Firman Seponada dan Juwendra Asdiansyah
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Perjalanan Aliansi Jurnalis Independen (Aji) Bandar Lampung sejak awal berdiri tidak lepas dari dinamika strategi kepemimpinan, keterlibatan dalam advokasi isu publik, serta konsistensi menjaga etika jurnalistik.
Hal tersebut terungkap dari hasil wawancara dengan dua mantan Ketua AJI Bandar Lampung, Firman Seponada dan Juwendra Asdiansyah, yang berbagi refleksi pengalaman mereka memimpin organisasi jurnalis independen tersebut.
Refleksi itu disampaikan setelah Diskusi Publik dan Malam Anugerah Saidatul Fitriah & Komaroeddin Awards 2025 yang digelar AJI Bandar Lampung.
Keduanya hadir untuk menceritakan perjalanan AJI Bandar Lampung dari masa ke masa, sekaligus menegaskan nilai-nilai yang hingga kini tetap dijaga organisasi.
Firman mengisahkan saat dirinya memimpin AJI Bandar Lampung pada awal 2000-an, organisasi tersebut masih tergolong baru dan belum memiliki basis yang kuat.
Karena itu, strategi utama yang ditempuh adalah membangun jejaring dengan kalangan akademisi serta organisasi non-pemerintah (NGO) atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang lebih dulu eksis di Lampung.
“Setiap kepengurusan itu pasti punya strategi masing-masing. Waktu saya, konsentrasinya mendekat ke akademisi dan kawan-kawan LSM,” ujar Firman.
Ia menyebut beberapa organisasi yang kerap menjadi mitra AJI Bandar Lampung kala itu, antara lain Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), serta sejumlah organisasi advokasi lain yang bergerak di isu demokrasi, lingkungan, dan hak asasi manusia.
Menurutnya, kolaborasi tersebut tidak hanya sebatas diskusi, tetapi juga diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan advokasi.
Salah satu pengalaman advokasi paling panjang dan melelahkan adalah keterlibatan AJI Bandar Lampung dalam koalisi LSM yang menolak pengerukan Bukit Camang.
Bukit tersebut dikeruk untuk pembangunan perumahan real estate, sementara materialnya digunakan untuk menimbun laut.
Advokasi tersebut dilakukan sekitar dua tahun melalui kritik, pemberitaan, dan keterlibatan dalam aksi-aksi penolakan. Namun, upaya itu tidak membuahkan hasil.
Firman menilai, pada masa itu kemampuan masyarakat sipil dalam memengaruhi kebijakan publik masih terbatas, sementara kekuatan modal dan kepentingan ekonomi berjalan sangat kuat.
Sedangkan Juwendra Asdiansyah menceritakan bahwa pada masa kepemimpinannya, AJI Bandar Lampung mulai mendorong pendekatan kreatif untuk menjaga kualitas jurnalisme.
Salah satu langkah penting yang diambil adalah melahirkan tradisi penghargaan jurnalistik.
Menurutnya, dunia jurnalisme semakin ramai dengan berbagai kepentingan, sehingga diperlukan cara untuk menjaga nilai-nilai dasar jurnalisme.
Salah satunya dengan menunjukkan contoh konkret tentang seperti apa jurnalisme yang baik. Ukuran paling objektif dari jurnalis yang bagus adalah karya jurnalistiknya.
Dari pemikiran tersebut, lahirlah Anugerah Saidatul Fitriah dan Komaroeddin, yang hingga kini masih menjadi agenda tahunan AJI Bandar Lampung.
Penghargaan Anugerah Saidatul Fitriah diberikan khusus untuk karya jurnalistik, bukan untuk individu jurnalis. Satu karya bisa dimenangkan oleh lebih dari satu orang jika dikerjakan secara bersama-sama.
Nama Saidatul Fitriah dipilih sebagai simbol jurnalis yang memiliki keberanian dan idealisme tinggi.
Sementara Komaroeddin Award diberikan kepada individu atau lembaga yang dinilai memiliki peran besar dalam menjaga dan memperjuangkan kebebasan pers, demokrasi, dan hak asasi manusia.
“Kalau Komaroeddin itu lebih luas. Bukan cuma soal karya jurnalistik, tapi kontribusi terhadap iklim kebebasan pers,” jelas Juwe.
Kedua mantan ketua AJI Bandar Lampung tersebut menegaskan sikap tegas terhadap pelanggaran etika jurnalistik, AJI tidak menoleransi praktik penerimaan amplop atau imbalan dalam bentuk apa pun terkait peliputan, karena masuk kategori suap.
Keduanya berharap AJI Bandar Lampung tetap menjadi kumpulan jurnalis yang berintegritas, berilmu, rendah hati, konsisten menjaga independensi, memperjuangkan kesejahteraan jurnalis, serta melahirkan karya-karya jurnalistik yang berkualitas dan berdampak bagi masyarakat. [Anggi Dwi Raharti]

Tinggalkan Komentar Anda