Berita Foto

Pebasket Andalan SMAN 1 Pesisir Tengah Rafif Dzaki Ghazwani, Kejar Misi ke UGM demi Profesi Dokter

Pebasket Andalan SMAN 1 Pesisir Tengah Rafif Dzaki Ghazwani, Kejar Misi ke UGM demi Profesi Dokter

Rafif Dzaki Ghazwani (kanan)

Wartalampung.id, Krui – Minggu sore, 7 Desember 2025, lapangan basket Liwa. Sepatu berdecit mengikuti setiap pergerakan pemain.

Bola memantul cepat tanpa jeda. Sorakan penonton bersahutan memenuhi udara.

Di tengah tensi pertandingan yang kian memanas, Rafif berdiri sedikit membungkuk. Ia mencoba mengatur napas yang belum sepenuhnya kembali normal.

Bajunya basah oleh keringat, dadanya naik turun cepat, wajahnya tegang namun menyimpan tekad.

Rasa gugup sempat menghantuinya di awal pertandingan. Takut kalah, takut melakukan kesalahan, takut mengecewakan tim.

“Di pertandingan pertama sempat gugup dan takut kalah. Tapi setelah berhasil menang sekali, rasa takut itu pelan-pelan berkurang. Aku mulai lebih percaya diri dan akhirnya bisa menikmati setiap momen di lapangan,” ujarnya.

Turnamen yang diikuti Rafif kala itu adalah Lampung Barat Basketball 3 x 3 Tournament Kategori U-18.

Acara digelar di Liwa, Lampung Barat. Tepat dua hari setelah ujian sekolahnya berakhir.

Rafif bertanding bersama rekan setimnya, Vandel, Amar, dan Rahmat. Mereka menghadapi tim-tim kuat seperti Way Tenong, Kebun Tebu, dan Smansa Liwa, di bawah arahan pelatih Bisma.

Ia mengisi posisi shooting guard (SG), posisi yang menuntut ketenangan, kecepatan, serta keberanian mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Ketika pengumuman akhirnya dibacakan.

“Juara tiga lomba basket putra 3 x 3 tingkat Provinsi Lampung diraih oleh SMAN 1 Pesisir Tengah.”

Suara itu membuat sorakan penonton pecah. Namun, Rafif tidak melonjak atau berteriak.

Ia hanya mengangguk pelan. Bagi Rafif, hasil itu bukan sekadar angka atau podium, melainkan penanda bahwa rasa takut bisa dilewati selama seseorang mau bertahan hingga akhir.

Lapangan itu menjadi saksi atas seluruh kerja keras dan usaha yang telah ia jalani sebelumnya.

Rafif Dzaki Ghazwani adalah putra ketiga Suryono dan Rini Kartika. Ia kini menempuh pendidikan di SMAN 1 Pesisir Tengah.

Ketertarikannya pada basket tidak lahir dari ambisi besar. Awalnya sederhana ia disarankan oleh seorang guru. Ia hanya mengikuti, tanpa ekspektasi apa pun.

Namun seiring waktu, latihan yang dijalani berubah menjadi kebiasaan, dan kebiasaan itu tumbuh menjadi hobi yang ia cintai dan tekuni dengan serius.

Latihan rutin dilakukan dua kali seminggu, setiap Rabu dan Kamis, sehabis asar sekitar pukul 15.40. Dua minggu menjelang lomba, intensitas latihan meningkat menjadi empat hingga lima kali seminggu.

Tubuh lelah, rasa malas kadang datang, dan rasa insecure pernah muncul terutama saat melihat kemampuan dribel lawan yang terasa lebih unggul. Namun Rafif memilih satu cara: berlatih lebih keras dan terus mencoba. Semua kerja keras itu akhirnya berbuah manis.

Di luar lapangan, Rafif hidup dalam ritme disiplin. Hari-harinya dimulai lebih pagi dari kebanyakan teman seusianya.

Ia bangun, salat, membantu pekerjaan rumah seperti menyapu dan membantu memasak, lalu berangkat sekolah sekitar pukul 06.45.

Ia dikenal sebagai siswa yang jarang terlambat. Sepulang sekolah, jalurnya hampir selalu sama: lapangan basket.

Setelah magrib, ia mandi, lalu melanjutkan malam dengan menjaga warung orang tua atau mengikuti les daring bahasa Inggris di  English For Everyone (EFE).

Jika tidak ada kegiatan, waktunya diisi dengan bermain game seperti Mobile Legends atau Roblox, atau berkumpul bersama teman yang sering membuatnya lupa waktu.

Dalam bidang akademik, perjalanan Rafif tergolong panjang dan konsisten. Sejak SD, ia hampir selalu berada di peringkat atas. Namun satu momen masih melekat kuat: kelas II SD semester I, ketika ia tidak meraih juara. Saat itu ia menangis, merasa gagal.

Dari kegagalan itulah mental pantang menyerahnya terbentuk.

Prestasi akademiknya terus berlanjut. Ia menjadi juara umum kelas V dan kelas VI semester I, serta meraih juara III OSN tingkat SD sekabupaten.

Di SMP, ia kembali meraih juara satu hampir setiap semester dan menjadi juara umum di beberapa semester penting. Meski sempat merasa malas dan kesulitan menghadapi soal OSN, ia memilih bertahan.

Memasuki SMA, untuk pertama kalinya Rafif tidak berada di posisi teratas. Pada semester pertama, ia berada di peringkat dua.

Bukan karena kemampuannya menurun, melainkan karena ia tengah belajar mengimbangi dua dunia yang sama-sama ia perjuangkan: akademik dan nonakademik.

Angka itu menjadi ruang refleksi baginya tanda bahwa ada hal yang perlu dibenahi. Sejak saat itu, Rafif menyadari bahwa keseimbangan adalah kunci, dan fokus antara belajar serta basket harus kembali dijaga dengan lebih bijak.

Perjalanan akademiknya memang tidak selalu mulus. Di SMP kelas VII, ia pernah mendapatkan nilai 45 pada mata pelajaran IPS. Namun, nilai itu menjadi titik refleksi, bukan akhir.

Setahun kemudian, kerja kerasnya membuahkan hasil ia meraih nilai 100 pada IPS, pendidikan agama, dan bahasa indonesia. Memasuki SMA, tantangan kembali datang. Nilai terendah 60 sempat ia peroleh di sosiologi kelas 11, tetapi di sisi lain ia mencatatkan nilai tertinggi 92 pada matematika.

Dari angka-angka itu, terlihat jelas bahwa kegigihan dan disiplin menjadi kunci perjalanannya.

Tekanan belajar kerap membuat Rafif mudah lelah dan stres. Ia menyadari ekspektasi orang-orang di sekitarnya cukup besar. Namun satu kalimat dari ibunya selalu ia pegang erat:

“Kalau tidak dijalani, kita tidak akan tahu hasilnya. Jangan menyerah dulu.”

Dukungan sang ibu hadir nyata buku pelajaran dibelikan, perlengkapan latihan dipenuhi, dan setiap usaha selalu dihargai. Dari sanalah Rafif belajar bahwa dukungan tidak harus lantang, cukup konsisten.

Saat stres datang, Rafif menenangkan diri dengan membayangkan hasil yang ingin dicapai. Laut di belakang rumah menjadi tempat favoritnya untuk menata ulang pikiran.

Ia adalah pribadi yang cenderung memendam perasaan, jarang menunjukkan marah, dan sering tanpa sadar melintir rambut saat melamun. Ia menyukai kesederhanaan kaos biasa dan celana training.

Makanan favoritnya ayam goreng bagian paha dan buah naga, sementara matematika menjadi pelajaran yang paling ia cintai. IPS dan sejarah masih menjadi tantangan, dengan alasan sederhana: terlalu banyak hafalan.

Sejak TK, cita-cita Rafif tidak berubah: menjadi seorang dokter. Ia ingin menolong keluarga dan banyak orang. Targetnya jelas melaju hingga OSN matematika tingkat nasional, berprestasi di DBL, dan melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia mengidolakan Jerome Polin, sosok yang menurutnya membuktikan bahwa kecintaan pada ilmu bisa membuka banyak peluang.

Bagi Rafif, prestasi memang menyenangkan, tetapi proses adalah bagian terpenting. Ia memilih memaknai hidupnya seperti lagu “Happiness” karena kebahagiaan, baginya, lahir dari perjalanan panjang yang dijalani dengan tekun.

Perjalanan Rafif di lapangan basket maupun di ruang kelas belum selesai. Ia tidak berusaha menjadi yang paling sempurna, melainkan menjadi pribadi yang terus belajar, berjuang, dan tidak berhenti percaya pada kemampuannya sendiri.

Selama ia terus melangkah, satu hal yang ia yakini: usaha yang dijalani dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. [Salsa Bila Aini/Novi Yana/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda