk yang besar, AB untuk ukuran sedang, dan C untuk yang kecil.

Tak ada yang benar-benar terbuang. Kelapa yang pecah atau tak lagi layak jual, diolah kembali menjadi kelapa kering atau kopra.

Dari satu butir kelapa, selalu ada jalan untuk tetap bernilai. Seperti usaha Novasa lahir dari kesederhanaan, bertahan dengan ketekunan, dan tumbuh bersama orang-orang yang menggantungkan hidup di sekitarnya.

“Inilah satu-satunya yang bisa saya kerjakan. Berkebun tidak bisa, melaut tidak bisa,” ujarnya seraya tersenyum.

Tak jauh dari Novasa, di bawah genting sederhana, tumpukan kelapa menggunung di sekeliling. Di sana, para ibu dan bapak berdiri menyebar, mengupas, dan me-nyumbat kelapa dengan gerak yang nyaris serempak.

Nyumbat merupakan kegiatan mengupas kelapa menggunakan alat tradisional khas daerah Krui yang disebut sumbat. Alat ini ditancapkan ke tanah dan bentuknya menyerupai linggis, tetapi memiliki fungsi dan bentuk yang berbeda.

Dalam prosesnya, pe-nyumbat berdiri sambil menancapkan bagian pangkal kelapa secara miring pada ujung sumbat, kemudian mengupas sabut kelapa dengan gerakan terarah.

Tangan-tangan itu bekerja dalam diam, hanya diselingi bunyi tempurung yang dikupas dan desah napas yang tertahan oleh lelah.

Di antara mereka ada Ilhamna (48), Marissa (42), Jesika (45), dan Sinta (68).

Mereka datang dari latar yang berbeda, sebagian lahir dan besar di Desa Walur, sebagian lain rantauan dari Palembang dan Pulau Jawa. Di bawah genting yang sama, perbedaan asal perlahan luruh.

Dalam sehari, setiap orang di tempat itu mampu mengupas sekitar tiga ratus hingga empat ratus butir kelapa bergantung pada tenaga yang tersisa dan banyaknya pesanan yang datang.

Angka-angka itu tak pernah mereka hitung dengan suara, tetapi dengan rasa lelah di tangan dan pegal di punggung.

“Capek memang, tapi nyumbat kelapa bikin saya tidak merasa sendirian di rumah. Di sini bisa ngobrol, bisa tertawa,” ujar Marissa disertai tawa kecil.

Di antara mereka, Sinta (68) tak hanya me-nyumbat kelapa, tetapi juga memiliki kebun kelapa sendiri. Kelapa-kelapa dari kebunnya ia jual kepada pengepul dengan harga Rp4.500 per butir.

Angka itu cukup berarti bagi hidup yang dijalaninya dengan penuh kesabaran. Sejak 1980, Sinta telah mengikatkan hari-harinya pada pekerjaan ini.

Tahun demi tahun berlalu, genting boleh berganti, orang-orang datang dan pergi, tetapi tangannya tetap setia membuka tempurung, seperti membuka lembar-lembar hidupnya sendiri.

Menjelang sore, tumpukan kelapa perlahan menyusut. Bunyi kelapa dikupas tak lagi seramai pagi, digantikan jeda-jeda sunyi yang menyimpan lelah.

Di bawah genting sederhana itu, hari hampir selesai, tetapi kerja belum benar-benar usai.

Mereka pulang membawa sisa tenaga dan harapan yang sederhana cukup untuk hari esok. Tak ada nama besar, tak ada sorotan.

Hanya tangan-tangan yang setia bekerja, membuka kelapa sekaligus membuka jalan bagi kehidupan.

Di balik tumpukan kelapa yang kian menipis, tersisa cerita tentang ketekunan dan tentang orang-orang yang memilih bertahan, meski mungkin dunia jarang menoleh ke arah mereka. [Zaqia Azzahra/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda