Pesisir Barat

Ngumbai Repong: Ketika Damar, Doa, dan Manusia Menjadi Satu

Ngumbai Repong: Ketika Damar, Doa, dan Manusia Menjadi Satu

Wartalampung.id, Krui – Kabut pagi turun perlahan di Krui. Menyelimuti perbukitan dan repong damar yang telah diwariskan turun-temurun.

Di tanah Pesisir Barat, Lampung, hutan bukan sekadar ruang hijau, melainkan bagian dari kehidupan. Dari sanalah masyarakat hidup, berharap, dan bersyukur.

Dalam kesadaran itulah ngumbai repong hadir sebuah tradisi adat yang menyatukan doa, alam, dan manusia.

Ngumbai repong bukan hanya ritual tahunan, melainkan penanda hubungan yang harmonis antara masyarakat dan repong mereka.

Tradisi ini menjadi ungkapan syukur atas keberlimpahan hasil hutan dan kebun terutama getah damarse rta doa agar alam tetap memberi kehidupan di masa mendatang.

Segalanya dimulai dari musyawarah adat. Tokoh adat, tokoh agama, dan perangkat pekon duduk bersama, merundingkan waktu, membentuk panitia, serta menyiapkan seluruh keperluan.

Musyawarah bukan sekadar prosedur, melainkan cermin nilai hidup masyarakat Krui kebersamaan, mufakat, dan rasa tanggung jawab kolektif.

Adat dijalankan bukan karena kewajiban semata, tetapi karena kesadaran bersama.

Hari pelaksanaan pun tiba. Pekon berubah menjadi ruang perayaan budaya.

Sambutan demi sambutan disampaikan oleh tokoh adat, agama, dan pemerintah, menegaskan bahwa ngumbai repong adalah milik semua, lintas generasi dan kepentingan.

Tarian adat tampil anggun, nyambai dilantunkan seperti nasihat leluhur yang hidup kembali, sementara pencak silat Lampung menunjukkan keteguhan dan kehormatan masyarakat pesisir.

Ketika malam turun, suasana menjadi khusyuk. Doa bersama dilantunkan di masjid atau tempat khusus.

Dalam keheningan, masyarakat menundukkan kepala, memohon keselamatan, kelancaran, dan keberkahan. Doa-doa itu mengalir seiring angin laut dan aroma tanah basah, naik menuju langit sebagai pengakuan bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta ciptaan Tuhan.

Puncak ngumbai repong terjadi saat fajar menyingsing. Masyarakat bergerak menuju repong mereka masing-masing.

Di sanalah ritual ngumbai dilakukan mengumpulkan dan memanen hasil hutan dengan tata cara yang sarat makna. Setiap tetes getah damar yang mengalir bukan hanya hasil kerja, melainkan anugerah yang patut disyukuri.

Dalam beberapa prosesi, dilakukan ritual simbolik seperti menancapkan pucuk aren atau menyiram air cendana. Tindakan sederhana itu menyimpan doa panjang: agar tanah tetap subur, hutan tetap lestari, dan kehidupan terus berlanjut.

Alam diperlakukan dengan hormat, bukan dieksploitasi, sebab masyarakat Krui percaya bahwa keseimbangan adalah kunci keberlimpahan.

Setelah ngumbai usai, pekon kembali dipenuhi tawa dan hiburan. Tarian dan pencak silat kembali digelar, hadiah perlombaan dibagikan, dan kebersamaan dirayakan.

Namun, adat tidak berhenti pada kegembiraan. Ada evaluasi, laporan penggunaan biaya, dan refleksi Bersama tanda bahwa tradisi ini dijalankan dengan tanggung jawab dan kejujuran.

Bagi masyarakat Pesisir Barat, ngumbai repong adalah doa yang bergerak dan syukur yang diwujudkan. Ia mengajarkan bahwa rezeki tidak datang semata dari kerja keras, tetapi juga dari keharmonisan dengan alam dan keikhlasan dalam bersyukur kepada Allah swt.

Lebih dari itu, ngumbai repong menjaga ingatan kolektif agar anak cucu kelak tahu bahwa damar, hutan, dan doa pernah menyatukan manusia dalam satu ikatan yang utuh.

Selama repong masih dirawat dan doa masih dilantunkan, ngumbai repong akan terus hidup menjadi jejak kearifan lokal yang tumbuh di antara akar damar dan langit Krui. [Zaqia Azzhara/Nadia Anjel/Clarisya/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Catatan: Sumber foto portal berita milik Pemkab Pesisir Barat

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda