Ilustrasi. | Dokumentasi

Gun Gun Nugraha (Statistisi Muda BPS Provinsi Lampung)
Menurut Sumber Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, total luas wilayah Indonesia adalah 5,19 juta km persegi. Luas daratan mencapai 1,92 juta km persegi dan luas lautan mencapai 3,27 juta km persegi.
Referensi lain menyebutkan, luas perairan Indonesia hampir tiga kali lipat luas daratannya. Kondisi ini menjelaskan bahwa Indonesia merupakan negara maritim dengan luas wilayah yang cukup besar.
Namun demikian, apakah potensi maritim Indonesia, terutama pada subsektor perikanan, sudah termanfaatkan secara optimal? Menurut data BPS, nilai PDB Subsektor Perikanan Indonesia pada tahun 2020 mencapai Rp254,11 triliun (gabungan perikanan tangkap dan budi daya).
Kontribusi subsektor perikanan terhadap perekonomian Indonesia mencapai 2,80%. Menurut beberapa ahli kelautan, nilai tambah subsektor perikanan masih sangat potensial untuk terus dioptimalkan. Salah satu indikatornya, tahun 2020 pertumbuhan subsektor perikanan masih bertahan positif di tengah pandemi Covid-19 dengan capaian 0,73%.
Jumlah penduduk Indonesia tahun 2020 mencapai seperempat milar lebih, tepatnya 271,62 juta jiwa. Dengan jumlah penduduk yang besar, ditambah hamparan maritim kita yang sangat potensial, semestinya konsumsi produk perikanan di Indonesia cukup menjanjikan.
Faktanya, berdasarkan Laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2011, konsumsi ikan per kapita Indonesia justru masih sangat rendah dibandingkan dengan konsumsi negara berkembang lainnya.
Menurut laporan tersebut, konsumsi ikan masyarakat Indonesia tahun 2011 hanya mencapai 32,25 kg per tahun atau sekitar 0,09 kg per hari. Sementara Malaysia, mencapai 55,40 kg per tahun. Kabar baiknya, pertumbuhan konsumsi ikan per kapita Indonesia mencapai 5,04% sedangkan Malaysia hanya mencapai 1,26% per tahun.
Besarnya pertumbuhan tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengonsumsi ikan semakin membaik.
Data 2020, dalam publikasi BPS, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia 2020, konsumsi per kapita ikan dan udang segar serta konsumsi per kapita ikan dan udang diawetkan sudah mencapai 38,42 kg per tahun atau sekitar 0,11 kg per hari.
Jika kita bandingkan dengan rekomendasi ideal konsumsi ikan per kapita menurut WHO, yaitu 32,70 kg per tahun atau setara dengan 12,89 gram protein per hari, maka sesungguhnya batasan minimal konsumsi ikan bagi masyarakat Indonesia sudah terpenuhi.
Dari sisi suplai, menurut Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, jumlah produksi ikan di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 23,13 juta ton. Jumlah tersebut gabungan antara produksi perikanan tangkap dan budi daya.
Produksi perikanan tangkap mencapai 7,36 juta ton (31,82%) dan produksi perikanan budidaya mencapai 15,77 juta ton (68,18%).
Angka total produksi tersebut jika dibandingkan dengan sisi kebutuhan konsumsi, produksi ikan di Indonesia sudah cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri sepenuhnya. Berlebihnya stok, dibuktikan dengan nilai ekspor komoditas ikan segar/dingin hasil tangkap yang mencapai 53,91 ribu ton atau 125,09 juta US$ pada tahun 2019. Belum lagi komoditas lain seperti kepiting, cumi-cumi, dan udang.
Kesejahteraan Nelayan
Sebuah studi menjelaskan bahwa jumlah kepala rumah tangga yang bekerja sebagai nelayan di Indonesia berkisar 2,00–2,50% dari jumlah total kepala rumah tangga dengan rata-rata anggota rumah (ART) berjumlah sekitar empat orang. Nelayan tinggal dan tersebar di 3.216 desa yang terkategori sebagai desa nelayan.
Menurut Imron, dalam Kemiskinan dalam Masyarakat Nelayan (2003), sebagian besar nelayan Indonesia hidup dalam kemiskinan. Mereka bermanifestasi dalam beberapa dimensi: ekonomi, budaya, sosial, dan politik. Determinan penyebab kemiskinan adalah keterbatasan alat tangkap yang jauh dari kata modern dan ketergantungan nelayan pada tengkulak (pedagang ikan).
Secara sosial, kehidupan nelayan identik dengan kemiskinan. Kondisi ini terutama dialami oleh buruh nelayan dan nelayan perorangan. Kemiskinan bukan hanya dalam lingkup keluarga saja melainkan juga dalam lingkup desa yang terwujud dalam bentuk kemiskinan prasarana. Padahal jika kita hubungkan antara potensi maritim yang melimpah, pertumbuhan konsumsi ikan di masyarakat yang kian naik, semestinya tingkat kemakmuran nelayan kita saat ini harus sudah semakin membaik.
Program intervensi pemerintah dalam upaya menyejahterakan nelayan yang selama ini sudah berjalan harus terus dipertajam dan dipercepat. Salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan mereka adalah dengan mengembangkan kapasitas alat tangkap seperti bantuan perahu, jaring, keramba, dan sebagainya yang lebih modern.
Upaya pemerintah dalam menjaga nilai tukar nelayan (NTN) sudah cukup baik. Jika kita lihat kondisi Desember 2020, NTN mencapai 101,72 (2018 = 100). Artinya, nilai yang diterima nelayan lebih tinggi dibanding nilai yang dibayar. Demikian halnya dengan nilai tukar usaha nelayan (NTUN) yang berada pada nilai 102,90.
Ketergantungan nelayan pada tengkulak juga harus diminimalisasi pemerintah untuk mengembangkan posisi tawar nelayan seperti kemudahan paket kredit usaha perikanan. Ketergantungan pada tengkulak merupakan permasalahan lain yang dihadapi oleh nelayan. Akibatnya posisi tawar yang dimiliki oleh nelayan sangat rendah, sehingga hasil tangkapan yang dijual oleh nelayan juga dihargai lebih rendah daripada harga pasar.
Dengan demikian pendapatan yang diterima oleh nelayan juga rendah. Walaupun di beberapa tempat sudah ada TPI sehingga diharapkan dapat mengatrol harga ikan, dalam praktiknya keberadaan TPI malahan menjadi beban nelayan karena pungutan retribusi termasuk ketika lelang tidak berjalan.
Di samping itu, patroli untuk mengusir para nelayan pencuri di perairan Indonesia juga harus terus diintensifkan agar produksi ikan kita tidak terganggu. Termasuk penghancuran kapal-kapal asing pencuri ikan agar dapat memberikan efek jera.
Kita berharap semoga upaya-upaya tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan para nelayan Indonesia. Sejarah pernah membuktikan bahwa nenek moyang kita adalah pelaut tangguh. Selamat Hari Nelayan, 6 April 2021. Sejahteralah nelayan Indonesia! []
