Fiqih Athaya Gusmo dan Fatih Dzaky Multazam. | Anggi Dwi Raharti
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dua siswa SMP Islam Az-Zahra, Fiqih Athaya Gusmo dan Fatih Dzaky Multazam, melakukan penelitian terkait dengan pengembangan menu program makan bergizi gratis (MBG) dengan mengintegrasikan makanan tradisional sebagai strategi untuk meningkatkan minat makan para siswa dan pelestarian makanan tradisional.
Penelitian ini mendapatkan medali perunggu dalam ajang Indonesia Young Scientist and Inventors Award (InYSIA).
Fiqih Athaya Gusmo dan Fatih Dzaky Multazam mengembangkan ini karena terinspirasi dari fenomena di lapangan bahwa banyak siswa tidak menghabiskan MBG karena merasa kurang cocok dengan menu yang disajikan.
Mereka menganalisis efektivitas penerapan menu lokal sebagai alternatif sajian MBG, dan juga memberikan satu contoh menu tradisional Lampung.
Menu terdiri dari nasi singkong sebagai sumber karbohidrat, satu potong ikan pindang berbumbu kuning sebagai sumber protein, dua buah pisang muli sebagai sumber vitamin, serta satu gelas susu sapi sebagai sumber kalsium.
Komposisi menu dirancang untuk tetap memenuhi kebutuhan gizi namun tetap dekat dengan cita rasa lokal agar mudah diterima siswa maisng-masing daerah sebagai contoh di Lampung.
Dalam proses penyusunan menu, tim berkonsultasi dengan ahli gizi dan dosen dari Polinela untuk memastikan kecukupan gizi dan kelayakan penyajian.
Penelitian dilakukan di dua sekolah, yaitu SMA Negeri 1 dan SMA Negeri 12 Bandar Lampung, yang menjadi sekolah awal dari program penelitian ini.
Temuan awal menunjukkan bahwa siswa lebih mudah menerima menu berbasis pangan lokal karena rasa yang lebih familiar dibanding menu MBG modern.
Selain itu, penggunaan bahan makanan lokal dinilai lebih efisien karena lebih mudah diperoleh, lebih segar, serta berpotensi mendorong ekonomi UMKM pangan di daerah setempat.
Penelitian ini direncanakan akan melakukan uji di berbagai jenjang sekolah mulai dari TK hingga SMA, serta memperluas lokasi hingga ke daerah pedesaan untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh.
Mereka juga menargetkan untuk membuat sekitar 5-7 variasi menu tradisional agar dapat diujicobakan lebih lanjut sebelum diajukan secara formal kepada penyelenggara MBG.
Selain aspek gizi dan rasa, tim turut mempertimbangkan porsi dan tampilan makanan agar lebih menarik bagi siswa.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat menjadi pertimbangan dari program MBG sehingga mampu meningkatkan konsumsi siswa, memperkenalkan kekayaan kuliner daerah, sekaligus memastikan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan. [Anggi Dwi Raharti]

Tinggalkan Komentar Anda