Nusantara

Melampaui Topeng dan Algoritma: Surakarta Merayu Gen Z dengan Banda Neira di Panggung Budaya Dunia

Melampaui Topeng dan Algoritma: Surakarta Merayu Gen Z dengan Banda Neira di Panggung Budaya Dunia

Gen Z di International Mask Festival (IMF) 2025

Wartalampung.id, Surakarta—Di tengah hiruk-pikuk konten digital dan fomo yang menguasai lini masa, sebuah festival budaya di jantung Jawa Tengah berupaya keras memecahkan dinding gaib antara tradisi dan generasi muda.

International Mask Festival (IMF) 2025 di Surakarta, yang digelar pada 14–15 November, bukan sekadar panggung pameran topeng tradisional dari 21 delegasi domestik dan mancanegara.

Di balik topeng-topeng misterius dari Korea Selatan, Malaysia, dan berbagai penjuru Indonesia, terselip strategi cerdas panitia: mengundang duo folk yang sempat bubar namun tak pernah pudar, Banda Neira, untuk menjadi magnet bagi Generasi Z.

Keputusan mendatangkan Banda Neira merupakan perpaduan unik antara diplomasi budaya dan pemahaman tren anak muda. Nama Banda Neira memang sudah tidak asing bagi anak muda.

Band yang resmi bubar pada 2016, hanya berselang empat tahun dari debut itu memiliki sejumlah hits yang sangat digemari. Lagu-lagu seperti “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti,” “Sampai Jadi Debu,” dan “Senja di Jakarta” terasa seperti sebuah buku harian. Sangat intim, jujur, dan puitis.

“Untuk tahun ini atas dukungan dari Dinas Pariwisata dan Olahraga Jawa Tengah, kami menghadirkan artis nasional untuk menarik anak muda untuk hadir. Mereka datang untuk melihat artis idolanya, tapi sebelumnya mereka akan melihat tarian-tarian topeng,” kata Founder IMF R.Ay. Irawati Kusumo Rastri.

Berdasarkan Google trends, pencarian dengan kata kunci “Banda Neira” di Jawa Tengah meningkat jelang pembukaan IMF 2025. Terdapat sembilan kota di provinsi ini yang paling trending, tertinggi Sukoharjo dan terendah Purbalingga.

Taktik ini terbukti jitu. Walau sempat molor, tidak menyurutkan semangat pengunjung IMF 2025 yang didominasi generasi muda. Bahkan mereka sudah memadati Pendaphi Gedhe Balaikota Surakarta sejak sore.

Pengunjung mulai berdatangan ke gedung berarsitektur tradisional Jawa yang megah berdiri tanpa dinding pembatas itu sejak pukul 16.00 wib. Padahal pintu masuk baru dibuka dua jam kemudian.

Sambil menunggu pintu masuk dibuka, mereka duduk di alun-alun yang tepat menghadap ke arah panggung utama. Sebagian lainnya memilih melihat bazaar umkm atau melihat instalasi topeng raksasa yang disebar di sejumlah titik di sekitar Pendaphi Gedhe Balaikota Surakarta.

Bagi sebagian besar Gen Z, mendengarkan Banda Neira—yang beranggotakan Ananda Badudu dan Sasha—bukanlah sekadar menikmati musik. Ini adalah ritual pelarian ke ruang intim yang tenang, jauh dari keriuhan media sosial yang menuntut validasi.

“Saya lihat di tiktok, mau ada Banda Neira di sini. Jadi saya ke sini,” kata Ani, salah satu pengunjung. Ani yang datang bersama beberapa temannya memang menggemari duet tersebut.

Antusiasme menyaksikan Banda Neira juga terlihat di dunia maya. Di platform X atau yang dulu terkenal dengan nama twitter, pada 13-15 November terdapat 56 postingan yang berkaitan dengan penampilan Banda Neira. Bahkan salah satunya mendapatkan 10 ribu engagement. Postingan didominasi oleh keinginan untuk menyaksikan penampilan grup musik tersebut.

Kerinduan anak muda menyaksikan Banda Neira terobati. Menjelang tampil, suasana di Pendaphi Gedhe Balaikota Surakarta semakin hangat. Suasana di dalam gedung yang padat, semakin sesak saat ratusan penonton merangsek hingga bawah panggung.  Selama hampir 30 menit, duo ini menghipnosis pengunjung. Penonton ikut larut bernyanyi.

“Ini sih bukan nonton Banda Neira tapi dengar Banda Neira,” kata Nanda, warga setempat yang ikut menonton. Suara penonton saat bernyanyi bersama sangat keras.  Meski tidak bisa mendengar suara Sasha dengan jelas, Nanda  tetap senang bisa datang ke acara itu.

Banda Neira di IMF 2025

Irfan, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini juga termasuk yang semangat untuk menonton Banda Neira. Selain bernyanyi, dia sibuk memotret grup itu dengan kamera yang dibawanya.

“Mereka sudah lama vakum, hampir delapan tahun dan baru setahun terakhir balik nyanyi lagi. Saya sudah tunggu mereka dari dulu,” kata pemuda berkacamata itu.

Meski menunggu cukup lama, Irfan tidak menyesal datang ke International Mask Festival 2025. Sebelum Banda Neira tampil, dia bisa menyaksikan penampilan seniman topeng dari dalam dan luar negeri.

“Saya juga tahu bakal ada pertunjukan topeng. Kan di medsos sudah diinformasikan siapa saja yang bakal tampil. Bagus semua tadi penampilannya,” katanya. Dia juga berharap acara ini akan rutin digelar setiap tahunnya.

Berkumpulnya anak muda merupakan kabar gembira bagi panitia. Karena di tangan mereka kelak, masa depan kesenian topeng baik tradisional maupun modern ditentukan.

“Harapan saya, mereka akan terbuka wawasannya dan mereka akan bangga dengan kepemilikan topeng nusantara ini. Harapannya merekalah nanti yang akan memegang estafet pelestarian topeng nusantara ini,” ujar Irawati.

Generasi muda memang memiliki peran penting dalam pelestarian kesenian topeng. Selain identitas budaya, topeng juga menjadi salah satu alat untuk mengajarkan budi pekerti ke generasi muda.

Tampil di urutan pertama IMF, komunitas Denata Ponorogo yang berkolaborasi dengan Sanggar Singayuda menampilkan kesenian reog. Usia rata-rata penarinya terbilang sangat muda, terkecil kelas 2 SD.

Di Sanggar Singayuda, pengajaran tidak hanya mencakup teknik tari, melainkan juga pembangunan karakter. Guru-guru berupaya mengenal dan memantau pergaulan pribadi para anak didik. Pelatih Sanggar Singayudha, Agung Setyono mengatakan jika hal yang pertama diajarkan kepada murid justru tentang berbahasa.

“Kunci pertama saat anak-anak bergabung adalah kami mengajarkan tata krama dalam berbahasa; dilarang keras mengucapkan kata-kata kotor,” tegas Agung.

Pembentukan karakter memang jadi perhatian utama. Hal ini sejalan dengan aturan kedua yang diterapkan dengan sangat ketat: larangan keras terlibat dalam konsumsi minuman keras (miras). Jika pelanggaran ini terjadi, sanggar menerapkan kebijakan tanpa kompromi: anak didik harus memilih untuk menghentikan kebiasaan mirasnya agar tetap bisa berlatih, atau dikeluarkan jika mereka memilih untuk melanjutkan kebiasaan tersebut.

Membina generasi muda memang menjadi perhatian utama pelaku seni saat ini. Sama seperti yang dilakukan Sanggar Denata.

“Komunitas kami memang fokus ke anak-anak. Kami berupaya, bagaimana agar generasi muda itu suka dan bangga dengan kebudayaannya sendiri,” ungkap Pimpinan Sanggar Denata, Ria Kusuma Wardana, di Balaikota Surakarta.

Bagi Ria Kusuma, pesatnya perkembangan dunia digital, termasuk kemunculan platform seperti Instagram, Facebook, dan YouTube, sama sekali bukan ancaman bagi tradisi luhur Reog. Sebaliknya, Ria justru melihat teknologi sebagai jembatan emas yang membuka peluang Sanggar Denata untuk dikenal baik nasional bahkan internasional.

Aktivitas pementasan mereka diunggah dan menyebar. Hasilnya pun nyata.

Sebelum tampil di Surakarta, anak-anak asuh Ria yang rata-rata masih bocah ini baru saja kembali dari pementasan di Thailand. Dan tak lama sebelum ke Thailand, mereka juga sempat memenuhi undangan istimewa dari Pemerintah Malaysia. Panggung-panggung internasional ini membuktikan daya tarik Reog Ponorogo, yang dibawakan oleh talenta-talenta cilik, mampu memukau publik luar negeri.

“Kalau untuk kawasan Asia Tenggara, kami masih mampulah, seperti Malaysia dan Tahailand, dan beberapa negara lainnya,” ujar Ria Kusuma sambil tersenyum.

Menurut Ria, minat anak-anak di Ponorogo terhadap seni tari memang tinggi. Umumnya, mereka tertarik pada tari kreasi. Namun, seiring waktu dan pengamatan yang cermat, banyak dari mereka yang memiliki bakat dan ketertarikan alami pada Reog.

Kedekatan ini, jelas Ria, tumbuh secara organik. Reog bukanlah barang asing bagi anak Ponorogo. Sejak kecil, mereka sudah akrab dengan kesenian ini. Hal ini didukung oleh adanya Topeng Dadak Merak yang dibuat dalam dua ukuran: versi besar untuk penari dewasa dan versi kecil yang memang didesain agar pas dikenakan oleh anak-anak.

Ria juga mengamati adanya efek domino positif ketika anak-anak tampil hingga ke luar kota atau luar negeri. Tampil di mancanegara membuat mereka menjadi buah bibir positif di tengah masyarakat dan pihak sekolah pun memberikan apresiasi tinggi kepada siswa yang berprestasi di bidang tari.

Orang tua penari cilik Komunitas Denata

Rasa bangga yang dirasakan anak-anak ini menjadi motivasi kuat. Mereka bukan hanya menari, tetapi juga membawa nama daerah, sekolah, bahkan negaranya. Dalam semangat inilah, Sanggar Denata tidak hanya melatih gerakan tari, tetapi juga mencetak Generasi Penjaga Warisan yang bangga dan berani membawa identitas budaya Indonesia ke panggung dunia.

Hal positif yang didapat anak-anak itu setelah belajar reog diakui oleh orang tua. Salah satu warga Ponorogo, Prapti sengaja mengikutkan anaknya, Abisaka Pramudya ke Komunitas Denata karena anaknya memang suka menari dan ingin melestarikan kesenian reog.

Datang bersama anggota keluarga penari lainnya, Prapti dengan sabar menunggu anaknya tampil sambil duduk beralaskan tikar di alun-alun. Dia bangga putranya tampil di International Mask Festival. Selain dapat menyalurkan hobi, kepribadian Abisaka juga berkembang.

“Saya senang sejak ikut sanggar, anaknya menjadi lebih mandiri dan lebih banyak bisa berteman,” katanya.

Keinginan melestarikan kesenian tradisional termasuk topeng juga dimiliki oleh Pemkot Surakarta.  Dalam wawancara terpisah di kantor Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto mengatakan jika event budaya seperti IMF 2025 berdampak positif bagi ekonomi daerah.

“Ekosistem event internasional di Surakarta sudah sangat baik. Dampak yang dirasakan langsung tentu sebagai pertumbuhan ekonomi di Surakarta dan pendapatan dan tingkat okupansi dari rekan-rekan dari hotel, dari restoran, hingga umkm sampai transportasi, pasti dirasakan masyarakat kota Solo dan sekitarnya,” kata

Dengan banyaknya manfaat event budaya, Pemkot Surakarta telah merancang program untuk setahun. Tidak hanya menggelar event budaya, pemkot juga menjadikan kesenian daerah sebagai muatan lokal untuk pelajar. Harapannya agar kesenian tradisional termasuk topeng dapat bertahan di era digital.

“Jadi ada road map dalam satu tahun. Ada kalender dan mandatory event yang tetap dijalankan. Kami juga tidak mengurangi anggaran (Dinas Pariwisata dan Olahraga). Kami juga ada sanggar di kelurahan dan ada muatan lokal di pelajar SD dan SMP. Jadi ada mandatory,”  ujarnya.

Tidak hanya itu, Pemkot Surakarta juga berencana berkoordinasi dengan Pura Mangkunegaran untuk melestarikan topeng. Pemkot bahkan menjajaki kemungkinan mengintervensi Pura Mangkunegaran agar dapat memamerkan koleksi topeng kuno mereka.

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda