Wartalampung.id, Krui – Saat mentari belum sepenuhnya bangun, perahu biru milik M. Yadi sudah mengapung di air. Ia berhenti sejenak, menatap laut yang gelap dan tenang.
“Bismillah..” katanya lirih, seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Bagi Yadi, laut bukan sekadar tempat mencari ikan tetapi juga sebagai penentu kehidupan. Ibarat rumah sebagai tempat pulang, tempat bergantung, sekaligus tempat yang tak selalu ramah.
M. Yadi (51) tinggal di Pasar Ulu Krui. Sejak kelas 1 SMP, ia sudah membantu ayahnya berlayar mencari ikan. Bukan karena cita-cita, melainkan karena lingkungan keluarganya yang mayoritas menggantungkan hidup dengan laut.
“Keluarga memang nelayan semua, jadi dari kecil sudah diajari,” ujarnya.
Hingga hari ini, Yadi masih sering melaut sendiri. Di atas perahu Ia berjuang untuk menentukan hidup kedepannya.
Jika melaut dekat, Yadi berangkat sekitar jam lima subuh. Namun jika targetnya jauh, ia sudah berlayar sejak pukul 03.00 WIB. Perahunya melaju hingga 30 mil ke tengah laut, sampai daratan tak lagi terlihat.
Semakin jauh jarak melaut, semakin besar pula risiko dan harapan. Di laut yang dalam, peluang mendapatkan ikan besar seperti tuna, marlin, dan layaran lebih tinggi terutama pada musim tertentu.
Menurut Yadi, musim ikan tuna dan sejenisnya biasa datang antara bulan Maret hingga September. Pada bulan-bulan itu, jika cuaca mendukung, hasil tangkapan bisa jauh lebih baik.
Namun laut tidak selalu bersahabat. Dalam setahun, kondisi laut yang benar-benar bagus hanya sekitar enam bulan.
Enam bulan sisanya, cuaca cenderung buruk seperti ombak besar, angin kencang, dan badai yang sering datang tiba-tiba.
“Kalau cuaca ekstrem, nelayan libur, yang nekat itu biasanya yang kepepet,” kata dia.
Pada masa laut tidak bersahabat itu, banyak nelayan perantau memilih pulang kampung. Yadi, yang menetap di pesisir, lebih sering duduk di pinggir pantai memikirkan cara untuk bertahan hidup sambil menunggu apa yang ia sebut rumah kembali membaik.
Yadi mencari berbagai spesies ikan namun ada batas yang harus ia jaga, seperti ikan hiu dan penyu adalah tangkapan terlarang.
“Semua ikan itu sulit, Tidak ada yang gampang,” katanya.
Ia menggunakan alat pancing dengan umpan yang menjadi kunci utama.
“Umpan itu kayak empeng ke anak kecil, biasanya berupa ikan kecil karena laut bersifat kanibal atau mau bisa juga pakai ikan palsu seperti rapala, ” katanya sambil tersenyum.
Selain itu, nelayan juga memanfaatkan rumpon sebagai sarang ikan buatan di tengah laut. Rumpon diletakkan di kedalaman sekitar 10–20 meter, dengan pemberat dari semen di bawah dan pelampung besar di permukaan laut sbagai penanda.
Ikan-ikan kecil berputar di sekitarnya, memudahkan nelayan mencari tangkapan. Namun, tetap saja, hasil tidak pernah bisa dijanjikan.
Ada hari ketika laut memberi banyak. Ada pula hari ketika Yadi pulang tanpa membawa satu ekor ikan pun.
“Sering juga pulang kosong. Ya mau nggak mau, ngutang dulu di warung buat modal,” ungkapnya.
Pendapatan rata-rata per bulan sekitar Rp5 juta, itu pun masih kotor. Kadang untung, kadang tidak. Semua kembali pada laut dan cuaca.
Ketika perahu merapat, ikan tidak langsung ke pasar. Ikan berpindah ke tangan agen, tangan kedua dalam rantai hidup nelayan.
Di lapak Way Nipah, ikan diturunkan dan ditimbang.
“Berapa jual tongkol sekarang bos?” tanyanya pada agen.
Sambil menyiapkan timbangan agen menjawab
“Rp10.000 lagi murah sekarang,” jawab agen singkat.
Tongkol menjadi ikan yang paling banyak diminati dan paling murah sekitar Rp10 ribu per kilogram, sementara ikan tuhuk biasa disebut marlin menjadi ikan paling mahal yang dibanderol dari harga Rp35 ribu-Rp36 ribu per kilogram.
Jenis ikan lain memiliki harga berbeda, bergantung pada bentuk, jenis, musim, dan cuaca. Ikan paling mahal bisa mencapai kurang lebih Rp35 ribu-Rp36 ribu per kilogram, tetapi harga bisa turun saat musim ikan melimpah.
Sistemnya sederhana: ikan dibeli, ditimbang, lalu disesuaikan dengan harga pasar hari itu. Dari nelayan, ikan berpindah ke agen, lalu ke penjual pasar. Tiga tangan sebelum akhirnya sampai ke konsumen.
“Hampir semua nelayan bisa berenang. Sekitar 99℅ pasti bisa,” kata Yadi.
Bukan untuk gaya, tapi untuk bertahan hidup. Perahu terbalik bukan hal asing. Jika itu terjadi, yang terpenting adalah selamat. Perahu bisa ditarik kembali.
Di tengah laut, sinyal hampir tidak ada. Hanya sekitar 5 mil dari pantai sinyal bisa ditangkap.
GPS menjadi penunjuk arah utama itupun tak semuanya ada. Namun tetap saja, laut menyimpan cerita yang tidak selalu bisa dijelaskan.
Pernah suatu waktu, Yadi merasa tersesat. Ia tidak menemukan jalan pulang. Suara-suara seperti memanggil namanya terdengar di tengah laut, yang berteriak pun pernah ia dengar.
Ia tidak banyak bercerita. “Laut itu luas,” katanya pelan.
Meskipun laut memberikan hidup yang penuh dengan ketidakpastian, Yadi tidak pernah mengeluh berlebihan.
“Biarpun perjuangan itu susah, kami tetap bersyukur. Itu sudah jadi perjuangan kami,” ujarnya dengan percaya diri.
Bagi M. Yadi, laut bukan hanya tempat bekerja. Laut adalah rumah yang menentukan hidup kadang memberi, kadang menguji, tapi selalu menjadi tempat ia kembali menggantungkan harapan.
“Asal netes, artinya walaupun sedikit hasil tangkapan laut yang didapat yang penting ada untuk menyambung hidup.”
Itulah yang selalu mereka percaya di parkiran perahu Way Nipah, Kuala Stabas, Kelurahan Pasar Krui, Kecamatan Pesisir Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, itu. [Izzati Fatonah/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Tinggalkan Komentar Anda